Apa Itu Sawit? Tanaman yang Disebut Presiden Prabowo Sedang Dikembangkan Jadi Bensin
Torik Aqua July 13, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa sejumlah profesor di Indonesia saat ini tengah mengembangkan BBM berbahan baku kelapa sawit. 

Hal itu disampaikan saat menghadiri peringatan Hari Koperasi Nasional di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Menurut Prabowo, pengembangan tersebut ditargetkan rampung dalam tiga hingga empat tahun ke depan sehingga pada 2030 Indonesia mampu memproduksi bensin berbasis tanaman.

Ia menilai inovasi ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah.

Baca juga: Pidato Berapi-api Presiden Prabowo di Munas NU: Negara Ambil Alih 5 Juta Hektare Sawit

Awalnya, Presiden menyampaikan mengenai keberhasilan Indonesia membuat BBM B50 yang merupakan campuran dari 50 persen solar fosil dan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit.

“Baru berapa hari yang lalu kita launching B50, solar 50 persen dari kelapa sawit. Petani kelapa sawit ada di Indonesia, minyak kelapa sawit di Indonesia,” kata Presiden.

Setelah solar, Indonesia akan mengembangkan bensin yang juga bisa dicampur dengan bahan baku dari kelapa sawit.

“Dan profesor-profesor kita sekarang sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit! Etanol dari singkong, dari jagung, dari sorgum, saudara-saudara,” katanya.

Presiden berharap pengembangan yang sedang dilakukan peneliti tersebut rampung dalam waktu 3–4 tahun, sehingga pada 2030 Indonesia sudah bisa membuat bensin berbasis tanaman.

“Jadi saya harap dalam 3–4 tahun lagi kita nanti juga bisa menghasilkan bensin dari tanaman!” katanya.

Bila pengembangan tersebut berhasil, kata Presiden, maka akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan para petani di Indonesia.

“Berarti petani singkong akan hidup makmur, petani jagung akan hidup makmur, petani-petani di seluruh Indonesia akan berbuat yang terbaik untuk bangsa dan untuk keluarganya sendiri,” katanya.

Apa itu sawit?

Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan tropis dari genus Elaeis yang berperan sebagai sumber utama minyak nabati dunia. Dua spesies yang paling dikenal adalah Elaeis guineensis, yang berasal dari Afrika Barat, dan Elaeis oleifera, yang berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Dari kedua spesies tersebut, Elaeis guineensis menjadi spesies yang paling luas dibudidayakan secara komersial karena produktivitas minyaknya yang tinggi⊃1;.

Kelapa sawit tumbuh optimal di wilayah tropis dengan curah hujan tinggi, suhu hangat sepanjang tahun, dan intensitas cahaya matahari yang cukup.

Tanaman ini memiliki batang tegak dengan tinggi mencapai 20–30 meter, serta umur produktif rata-rata 25–30 tahun, menjadikannya salah satu komoditas perkebunan jangka panjang yang paling efisien⊃2;.

Mahasiswa kembangkan bensin berbasis kelapa sawit

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperkuat inovasi energi terbarukan melalui pengembangan bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit. 

Teknologi ini memungkinkan crude palm oil (CPO) diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebagai alternatif energi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional di tengah krisis global.

Baca juga: Sosok Ulama Jombang Dorong Evaluasi Total Menjelang Muktamar NU, Soroti Integritas Kepanitiaan

Guru Besar Teknik Material dan Metalurgi ITS, Prof Hosta Ardhynanta, menjelaskan bahwa Benwit dikembangkan menggunakan metode catalytic cracking.

Yakni proses pemecahan molekul besar dalam minyak sawit menjadi molekul lebih kecil yang setara bahan bakar.

"Kami mengembangkan teknologi pengolahan minyak mentah kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak dengan metode catalytic cracking," ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Ia mengungkapkan, riset Benwit telah melalui tahapan panjang.

Penelitian awal berlangsung sekitar tiga tahun, sementara riset inti berjalan selama dua tahun dengan dukungan berbagai pihak.

