Harga Ayam di Bandar Lampung Naik Menjelang Penerapan HET Pemerintah
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 11, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Salah seorang pedagang ayam di Pasar Modern Raden Inten, Bandar Lampung, Sapto mengatakan harga ayam hidup yang diterimanya dari pemasok mengalami kenaikan hari ini, Sabtu (11/7/2026). 

Baca juga: Pedagang Ayam di Bandar Lampung Tetap Ikuti Harga Distributor meskipun Ada HET

Jika sebelumnya harga berada di kisaran Rp22.000 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp24.000 per kilogram.

"Per hari ini naik menjadi sekitar Rp24.000 per kilogram. Sebelumnya masih sekitar Rp22.000. Penyebab pastinya saya kurang tahu, mungkin karena permintaan setelah beberapa waktu harga turun," ujar Sapto saat ditemui di lapaknya, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Sapto, ayam yang dijual di lapaknya umumnya memiliki bobot hampir dua kilogram per ekor. Ia menjual ayam secara ekoran, bukan berdasarkan kilogram. Untuk ayam hidup, harga jual saat ini berada di kisaran Rp50.000 per ekor dengan berat hampir dua kilogram.

Meski harga dari pemasok meningkat, Sapto mengaku keuntungan yang diperoleh pedagang tidak terlalu besar. Ia juga menyebut kondisi pasar saat ini belum seramai biasanya.

"Kalau harga dari pemasok naik, otomatis kami juga menaikkan harga, walaupun kami juga sulit mengambil untung besar," katanya.

Tentang menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Kementerian Pertanian untuk komoditas ayam ras hidup sebesar Rp19.500 per kilogram pada 15 Juli mendatang Sapto menyambut baik kabar tersebut.

Menurutnya, kebijakan tersebut diharapkan dapat membuat harga ayam lebih terkendali sehingga pedagang maupun konsumen sama-sama diuntungkan.

"Kalau memang HET tersebut bisa membuat harga kembali normal, tentu kami mendukung. Yang penting harga stabil supaya jualannya juga lebih mudah," ungkap pria paruh baya tersebut sambil memotong ayam.

Hal senada disampaikan pedagang ayam lainnya, Ibu Ujang, yang juga berjualan di Pasar Modern Raden Inten. 

Ia mengatakan harga ayam hidup yang sebelumnya berada di kisaran Rp22.100 per kilogram kini melonjak menjadi sekitar Rp25.500 per kilogram.

"Naiknya sekitar Rp3.000 per kilogram dalam sehari. Modal kami jadi ikut tinggi," ungkapnya.

Menurut Ibu Ujang, untuk ayam yang sudah dipotong dan dibersihkan, modalnya mencapai sekitar Rp27.000 per kilogram. 

Sehingga ia menjual kepada konsumen dengan harga sekitar Rp30.000 hingga Rp32.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kondisi ayam.

Ia menilai penerapan HET dapat membantu pedagang eceran apabila harga dari tingkat pemasok ikut terkendali. 

Namun, keuntungan pedagang diperkirakan tetap akan menipis karena tingginya harga modal.

"Kalau harga dari pemasok bisa turun tentu bagus. Kami bisa membantu konsumen dengan harga yang lebih terjangkau. Tapi kalau modal masih tinggi, keuntungan pedagang juga tetap berkurang," ujarnya.

“Baiknya kalau ada HET Rp19.500 broker jual ke kami harga Rp17.000 atau lebih murah agar kami juga dapat untung,” tambahnya.

Untuk stok pasokan ayam, Bu Ujang mengatakan stok masih aman. Namun penjualan mulai menurun karena banyak masyarakat yang sedang berhemat dan memilih membeli kebutuhan lainnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.