Kronologi Penjual Tempe di Probolinggo Nangis Usai Motor dan Dagangannya Diembat Begal
Putra Dewangga Candra Seta July 11, 2026 10:32 PM

 

SURYA.co.id, PROBOLINGGO – Seorang pedagang tempe di Kota Probolinggo, Jawa Timur, harus menahan tangis setelah menjadi korban pembegalan saat hendak mencari nafkah pada Kamis (9/7/2026) pagi.

Selain mengalami luka akibat sabetan senjata tajam, korban juga kehilangan sepeda motor yang digunakan untuk berdagang beserta seluruh dagangan tempenya.

Videonya duduk di aspal sambil menangisi nasib yang menimpanya viral di media sosial.

Peristiwa ini kembali menambah daftar kasus pembegalan di wilayah Probolinggo.

Aksi pelaku terjadi ketika suasana jalan masih sepi sehingga korban kesulitan memperoleh pertolongan dari warga.

Korban diketahui bernama Shofiudin (27), warga Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.

Ia menjadi korban pembegalan sekitar pukul 05.45 WIB di Jalan Raya Mastrip, tepatnya di kawasan kompleks pemakaman Tionghoa, Kecamatan Wonoasih.

Berangkat Mencari Nafkah

Pagi itu Shofiudin berangkat dari rumahnya untuk berjualan tempe ke Pasar Bantaran.

Dagangan tempe miliknya disimpan di dalam boks berwarna hijau yang dipasang pada sepeda motor.

Sebelum menuju lokasi kejadian, korban sempat berhenti di Pasar Krempyeng Jrebeng.

Setelah melanjutkan perjalanan, ia tidak menyadari bahwa dirinya diduga sudah dibuntuti oleh para pelaku.

"Korban pedagang tempe. Saat itu berangkat dari rumahnya di Kelurahan Sumbertaman menuju Pasar Bantaran. Sebelum ke lokasi kejadian, korban sempat berhenti di Pasar Krempyeng Jrebeng," kata Kapolsek Wonoasih, Kompol Lukman Hadi.

Korban Baru Curiga Saat Melintas di Jalan Raya Mastrip

Menurut Kompol Lukman Hadi, korban mulai merasa ada kendaraan yang mengikuti ketika melintas di kawasan ruang terbuka hijau (RTH) menuju jembatan di Jalan Raya Mastrip.

Namun saat itu situasi jalan masih relatif lengang sehingga korban terus melanjutkan perjalanan.

Kecurigaannya berubah menjadi kenyataan ketika para pelaku langsung memepet sepeda motornya.

"Awalnya korban belum merasa dibuntuti. Baru setelah melintas di kawasan RTH, korban mulai merasa ada yang mengikuti. Saat sampai di jembatan, korban langsung dipepet," ujar Kompol Lukman.

Setelah berhasil memepet korban, salah seorang pelaku langsung menarik kunci kontak sepeda motor hingga kendaraan berhenti mendadak.

Tak berhenti di situ, pelaku kemudian menyerang korban menggunakan senjata tajam sebanyak dua kali.

"Setelah dipepet, kunci motor korban langsung ditarik. Korban kemudian dibacok. Bacokan pertama mengenai helm, bacokan kedua mengarah ke wajah," ungkap Kompol Lukman.

Beruntung korban mengenakan helm sehingga sabetan pertama tidak langsung mengenai kepala. Meski demikian, helm yang dipakai korban dilaporkan pecah akibat kerasnya bacokan.

"Beruntung korban memakai helm sehingga sabetan tidak mengenai kepala secara langsung, meski helmnya pecah," imbuhnya.

Motor, Dagangan Tempe, dan Handphone Ikut Hilang

Polisi mengungkapkan aksi pembegalan tersebut dilakukan oleh empat pelaku yang berboncengan menggunakan dua sepeda motor.

Saat penyerangan berlangsung, telepon genggam milik korban yang disimpan di dalam helm sempat terjatuh ke jalan.

Namun setelah kondisi mulai aman, handphone tersebut sudah tidak ditemukan.

"Handphone korban yang disimpan di helm sempat jatuh saat terjadi pembacokan. Namun setelah kejadian, handphone itu sudah tidak ditemukan," jelas Kompol Lukman.

Para pelaku kemudian membawa kabur sepeda motor korban yang selama ini digunakan untuk berdagang, termasuk seluruh dagangan tempe yang berada di atas kendaraan.

Karena kondisi jalan masih sepi pada pagi hari, korban baru memperoleh bantuan setelah beberapa waktu.

Ia kemudian dievakuasi ke Puskesmas Wonoasih untuk mendapatkan perawatan medis sebelum melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Wonoasih.

"Sepeda motor yang digunakan untuk berdagang berhasil dibawa pelaku bersama dagangan tempenya. Saat ini kasusnya masih dalam penyelidikan," pungkas Kompol Lukman.

Polisi Masih Memburu Pelaku Pembegalan

Hingga kini kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi dan memburu empat pelaku pembegalan tersebut.

Polisi juga mengumpulkan keterangan saksi serta menelusuri kemungkinan adanya rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi kejadian.

Kasus ini menjadi perhatian karena korbannya merupakan pedagang kecil yang sedang berangkat mencari nafkah pada pagi hari.

Kasus pembegalan yang menimpa pedagang tempe ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan tidak lagi memilih korban berdasarkan nilai barang yang dibawa, melainkan memanfaatkan kondisi jalan yang sepi dan minim pengawasan.

Hilangnya kendaraan sekaligus alat untuk mencari nafkah membuat dampak ekonomi yang dialami korban jauh lebih besar dibanding sekadar kehilangan harta benda. Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya peningkatan patroli pada jam-jam rawan, terutama di jalur yang kerap dilalui pedagang menuju pasar pada dini hingga pagi hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.