Warga China Ngaku Dititipi Kopi Ternyata Isinya Narkotika, Ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta
Hasanudin Aco July 11, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menggagalkan penyelundupan narkotika jenis psikotropika jaringan Malaysia–Jakarta yang dilakukan dua warga negara (WN) China di Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso mengungkap dua kurir yang diamankan masing-masing berinisial ZL (20) dan ZS (30), keduanya merupakan warga negara China.

"Petugas mengamankan dua orang WN China yang diduga berperan sebagai kurir serta menyita barang bukti psikotropika dengan berat bruto mencapai 3.370,17 gram," kata Eko kepada wartawan Sabtu (11/7/2026).

Pengungkapan bermula dari informasi intelijen Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta mengenai adanya rencana penyelundupan psikotropika dari Malaysia ke Indonesia.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim 2 Satgas NIC Dittipidnarkoba Bareskrim Polri yang dipimpin Kombes Pol Kevin Leleury melakukan penyelidikan dan pemantauan di Terminal 3 Kedatangan Internasional.

Pada Kamis (9/7/2026) sekitar pukul 22.30 WIB, petugas mencurigai dua pria Warga Negara (WN) China yang baru tiba dari Kuala Lumpur.

Saat diperiksa terhadap barang bawaan keduanya, petugas menemukan bubuk berwarna oranye yang diduga mengandung psikotropika.

Barang haram itu disamarkan dalam berbagai kemasan produk makanan dan minuman, mulai dari kopi putih, kopi black seeds, minuman digest powder hingga kemasan susu.

Selain menyita ribuan gram psikotropika, petugas juga mengamankan tiga unit telepon genggam, dua paspor, serta boarding pass penerbangan Kuala Lumpur-Jakarta milik kedua tersangka.

Kurir direkrut lewat telegram

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, ZL mengaku direkrut seseorang bernama Yining melalui aplikasi Telegram.

ZL mengaku dijanjikan upah sebesar 500 dolar Amerika Serikat untuk membawa paket tersebut ke Indonesia dan telah menerima uang muka sebesar 200 dolar AS saat berada di Kamboja.

"Tersangka ZL mengaku sempat tinggal di Kamboja, kemudian Malaysia, kembali ke Tiongkok, lalu berangkat lagi ke Malaysia sebelum diterbangkan ke Indonesia.

Di Malaysia, ia mengambil paket yang disimpan di sebuah lokasi sebelum akhirnya membawa barang tersebut ke Indonesia.

Menurut pengakuannya, sebelum tiba di Indonesia, pengendali telah mengirimkan foto dirinya dan rekannya kepada pihak penjemput di Bandara Soekarno-Hatta disertai kode pengenal "VIP 8888".

Sementara itu, ZS mengaku hanya diajak berlibur ke Indonesia oleh ZL dan tidak mengetahui isi barang yang dibawanya.

Ia mengira paket tersebut hanya berisi kopi atau minuman kemasan biasa sehingga bersedia memasukkan barang itu ke dalam kopernya.

Penyidik saat ini masih melakukan pengembangan untuk mengungkap pihak yang memerintahkan kedua kurir tersebut.

Termasuk mengungkap jaringan peredaran dan aliran dana, serta melengkapi proses penyidikan hingga rekonstruksi perkara.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.