TRIBUNWOW.COM - Sri Astuti terkejut ketika lahan pribadinya diduga berubah menjadi area tambang viral di kalangan masyarakat.
Sri Astuti menyebut bahwa lahannya yang berada di Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora, kini mendadak berubah drastis.
Tanah seluas 3.570 meter persegi yang dibelinya sejak 1999 itu kini dalam kondisi rata, padahal sebelumnya berupa bukit yang dipenuhi pohon jati.
Perubahan tersebut baru diketahui saat Sri Astuti berencana melakukan pengukuran ulang sebagai bagian dari proses balik nama sertifikat tanah.
Namun, proses tersebut tidak dapat dilanjutkan karena patok-patok batas lahan sudah tidak lagi ditemukan.
Dikutip oleh Tribunwow.com dari TribunJateng.com pada Sabtu (11/7/2026), tanah tersebut dulunya merupakan sebuah bukit.
"Dulu itu masih gunung (bukit). Saya tahunya waktu mau ukur ulang untuk balik nama. Ternyata sudah digali semua," ujar Sri Astuti.
Ia menjelaskan, hilangnya patok membuat petugas kesulitan melakukan pengukuran ulang.
"Patoknya sudah enggak ada. Mau ukur ulang juga enggak bisa karena patoknya hilang," katanya.
Baca juga: Viral Aksi Pengemudi Calya Diduga Ngamuk di Sunter, Pelaku Rusak Spion hingga Wiper Mobil Korban
Sri Astuti mengungkapkan, sekitar tiga tahun lalu lahannya sempat diminati seseorang yang berasal dari Desa Keser.
Dikutip Tribunwow.com melalui Kompas.com pada Sabtu (11/7/2026), penawaran pertama disebut menggunakan hitungan Rp20.000 per rit, kemudian meningkat menjadi Rp60.000 per meter.
Namun, ia bersama suaminya memutuskan menolak tawaran tersebut karena tanah itu dipertahankan sebagai investasi keluarga.
"Yang mau beli orang dari Desa Keser. Awalnya ditawar Rp20.000 per rit, lalu tawaran yang kedua mau dibeli Rp60.000 per meter.
Tapi saya dan suami tidak mau menjual karena untuk investasi," ungkapnya.
Beberapa waktu setelah menolak penawaran tersebut, Sri Astuti baru mengetahui kondisi lahannya telah berubah drastis.
Baca juga: Viral Korban Kecelakaan Dimintai Uang di Denpasar, Polisi Beri Penjelasan, Ini Faktanya
Saat terakhir mendatangi lokasi pada 7 Mei 2026, seluruh area disebut sudah rata dan pohon-pohon jati yang sebelumnya tumbuh di atas lahan tersebut telah hilang.
"Jatinya sudah habis semuanya. Siapa yang menebang saya enggak tahu," ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui berapa jumlah pohon jati yang sebelumnya berada di lahan tersebut.
Selain pepohonan yang lenyap, seluruh bidang tanah juga diduga terdampak aktivitas penggalian yang mengubah kontur bukit menjadi lahan datar.
Sri Astuti mengaku mengalami kerugian material akibat perubahan kondisi tanah tersebut.
Ia pun menegaskan akan menempuh jalur hukum apabila tidak ada pihak yang bersedia bertanggung jawab atas dugaan kerusakan lahan miliknya.
"Kalau dari sana diam saja, saya tetap melanjutkan ke proses hukum. Saya minta pertanggungjawaban," tegasnya.
(TribunWow.com/Peserta Magang Universitas Sebelas Maret/Meyra)