TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Raden Intan Lampung (UIN RIL) gelar penyuluhan bertema Gizi Seimbang Cegah Diabetes Melitus dan Hipertensi bagi Keluarga Akademisi UIN Raden Intan Lampung.
Penyuluhan menghadirkan narasumber Andi Kamaliah Azir, SKM., M.Kes., ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek Provinsi Lampung.
Kegiatan dibuka Ketua DWP UIN RIL Maftuchah Wan Jamaluddin yang diwakili Rahmawati Andi Thahir.
Rahmawati mengapresiasi Bidang Sosial Budaya DWP UIN RIL yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Ia menyampaikan, penyuluhan ini merupakan bagian dari komitmen DWP UIN RIL dalam meningkatkan kualitas anggotanya, khususnya dalam menjaga pemenuhan gizi seimbang di lingkungan keluarga.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menambah wawasan mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat.
Andi Kamaliah Azir menjelaskan, konsep Empat Sehat Lima Sempurna sudah tidak lagi digunakan sebagai pedoman gizi.
Menurutnya, anggapan bahwa susu merupakan penyempurna makanan dapat menimbulkan pemahaman yang kurang tepat, seolah-olah konsumsi susu menjadi keharusan untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Padahal, kebutuhan zat gizi dapat dipenuhi tanpa susu, terutama bagi individu yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi susu.
Selain itu, konsep tersebut juga dinilai belum memberikan perhatian yang cukup terhadap pentingnya asupan serat dari sayur, buah, dan biji-bijian utuh yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan serta menurunkan risiko penyakit kronis.
“Gizi seimbang merupakan susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Penerapan gizi seimbang penting untuk mencegah masalah gizi, menjaga daya tahan tubuh, serta mendukung produktivitas,” jelasnya di Ruang Meeting Lantai 1 Gedung Academic & Research Center UIN RIL, Kamis (9/7/2026).
Wanita asal Suku Bugis itu juga menyampaikan faktor risiko yang menyebabkan kalangan akademisi rentan mengalami penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes melitus (DM) dan hipertensi.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh gaya hidup yang kurang aktif, tingkat stres, jam makan yang tidak teratur, serta kebiasaan mengonsumsi berbagai jenis camilan.
Ia mengingatkan pentingnya mengikuti panduan Kementerian Kesehatan mengenai pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), yakni gula maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari, garam maksimal 1 sendok teh atau 5 gram per hari, serta lemak maksimal 5 sendok makan atau 67 gram per hari.
Selain itu, peserta juga diingatkan untuk lebih cermat memperhatikan kandungan gula tersembunyi pada berbagai produk makanan dan minuman kemasan.
Ia juga menekankan pentingnya aktivitas fisik dalam menjaga kesehatan. Menurutnya, penerapan gizi seimbang perlu diiringi dengan kebiasaan bergerak dan tetap aktif sebagai upaya mencegah berbagai penyakit, termasuk diabetes melitus dan hipertensi.
"Tak lupa mengingatkan pentingnya melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin. “PTM tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dicegah,” tandasnnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)