SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Dugaan pembatalan bantuan sosial senilai Rp2 miliar untuk Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo mendadak viral di media sosial.
Founder Bani Insan Peduli (BIP) asal Pamekasan, Madura, Ali Zainal Abidin, langsung angkat bicara guna meluruskan opini negatif yang menyudutkan dirinya.
Pihaknya secara tegas membantah adanya pembatalan komitmen bantuan tersebut dan mengklarifikasi perihal isu syarat penyematan nama yang ramai diperbincangkan.
Polemik ini awalnya beredar luas di media sosial dan viral setelah Ketua Yayasan Griya Lansia, Arief Camra membagikan sebuah video yang diunggah pada Sabtu (11/7/2026).
Dalam video tersebut, nama Ali Zainal Abidin yang juga dikenal sebagai Founder BIP disinyalir telah membatalkan bantuan kepada Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo.
Setelah itu, isu ini pun jadi perbincangan hangat di media sosial hingga disaksikan oleh sedikitnya 61 ribu netizen.
Menanggapi viralnya polemik tersebut, Ali Zainal Abidin meluruskan polemik dan membantah adanya pembatalan bantuan sosial senilai Rp2 Miliar tersebut.
Filantropi asal Pulau Garam ini menerangkan, kejadian berawal dari kunjungannya ke Griya Lansia Malang pada Mei 2026.
Datang dengan niat awal untuk berbagi kesejahteraan bersama para lansia, Ali mengaku disodorkan map proposal oleh Ketua Yayasan Griya Lansia sekaligus Pengasuh Griya Yatim, Arief Camra.
Baca juga: Momen Mendebarkan Kepala Bayi Keluar Tertahan Celana, Polisi Gresik Kawal Ibu Melahirkan di Avanza
“Proposal pembangunan Masjid Griya Lansia kebutuhan sekitar Rp400 juta, dan Griya Yatim Sidoarjo kebutuhan sekitar Rp900 juta. BIP berkomitmen mendukung dengan total Rp 2 miliar rupiah,” ungkap Ali pada Minggu (12/7/2026) sore di Surabaya.
Secara rinci, bantuan itu dialokasikan berupa Rp400 juta untuk Masjid Griya Lansia, Rp1 miliar untuk Griya Yatim Sidoarjo, dan Rp500 juta sisanya dikembalikan ke fokus utama BIP, yaitu kesejahteraan lansia.
“Sebagai tahap awal, keesokan harinya kami langsung mentransfer dana stimulan sebesar Rp250 juta,” urainya.
Namun, selang beberapa hari kemudian, pihak BIP mendadak dihubungi kembali oleh Ketua Yayasan, Arief Camra.
“Saat tim BIP sedang dalam perjalanan membawa bantuan 2 truk logistik ke Malang, Pak Arif secara mendadak meminta nomor rekening yayasan kami,” tutur Ali.
Situasi sempat menjadi tidak jelas karena alasan permintaan tersebut tidak dipaparkan secara gamblang.
“Saat kami konfirmasi apa tujuan meminta nomor rekening pengembalian tersebut, pihak Pak Arif tidak memberikan jawaban yang jelas,” sambung Ali Zainal Abidin.
Alhasil, bantuan berupa pampers, minyak, dan lauk-pauk senilai kurang lebih Rp200 juta itu sempat ditolak oleh pihak manajemen pusat di Malang.
Pihak BIP pun sempat berniat mengalihkan bantuan tersebut ke tempat lain.
Namun, pengasuh Griya Lansia Malang kemudian menghubungi Ali kembali dan menyatakan para lansia di sana sebenarnya sangat membutuhkan barang-barang bantuan tersebut.
“Bantuan 2 truk akhirnya resmi diterima demi kemaslahatan para lansia" lanjutnya.
"BIP juga menegaskan masih memiliki hutang janji komitmen sisa dana kesejahteraan sebesar Rp300 juta, yang akan disalurkan secara bertahap dalam bentuk barang sesuai kebutuhan riil di lapangan,” beber Ali.
Ali juga meluruskan polemik terkait penyematan nama BANI ketika memberikan bantuan dalam bentuk bangunan fisik.
“BANI adalah singkatan dari Bakti Anak Nurani Ibu. Penggunaan nama ini adalah bentuk takdim, seorang anak kepada ibunda saya yang telah wafat pada akhir 2023. Tidak ada motif komersial atau akuisisi terselubung,” ucapnya.
Baca juga: Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini Senin 13 Juli 2026: Udara Kabur dan Kabut, Dingin hingga 13°C
Ali menegaskan semua dana BIP murni berasal dari lini usaha pribadinya dan tidak memiliki donatur eksternal.
Oleh karena itu, menyikapi opini negatif yang berkembang, Ali menyatakan tidak menuntut atau meminta pemaksaan penyematan nama tersebut.
“Jika tidak berkenan, tidak jadi masalah. Bantuan tetap dilanjutkan,” katanya.
Dihubungi secara terpisah, Ketua Yayasan Griya Lansia, Arief Camra, mengungkapkan alasan tersendiri di balik keputusannya untuk mengembalikan bantuan dari pihak BIP.
Menurut Arief Camra, ada poin kesepakatan dalam proses awal yang dirasa kurang sejalan.
“Saya sudah disurvei beberapa kali. Dalam survei tersebut ada kesepakatan syarat. Bantuan akan dicairkan kalau diberi label nama Bani di depannya. Tentu saja langsung saya tolak,” ungkapnya.
Baca juga: PKL Tak Mau Jauh dari Alun-alun Merdeka Kota Malang
Terkait kelanjutan dari komitmen bantuan dana tersebut, Arief mengaku saat itu posisinya sempat mengalami ketidakjelasan arah program.
Hal ini menjadi beban pikiran lantaran Arief sudah telanjur memegang uang bantuan stimulan awal sebesar Rp250 juta, yang bahkan sudah dibagikan kepada 49 orang karyawan yayasan.
"Karena merasa tertekan dan digantung tanpa kejelasan, akhirnya saya menghubungi BIP menanyakan kelanjutan program ini. Makanya saya minta nomor rekening ke mereka,” tandasnya.