TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Pedagang kelapa lokal di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) mengeluhkan masuknya pasokan kelapa dari luar daerah yang sempat membuat penjualan mereka terhenti dan berdampak pada perputaran modal usaha.
Yadi, pengepul kelapa asal Tanjung Buka SP2, Bulungan, mengaku telah menekuni usaha tersebut selama empat tahun.
Sehari-hari ia mengambil kelapa dari petani lokal di wilayah Tanjung Buka meliputi SP2, SP7 dan SP10 untuk kemudian dijual di Pasar Induk Tanjung Selor.
Yadi juga memasok kelapa ke penjual pembuat kue di kawasan belakang pasar induk. Namun, belum lama ini masuknya pasokan kelapa dari luar daerah membuat pedagang lokal semakin tercekik.
Kelapa yang dimaksud adalah kelapa tua yang digunakan sebagai bahan kue atau yang biasa diparut dan diambil santannya.
"Kesusahannya itu karena banyak kelapa yang masuk ke Pasar Induk dari luar daerah, kata langganan saya kemarin itu datang dari Berau, kelapa kami jadi susah terjual," ujar Yadi kepada TribunKaltara.com, Minggu (12/7/2026).
Baca juga: 6 Manfaat Air Kelapa bagi Kesehatan, Cegah Dehidrasi hingga Memperlambat Penuaan
Kondisi tersebut membuatnya sedih, lantaran modal usaha yang digunakan sebagian besar berasal dari utang.
Menurutnya, setiap kali membeli kelapa dari petani, ia harus lebih dahulu membayar hasil panen tersebut. Ketika dagangan tidak laku, pembayaran utang hingga biaya operasional menjadi terhambat.
"Modalnya dari utang. Kalau kelapa tidak laku, kami juga susah bayar. Yang saya pikirkan bagaimana bayar petani dulu, nanti biaya perahu dan yang lain juga harus dibayar," katanya.
Dalam sekali pengambilan, Yadi biasanya membeli sekitar 400 hingga 500 butir kelapa dari petani lokal.
Pengambilan dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan, bergantung pada kondisi penjualan di pasar.
Akibat melimpahnya pasokan dari luar daerah, ia mengaku sempat menurunkan harga jual agar dagangannya cepat habis. Namun, upaya tersebut belum mampu meningkatkan penjualan secara signifikan.
"Harganya sudah diturunkan jauh, tapi tetap susah terjual. Saya sampai seharian di Pasar Induk sambil keliling-keliling nawarin kelapa," ucapnya.
Saat ini, kondisi penjualan mulai berangsur membaik setelah pasokan dari luar daerah mulai berkurang.
Meski demikian, ia masih menunggu kepastian sebelum kembali mengambil stok dalam jumlah besar dari petani.
"Sekarang masih menunggu dulu di Tanjung Selor karena pasokannya sudah mulai berkurang," ujarnya.
Yadi berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan bisa lebih memprioritaskan penyerapan dan pemasaran kelapa hasil petani lokal sebelum membuka pasokan dari luar daerah.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar petani dan pedagang lokal tetap dapat menjalankan usahanya dengan baik.
"Harapan kami pemerintah lebih memperhatikan dulu stok kelapa yang ada di daerah. Kami ini petani dan pedagang dari sini, masa mau jual saja susah," pungkasnya.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu