TRIBUNSUMSEL.COM -- Konflik pasca-perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah kini memasuki babak baru yang kian memanas.
Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, secara mengejutkan membongkar masa lalu pernikahan kliennya dengan menyebut Ruben telah lama memendam rasa lelah akibat perlakuan dan ucapan kasar Sarwendah sejak awal membina rumah tangga.
Bukan hanya itu, Minola secara gamblang menguak curhat Ruben yang merasa tidak dihargai sebagai suami lantaran sering mendapat hinaan di depan anak-anak.
Padahal presenter 42 tahun itu mati-matian menjaga citra keluarganya agar tetap terlihat harmonis di mata publik.
Tidak heran akhirnya ia lelah dengan memutuskan bercerai dari Sarwendah pada 24 September 2024 silam.
“Kalau misalnya kemudian dia sampai lelah, bisa kita bayangkan. Masyarakat yang baru tahu beberapa waktu ini aja sudah tahu bagaimana lelahnya Ruben dipojokkan, dikecilkan, tidak dihargai.”
“Kalau misalnya itu terjadi di awal-awal perkawinan, bagaimana Ruben mencoba untuk menjadikan keluarga ini keluarga yang harmonis.”
“Semuanya coba ingin di-framing menjadi sesuatu yang baik, tapi ternyata berimbas ke suatu hal yang melecehkan dan tidak menghargai di ruang tertutup, di ruang publik ya sudah pasti lelah lah ya. Sudah pasti lelah,” kata Minola di YouTube Intens Investigasi pada Rabu (8/7/2026).
Minola menyinggung soal hinaan ‘c*ng’ yang kerap dilontarkan pihak Sarwendah dalam live di media sosial. Pengacara ini menduga Sarwendah sudah terbiasa mengucapkannya di ruang tertutup, sehingga sekarang bocor ke publik.“Sesuatu yang di ruang tertutup pun sering diucapkan ya c*ng c*ng tadi itu ya. Akhirnya ini juga diucapkan tanpa sadar, reflek karena sudah kebiasaan mungkin, di ruang publik,” tuturnya.
Oleh karenanya, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang mengingatkan bahayanya efek domino yang disebabkan perlakuan Sarwendah tersebut, khususnya kepada anak-anaknya.
Bukan tidak mungkin, kedua anak Ruben Onsu yang kini berada di bawah asuhan Sarwendah lama-lama canggung dan enggan untuk berhubungan dengan sang ayah.
“Ini yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Karena ketika ini sudah menjadi konsumsi publik, ini pasti akan memberikan efek. Efeknya itu apa? Mungkin rasa malu kepada sang anak bahwa ayahnya c*ng."
“Jadi kalau misalnya kemudian ada keengganan bertemu, ada rasa malu, ada rasa canggung, ya ini pasti patut diduga karena didasari pernyataan-pernyataan yang tidak seharusnya didengar oleh anak-anak,” ujar Minola Sebayang. (*)