TRIBUNJOGJA.COM - Gunung Merapi yang terletak antara Daerah Istiwewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) dilaporkan memuntahkan 6 kali guguran lava, Minggu (12/7/2026).
Hasil pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Minggu periode pukul 12:00-18:00 WIB menunjukan guguran lava tersebut mengarah ke Barat Daya ( Kali Sat/Putih, Kali Bebeng ) dengan jarak luncur maksimum 2000 meter.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, otoritas setempat merekomendasikan kewaspadaan karena saat ini masih ada potensi bahaya berupa guguran lava dan awanpanas.
Potensi guguran lava dan awan panas itu terutama pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Disebutkan bahwa data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya, mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Adapun hasil pengamatan visual Gunung Merapi menunjukkan kondisi tertutup Kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan, angin lemah ke arah barat.
Secara klimatologi, cuaca berawan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 18.8-22.2°C. Kelembaban 72-83 persen. Tekanan udara 872.7-916.5 mmHg.
Sementara, hasil pengamatan Kegempaan, menunjukkan terjadi 24 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-31 mm dan lama gempa 46.65-193.57 detik.
Satu kali Tremor Non-Harmonik dengan amplitudo 47 mm, dan lama gempa 35.83 detik, 20 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-26 mm, S-P 0.5-0.8 detik dan lama gempa 14.03-63.47 detik.