Puncak Kemarau Juli–September, BPBD Lampung Tengah Minta Warga Waspadai Karhutla 
soni yuntavia July 12, 2026 06:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TENGAH – Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Kabupaten Lampung Tengah bergerak cepat mengantisipasi dampak puncak musim kemarau tahun 2026. 

Baca juga: Nekat Tanam Singkong Saat Kemarau, Petani Lamteng Terancam Rugi Rp5 Juta per Hektare

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Lampung diprakirakan menghadapi puncak kemarau pada periode Juli hingga September.

Plt. Kepala BPBD Lampung Tengah, Ricky Augusta, menyatakan pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan ketat terhadap situasi di lapangan. 

Langkah ini diambil guna mengantisipasi potensi kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

"Dilihat dari pantauan yang ada di lapangan saat ini, belum ada laporan dari masyarakat mengenai kekeringan ekstrem maupun imbas kemarau panjang seperti kebakaran lahan. Namun, kita harus tetap waspada dan bersiap," ujar Ricky, Minggu (12/7/2026).

Sebagai langkah konkret pasca-rapat koordinasi (rakor) bersama Pemerintah Provinsi Lampung, BPBD Lampung Tengah kini tengah menyusun instruksi resmi untuk meminimalisir dampak cuaca ekstrem ini.

"Saat ini kami sedang menyiapkan surat edaran atau imbauan yang akan ditujukan kepada masyarakat serta seluruh aparatur kecamatan hingga kampung. Tujuannya agar semua pihak siap menghadapi puncak musim kemarau ini," tambah Ricky.

Meski belum ada laporan bencana skala besar ke pihak BPBD, dampak minimnya curah hujan di bulan Juli ini sudah mulai dirasakan nyata oleh sektor pertanian, khususnya petani singkong di Kecamatan Bumi Ratu Nuban.

"Melalui edaran dan pemantauan berkala yang sedang disiapkan BPBD Lampung Tengah, diharapkan ada sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, aparatur kampung, dan masyarakat dalam memitigasi risiko kerugian, baik di sektor lingkungan maupun ketahanan pangan daerah," ujarnya.

Disisi lain, demi mengejar momentum harga singkong industri yang sedang tinggi, sebagian petani nekat menanam bonggol di atas tanah yang kering. Sayangnya, keputusan tersebut memicu ancaman gagal tumbuh massal.

Angga, salah satu petani setempat, mengungkapkan bahwa tanaman singkongnya terancam kerdil dan menjadi "gabus" (membusuk di dalam tanah) karena kekurangan air. Jika bibit mati serentak, kerugian petani diperkirakan menembus Rp5.000.000 per hektare.

"Kalau dipaksakan karena sudah terlanjur tanam ya kurang maksimal. Kalapun bisa lanjut sampai panen, tonase menyusut 50 persen itu sudah pasti," tutur Angga, Minggu (12/7/2026).

Angga juga mengaku sulitnya jika menggunakan opsi pompanisasi karena selain menambah biaya produksi, jarak lahan ke sumber air alternatif seperti sungai atau waduk terlampau jauh.

"Kalau kondisinya begini hanya berharap ada hujan datang," tutupnya. 

Titik Hotspot 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung mendeteksi belasan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah siring masuknya musim kemarau.

Prakirawan BMKG Lampung, Helena, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis peta sebaran data pada Sabtu (11/7/2026), tercatat ada 17 titik hotspot yang muncul di Bumi Ruwa Jurai.

"Berdasarkan analisis terbaru, terdapat 17 titik hotspot yang tersebar di lima wilayah kabupaten," ujar Helena, Sabtu (11/7/2026).

Dari belasan titik tersebut, Kabupaten Way Kanan menjadi wilayah yang paling banyak titik panas.

"Di way Kanan ada 7 titik, rinciannya Negara Batin 2 titik, Negeri Besar 2 titik, Pakuan Ratu 2 titik dan Blambangan Umpu 1 titik," paparnya.

Selain itu, BMKG juga mendeteksi 3 titik panas di Lampung Barat, rinciannya dua titik di Kecamatan Bandar Negeri Suoh, dan satu titik di kecamatan Suoh.

"Lampung Tengah juga terdapat tiga titik, yaitu Bandar Mataram 2 titik dan Terusan Nunyai 1 titik," Jelasnya.

Adapun titik panas lainnya tersebar di Bunga Mayang Lampung Utara dua titik, Sungkai Utara satu titik, dan satu titik lainnya di Ngaras Pesisir Barat.

Mengacu pada historis kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Lampung, BMKG mengeluarkan peringatan dini bagi wilayah-wilayah yang memiliki kerawanan tinggi.

"Berdasarkan data historis di Lampung, masyarakat diminta untuk mewaspadai terjadinya Karhutla khususnya di Way Kanan, Mesuji, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Lampung Barat, Lampung Utara, dan Lampung Tengah," Jelasnya.

Meski sudah memasuki musim kemarau, Helena menyebut potensi hujan dengan intensitas ringan yang bersifat loka masih dapat terjadi.

"Hujan bersifat lokal dan tidak merata masih dapat terjadi di beberapa wilayah pada siang hingga sore hari," kata dia.

Sejumlah derah yang berpotensi hujan lokal tersebut meliputi Pesisir Barat, Tanggamus, Bandar Lampung, Lampung Barat, dan Pringsewu.

( TRIBUNLAMPUNG.CO.ID )

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.