TRIBUNNEWS.COM - Terik matahari siang menyinari kawasan Taman Balekambang. Meski cuaca cukup panas, semilir angin yang berhembus dari rindangnya pepohonan membuat suasana taman tetap terasa teduh.
Langkah lembut pengunjung menikmati waktu berwisata tersorot pada sebuah patung berdiri anggun di tengah kolam ikan Taman Balekambang.
Patung itu adalah Patung Partini, satu dari sekian ikon Taman Balekambang yang tak pernah luput dari perhatian pengunjung.
Wajahnya yang dipahat detail, tatapan mata yang lurus ke depan, serta postur tubuhnya yang tampak alami membuat banyak orang berhenti sejenak untuk mengamatinya.
Di tengah ramainya wisatawan, beberapa pengunjung yang mengaku merasakan kesan berbeda saat memandang patung sosok perempuan itu. Dikarenakan semakin lama diperhatikan, patung tersebut seolah memancarkan ekspresi yang membuatnya tampak hidup.
Seperti dirasakan oleh Riana Gunansih (19), warga asli Surakarta yang tengah berkunjung ke Taman Balekambang. Ia mengaku sempat merinding ketika menatap patung tersebut cukup lama.
“Kalau saya melihat patung itu juga merasa seperti patungnya hidup, bahkan terasa merinding kalau dilihat lama-lama karena patungnya seperti hidup dan mengamati kita,” ujar Riana Gunansih (19), kepada Tribunnews.com, Kamis (9/7/2026).
Di balik kesan artistik yang dimiliki Patung Partini, tersimpan sejarah panjang yang menjadi bagian penting dari perjalanan Taman Balekambang.
Pamong Budaya Ahli Pertama Bidang Pembinaan Sejarah dan Pelestarian Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta, Destian Wahyu Setiaji (36), menjelaskan, Taman Balekambang merupakan simbol kasih sayang Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII kepada putrinya, Gusti Raden Ayu Partini.
Taman Balekambang dibangun pada 1921 bukti kasih sayang Adipati Aryo Mangkunegara VII kepada salah satu Putrinya yang bernama Gusti Raden Ayu Partini.
Penanda sejarah tersebut adalah keberadaan pohon beringin besar yang berada didalam kawasan Taman Balekambang yang menjadi bagian dari prosesi perayaan ulang tahun ke-18 Gusti Raden Ayu Partini.
“Taman Balekambang dikenal sebagai teman bukti cinta seorang ayah kepada anak perempuannya. Salah satu penandanya adalah pohon beringin besar yang menjadi bagian dari proses perayaan ulang tahun ke-18 Gusti Raden Ayu Partini,” Ujar Destian Wahyu Setyaji (36).
Pohon Beringin yang masih berdiri hingga kini menjadi saksi sejarah perayaan tersebut.
Keberadaannya bukan sekedar pelengkap taman, melainkan penanda momen ketika Mangkunegara VII mempersembahkan Balekambang bagi putrinya.
Namun, Patung ikon Balekambang ternyata bukan peninggalan dari masa pembangunan awal Taman Balekambang.
Patung tersebut baru dihadirkan ketika revitalisasi pertama Taman Balekambang sekitar tahun 2008-2009 saat Joko Widodo masih menjabat sebagai Wali Kota Surakarta.
“Patung itu dibuat saat revitalisasi Taman Balekambang yang pertama pada saat Pak Jokowi masih menjadi Wali Kota Surakarta sekitar tahun 2008-2009. Jadi, lanskap Taman Balekambang yang sekarang merupakan hasil revitalisasi pada masa itu,” jelas Destian.
Keberadaan patung itu sengaja dijadikan penanda sejarah agar pengunjung mengetahui alasan dibangunnya Taman Balekambang, yakni sebagai bentuk kasih sayang Mangkunegara VII kepada Partini.
Kisah Partini menjadi salah satu sejarah yang unik di Kota Surakarta.
Sang putri merupakan anak Mangkunegara VII dari salah satu selir, bukan istri utama. Namun, hal itu tidak mengurangi kasih sayang yang diberikan kepadanya.
Demikian menunjukkan bahwa Mangkunegara VII memiliki pemikiran yang cukup maju pada zamannya tidak membedakan kedudukan anak berdasarkan status ibunya.
Tidak banyak pengunjung mengetahui bahwa Balekambang sebenarnya terdiri atas dua kawasan utama, yaitu Partini Tuin dan Partinah Bosch.
Partini Tuin merupakan taman air yang dibangun sebagai pusat rekreasi sekaligus pengelolaan tata air. Pada masa itu, kawasan ini berfungsi membantu mengurangi banjir sekaligus menjaga ketersediaan air bagi lingkungan sekitar.
Di sisi lain, terdapat Partinah Bosch. kawasan hutan kota yang namanya diambil dari adik Partini, Gusti Raden Ayu Partinah.
Area ini dipenuhi pepohonan besar yang sejak dulu berfungsi sebagai ruang hijau sekaligus resapan air.
Hingga kini belum ditemukan catatan sejarah yang menjelaskan keberadaan patung khusus untuk Partinah sebagaimana Partini.
Meski demikian, nama Partinah tetap diabadikan melalui kawasan hutan kota yang menjadi bagian penting dari Balekambang.
Di kawasan Balekambang saat ini, pengunjung akan menemukan tampilan taman yang jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.
Jalur pejalan kaki untuk berjalan-jalan Taman Balekambang yang tertata, area pertunjukkan terbuka, ruang hijau, serta fasilitas umum menjadikan kawasan Taman ramai dikunjungi.
Di sisi kanan dan kiri Patung Partini juga telah ditambahkan air mancur yang mulai difungsikan sekitar tahun 2024.
Air mancur tersebut biasanya dinyalakan saat event-event tertentu sehingga menambahkan keindahan suasana taman.
Balekambang sekarang juga menjadi lokasi berbagai seni, pertunjukkan budaya, festival, hingga ruang berkumpul pengunjung.
Meskipun sudah modern, nuansa sejarahnya tetap dipertahankan melalui keberadaan bangunan lama, pepohonan besar, serta kisah yang tertanam dalam taman.
Kini, di tengah lalu lalang wisatawan yang datang untuk berwisata atau bersantai, Patung Partini tetap berdiri tenang.
Bukan hanya menjadi penghias taman, melainkan pengingat bahwa sebuah ruang publik bersejarah di Kota Surakarta lahir dari kisah kasih sayang seorang ayah yang terus dikenang.
(mg/ Lizera Janwa Naifa Sharon)
Penulis adalah peserta magang dari UNS