"Penelitian ini kami lakukan mulai dari skala laboratorium hingga skala mimik (prototipe)," jelasnya.

Dalam proses pengembangannya, riset ini melibatkan sekitar 20 mahasiswa dari berbagai jenjang, mulai S1, S2 hingga S3, serta lintas departemen di ITS.

"Cukup banyak mahasiswa yang terlibat, terutama dari S2 dan S3, dan ini lintas departemen," tambahnya.

Menurut Prof Hosta, pemilihan kelapa sawit sebagai bahan baku didasarkan pada potensi besar Indonesia sebagai produsen CPO.

"Minyak sawit jumlahnya sangat besar dibandingkan tanaman lain. Sebagian besar bahkan belum dimanfaatkan optimal, sehingga potensinya sangat besar untuk bahan bakar," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Benwit berbeda dengan bahan bakar nabati lain seperti bioetanol maupun biodiesel.

"Kalau bioetanol atau biogasolin lain bahan bakunya dari etanol, sementara ini langsung dari CPO sawit," terangnya.

Dari sisi efisiensi, konversi CPO menjadi bahan bakar mencapai 50 hingga 55 persen tanpa menghasilkan limbah yang terbuang.

"Kalau kita ambil 10 kilogram sawit, sekitar 5 liter bisa jadi bensin. Sisanya juga kami manfaatkan, misalnya untuk bahan bakar kompor," ungkapnya.

Untuk penggunaan di lapangan, ITS mendorong penerapan bertahap melalui metode pencampuran (blending) dengan bahan bakar konvensional.

"Kami lebih memilih blending karena mesin saat ini dirancang untuk BBM tertentu. Dengan blending, tidak perlu banyak modifikasi," jelasnya.

Saat ini, komposisi campuran sekitar 10 persen Benwit dinilai aman digunakan, dengan emisi yang relatif setara bensin konvensional.

"Kalau 10 persen, emisinya masih kurang lebih sama dengan bensin pada umumnya. Tapi untuk emisi secara keseluruhan masih perlu penelitian lebih lanjut," ujarnya.

Rektor mendukung

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menambahkan bahwa inovasi Benwit sebenarnya telah dikembangkan sejak beberapa waktu lalu dan kini mulai diuji pada berbagai peralatan.

"Produk ini sudah beberapa lama kami miliki dan sedang dicoba di beberapa peralatan."

"Ini menjadi momen yang tepat untuk kami sampaikan karena adanya krisis energi global, sehingga diharapkan bisa membantu dalam menyelesaikan krisis energi," ujarnya.

Ia menjelaskan, Benwit merupakan hasil kolaborasi riset yang didukung pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

"Pendanaan dari BPDPKS, dan ITS selama beberapa tahun terakhir mendapat dukungan besar untuk riset seperti ini. Kami tentu akan terus mendukung inovasi," katanya.

Ke depan, ITS juga membuka peluang kerja sama dengan industri agar inovasi tersebut dapat diproduksi dalam skala lebih besar.

"Kalau nanti perlu mitra industri, kami siap membantu agar ini bisa dilirik dan diproduksi secara massal," ujarnya.

Menurutnya, saat ini penggunaan Benwit masih berada pada tahap campuran 10 persen untuk kendaraan, namun peluang peningkatan kadar campuran masih terus diuji.

"Kami akan coba bertahap, apakah 20 persen masih optimal, hingga batas maksimal yang bisa digunakan pada kendaraan roda dua," jelasnya.

Sementara untuk mesin diesel, khususnya alat dan mesin pertanian, uji coba menunjukkan potensi penggunaan campuran hingga 50 persen.

"Untuk mesin pertanian, uji coba blending sudah sampai 50 persen dan hasilnya cukup baik," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, menegaskan bahwa pengembangan Benwit merupakan bagian dari strategi ITS dalam memperkuat ketahanan energi nasional berbasis potensi lokal.

"Ketahanan energi tidak hanya bergantung pada cadangan, tetapi juga kemampuan mengembangkan sumber energi alternatif. Ketahanan energi perlu didukung teknologi berbasis potensi lokal," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.