Warga Desa Bontotallasa Maros Makin Mudah Melintas, Jembatan Haji Bohari Masuk Tender Rp3M
Ari Maryadi July 12, 2026 03:22 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Pembangunan Jembatan Haji Bohari di Dusun Pakere, Desa Bontotallasa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan memasuki proses tender.

Tahapan tender proyek dimulai dari persiapan dokumen dan pengumuman oleh pihak pemilik proyek (owner).

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan lelang, pemasukan penawaran, evaluasi administrasi dan teknis, negosiasi harga, penetapan pemenang, hingga penandatanganan kontrak.

Jembatan Haji Bohari ini terletak sekitar 3,5 Km dari pusat kota Kabupaten Maros.

Jembatan Haji Bohari merupakan akses penting yang menghubungkan Desa Tanete dan Desa Bontotallasa. 

Akibat robohnya jembatan ini, November 2025 lalu, masyarakat dari Desa Tanete harus memutar melintasi jalur lain untuk ke pusat kota Kabupaten.

Salah satunya di poros Bantimurung dengan jarak Hampir 7 Km dari pusat kota.

Ada juga alternatif lain melintasi wilayah Ammarang, Kecamatan Tanralili, dengan jarak 9 Km.

Bupati Maros, Chaidir Syam menyebutkan pihaknya telah sejumlah administrasi termasuk pembebasan lahan warga yang terdampak proyek ini.

Lahan yang berada di ujung jembatan diketahui masih berstatus milik masyarakat sehingga harus melalui mekanisme hibah.

"Administrasi dana hibah dari masyarakat itu alhamdulillah sudah selesai, dan saat ini sudah akan memulai proses tendernya," bebernya.

Selain persoalan administrasi, pemerintah juga harus menyesuaikan kembali Rencana Anggaran Biaya (RAB) akibat kenaikan harga material konstruksi.

Meski demikian, Chaidir memastikan nilai anggaran proyek tidak berubah dan tetap sebesar Rp3 miliar.

“Tidak ada perubahan nilai anggaran. Tetap Rp3 miliar,” katanya.

Mantan Ketua DPRD Maros itu menjelaskan, penyesuaian hanya dilakukan pada aspek teknis pekerjaan seperti volume konstruksi maupun komponen yang dinilai perlu dievaluasi tanpa mengurangi kualitas bangunan.

Chaidir menargetkan proses tender dapat segera rampung sehingga pekerjaan fisik bisa dimulai dalam waktu sekitar dua bulan ke depan atau sekitar September 2026.

“Kita harapkan dua bulan ke depan sudah mulai, karena proses tendernya juga sekitar sebulan,” ujarnya.

Pembangunan Jembatan Haji Buhari akan dilaksanakan secara multi-years. 

"Pada tahap awal, pekerjaan difokuskan pada pembangunan pondasi, termasuk pemasangan tiang pancang di kedua ujung jembatan sebagai dasar konstruksi," sebutnya.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTRPP Maros, Muhammad Alif Husnaeni, mengatakan anggaran sebesar Rp3 miliar dikucurkan untuk pembangunan pondasi jembatan ini.

“Sesuai dengan hasil perencanaan DED, konstruksi yang terbangun dengan anggaran tersebut adalah bangunan bawah, khususnya pondasi tiang pancang,” katanya.

Alif menyebut pembangunan Jembatan Pakere menjadi salah satu prioritas Dinas PUTRPP Maros.

Pemerintah daerah menargetkan pembangunan jembatan dapat rampung pada 2027 mendatang.

Namun, realisasi target tersebut tetap bergantung pada kemampuan anggaran daerah.

“Target rampung adalah sesegera mungkin, harapan kami tentunya di tahun 2027, tetapi tentu harus didukung anggaran yang tersedia,” ujarnya.

Untuk menyelesaikan pembangunan jembatan secara keseluruhan, dibutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar.

Nilai tersebut masih berpotensi mengalami kenaikan seiring meningkatnya harga bahan bangunan.

“Hitungan awal perencanaan adalah kurang lebih Rp25 miliar, tetapi mungkin akan mengalami kenaikan terkait faktor kenaikan harga material,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.