SRIPOKU.COM, MARTAPURA– Musim kemarau yang mulai melanda Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan agar tanaman padi tidak mengalami kekeringan.
Di sejumlah wilayah yang belum terjangkau jaringan irigasi, petani kini mengandalkan mesin pompa untuk menyedot air dari sungai sebagai sumber pengairan sawah.
Langkah itu menjadi satu-satunya cara untuk menjaga tanaman tetap memperoleh pasokan air di tengah debit sungai yang terus menyusut.
Kondisi tersebut dirasakan Dwientoro, petani asal Desa Karang Binangun BK 12, Kecamatan Belitang Madang Raya, Kabupaten OKU Timur.
Ia mengatakan sawah milik keluarganya mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan. Permukaan tanah di beberapa titik telah pecah dan retak akibat genangan air yang semakin berkurang.
"Tanah sawah sudah mulai retak-retak. Air di lahan tidak lagi mencukupi sehingga kami harus menyedot air dari Sungai Gandis menggunakan pompa," ujar Dwientoro kepada jurnalis Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, setiap kali melakukan penyedotan air, keluarganya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp100 ribu hanya untuk membeli bahan bakar mesin pompa.
Dalam sekali operasi, mesin menghabiskan sekitar enam hingga tujuh liter Pertamax.
Dwientoro menjelaskan, penggunaan Pertamax dipilih karena Pertalite cukup sulit diperoleh di wilayahnya. Sementara jika membeli Pertalite secara eceran, harganya sudah mencapai sekitar Rp14 ribu hingga Rp14.500 per liter sehingga selisihnya dengan Pertamax tidak terlalu jauh.
"Sedangkan apabila membeli secara eceran harganya sudah mencapai sekitar Rp14 ribu hingga Rp14.500 per liter sehingga selisihnya tidak lagi terlalu jauh," katanya.
Meski harus mengeluarkan biaya tambahan, air yang berhasil dipompa belum mampu mengairi seluruh lahan secara optimal.
Debit Sungai Gandis yang terus menurun membuat proses penyedotan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan saat kondisi air normal.
"Itu pun airnya belum terlalu maksimal. Mau tidak mau tetap harus disedot supaya padi tidak kekurangan air," ungkapnya.
Dwientoro mengatakan, pada musim kemarau seperti sekarang, fokus utama petani bukan lagi mengejar hasil panen yang tinggi, melainkan memastikan tanaman tetap bertahan hingga memasuki fase pengisian bulir.
Setiap kali permukaan sawah mulai mengering dan retak, keluarganya segera menghidupkan mesin pompa agar kelembapan tanah tetap terjaga.
Menurutnya, biaya tambahan tersebut masih lebih ringan dibandingkan risiko gagal panen akibat kekurangan air.
"Kalau tidak disiram, tanaman bisa stres, pertumbuhannya terhambat, bahkan bisa gagal panen. Jadi meskipun harus keluar biaya tambahan, kami tetap berusaha menyelamatkan tanaman," tuturnya.
Ia memperkirakan penyedotan air masih harus dilakukan sekitar satu kali setiap pekan hingga padi mulai berisi dan menguning atau sekitar satu setengah hingga dua bulan ke depan.
Dengan pola tersebut, diperkirakan penyedotan dilakukan sekitar delapan kali sampai masa panen.
Jika biaya setiap kali penyedotan mencapai Rp100 ribu, maka total pengeluaran untuk bahan bakar mesin pompa saja bisa mencapai sekitar Rp800 ribu.
Namun jika dihitung berdasarkan konsumsi bahan bakar, kebutuhan Pertamax diperkirakan mencapai 48 hingga 56 liter selama dua bulan.
Dengan harga Pertamax sekitar Rp16.650 per liter, biaya yang harus dikeluarkan berkisar antara Rp799.200 hingga Rp932.400 atau nyaris menyentuh Rp1 juta.
"Artinya, hanya untuk menjaga sawah tetap mendapatkan pasokan air selama musim kemarau, kami berpotensi mengeluarkan hampir Rp1 juta di luar biaya produksi lainnya seperti benih, pupuk, pestisida, dan ongkos tenaga kerja," jelasnya.
Dwientoro berharap musim kemarau tidak berlangsung lebih lama dari perkiraan. Sebab apabila curah hujan terus menurun dan debit Sungai Gandis semakin kecil, biaya operasional dipastikan akan terus meningkat karena mesin pompa harus bekerja lebih lama untuk mendapatkan volume air yang sama.
Ia juga mengkhawatirkan petani yang berada jauh dari jaringan irigasi akan menjadi kelompok paling terdampak apabila musim kemarau berkepanjangan.
Menurutnya, ketersediaan air pada fase pengisian bulir menjadi faktor penting yang menentukan produktivitas padi. Keterlambatan pasokan air berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan.
"Kami hanya berharap hujan segera turun dan air sungai tidak terus menyusut. Kalau air semakin sedikit, biaya makin besar, sementara hasil panen belum tentu bisa menutupi tambahan pengeluaran itu," pungkasnya.