TRIBUN-TIMUR.COM, BARRU - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar memicu antrean panjang kendaraan roda enam ke atas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kajuara, Desa Lempang, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru.
SPBU Kajuara berada di jalan poros Pekka-Soppeng.
Jarak lampu merah Pekkae ke SPBU Kajuara 3 Kilometer (km).
Nomor SPBU Kajuara adalah 74.907.01.
Nomor SPBU berfungsi sebagai identifikasi unik yang menunjukkan wilayah operasional, status kepemilikan, lokasi spesifik, dan nomor urut registrasi stasiun pengisian tersebut.
Digit pertama menunjukkan kode wilayah operasional Pertamina.
Digit pertama dengan angka 3 untuk wilayah Jawa Barat, DKI, Banten, dan 7 untuk wilayah Sulawesi.
Digit kedua menunjukkan kepemilikan dan pengelolaan.
Baca juga: Antrean BBM Mengular di SPBU Makale, Pengendara Menunggu Sejak Pukul 04.00 Wita
Jika digit kedua adalah angka 1, maka artinya Corporate Owner Corporate Operate (COCO) yang dimiliki dan dikelola langsung oleh Pertamina.
Jika digit kedua adalah angka 3, maka artinya Corporate Owner Dealer Operate (CODO) yang dimiliki Pertamina namun dikelola oleh pihak swasta.
Jika digit kedua adalah angka 4, maka artinya Dealer Owner Dealer Operate (DODO) yang sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh pihak swasta.
Digit kedua dengan angka 4 pada nomor SPBU Kajuara artinya sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh pihak swasta.
Di samping kanan dan kiri SPBU Kajuara adalah sawah.
Sementara di belakangnya adalah gunung.
SPBU Kajuara memiliki empat gazebo.
Ketika sedang menunggu antrian, gazebo ini dimanfaatkan oleh pengendara untuk beristirahat, termasuk para supir truk.
Antrian truk itu meluber hingga ke bahu jalan akibat stok Solar di SPBU Kajuara habis.
Di bagian depan SPBU tertulis “HABIS SOLAR”.
Tidak hanya Solar, pasokan BBM jenis Pertalite juga kosong, meski tidak sampai menimbulkan antrian bagi kendaraan roda dua atau mobil pribadi pengguna Pertalite.
Kendaraan yang mendominasi antrean panjang ini didominasi oleh kendaraan berat, mulai dari truk tongkang roda 10, truk roda enam, truk pengangkut excavator, hingga truk bermuatan material seperti bata ringan dan besi bangunan.
Ada juga satu mobil pribadi bermesin diesel seperti Isuzu Panther yang ikut mengantre.
Dampak kelangkaan ini dirasakan langsung oleh para supir logistik yang harus tertahan hingga belasan jam.
Salah satunya adalah Salama (41), seorang sopir truk yang memuat besi bangunan dari Makassar menuju Kabupaten Soppeng.
Salama mengaku sudah antri di dalam area SPBU Kajuara sejak Jumat malam demi mendapatkan Solar.
“Jam 10 malam saya sudah di sini," ujar Salama kepada reporter Tribun-Timur.com, Sabtu (11/7/2026) siang.
Kondisi ini terpaksa membuat para sopir merogoh kocek lebih dalam.
Salama mengeluhkan biaya operasional perjalanannya yang membengkak karena harus membeli jatah makan ekstra selama tertahan di SPBU.
Ia pun berharap agar pasokan Solar bisa segera kembali normal dan didistribusikan dengan cepat.
Nasib serupa juga dialami oleh Kahar (45).
Bedanya, ia terpaksa memarkirkan truknya di bahu jalan luar area SPBU karena bagian dalam sudah penuh.
"Saya antri dari jam 11 siang tadi," kata Kahar.
Hingga pukul 17.00 Wita para sopir belum dapat solar.
Jika dihitung, Salama setidaknya telah mengantri selama hampir 19 jam.(*)