Petani Ciamis Berhasil Budidayakan Singkong Atum Raksasa Seberat 1,2 Kuintal
ferri amiril July 13, 2026 04:05 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini


TRIBUNPRIANGAN.COMCIAMIS – Seorang petani di Dusun Pamekaran, Desa Payungagung, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, berhasil membudidayakan singkong Atum berukuran raksasa yang beratnya bisa mencapai 1,2 kuintal hanya dari satu pohon.

Petani tersebut adalah Edi Junaedi (60). Ia mengaku mulai mengembangkan singkong Atum sejak sekitar tahun 1993 setelah memperoleh bibit yang berasal dari pemerintah melalui wilayah Kuningan.

"Namanya singkong Atum. Bibitnya dulu dari pemerintah, sekitar tahun 1993 mulai saya kembangkan di Panumbangan," ujar Edi.

Singkong Atum tersebut dipamerkan di stan KTNA Kecamatan Panumbangan dalam peringatan Hari Krida Pertanian ke-54 Kabupaten Ciamis yang digelar di Lapang Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Senin (13/7/2026).

Menurut Edi, singkong Atum memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan singkong biasa. 

Baca juga: Heboh Muncul Cahaya Hijau Kebiruan Mirip Meteor Jatuh di Langit Ciamis Sabtu Malam, Warga Penasaran

Masa panennya pun relatif lama, yakni sekitar dua tahun agar menghasilkan umbi berukuran maksimal.

Edi menjelaskan, singkong Atum umumnya tidak dikonsumsi dengan cara direbus karena teksturnya sudah berserat saat berumur dua tahun. Singkong tersebut lebih sering diolah menjadi berbagai makanan tradisional.

"Kalau sudah dua tahun biasanya dibuat olahan. Kalau direbus langsung sudah terlalu berserat," katanya.


Ia mengungkapkan, kunci keberhasilan budidaya singkong Atum terletak pada teknik penanaman dan pemupukan. 

Lubang tanam dibuat sedalam sekitar 75 sentimeter dengan lebar sekitar satu meter.

Di dalam lubang tersebut, pupuk diberikan secara berlapis, dimulai dari kompos, tanah, urea, kompos kembali, kotoran hewan, lalu NPK sebelum ditutup tanah dan didiamkan sekitar satu minggu sebelum ditanami.

Selain itu, batang singkong tidak ditanam tegak, melainkan dibaringkan atau ditidurkan agar pertumbuhan umbi menyebar ke berbagai arah.

"Batangnya tidak ditancapkan berdiri, tetapi ditidurkan supaya umbinya berkembang lebih banyak," ujarnya.

Dari sekitar 30 pohon yang ditanam di lahan seluas kurang lebih dua petak sawah, Edi mengaku pernah memperoleh hasil panen lebih dari dua ton.

Bahkan, salah satu pohon yang dipanen sebelumnya menghasilkan sekitar 1,2 kuintal atau 120 kilogram.

"Yang paling besar sekitar satu kuintal dua puluh kilogram dari satu pohon," katanya.

Proses pencabutan singkong berukuran raksasa itu juga tidak mudah. Sedikitnya enam orang diperlukan untuk mengangkat satu pohon karena ukuran umbinya yang sangat besar dan panjangnya bisa mencapai lebih dari satu meter dengan diameter sekitar 20 hingga 30 sentimeter.


Meski hasil panennya melimpah, harga jual singkong Atum saat ini dinilai masih rendah. 

Menurut Edi, harga di tingkat petani kini hanya sekitar Rp700,00 hingga Rp1.200,00 per kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun lalu yang sempat mencapai Rp2.000,00 per kilogram.

Karena ukurannya yang unik, singkong Atum miliknya kini justru lebih sering dipinjam sebagai pajangan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti perayaan HUT Kemerdekaan hingga acara desa.

"Sering dipakai untuk pajangan di acara-acara. Kemarin juga ada yang membawa beberapa pohon untuk kegiatan," ujar Edi.

Sementara itu, Ketua Panitia Pameran Hari Krida Pertanian (HKP) Kecamatan Panumbangan, Irwan Suanda, mengatakan keberhasilan petani membudidayakan singkong berukuran besar merupakan salah satu contoh kreativitas petani dalam mengembangkan sektor pertanian.

"Petani Panumbangan sangat bangga karena memang memiliki banyak inovasi. Bukan hanya singkong, tetapi juga berbagai komoditas hortikultura yang terus dikembangkan," ujar Irwan.

Menurutnya, potensi pertanian di Kecamatan Panumbangan cukup beragam. Selain tetap mengandalkan komoditas utama seperti padi dan jagung, sektor perkebunan kopi juga terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menyebut kopi Panumbangan kini mulai dikenal dan memiliki pasar tersendiri. Bahkan, kopi hasil petani setempat kerap dipesan oleh sejumlah instansi di Kabupaten Ciamis.

"Beberapa kali kami menerima pesanan kopi dari kalangan pegawai dinas di Kabupaten Ciamis. Kopi Panumbangan mulai banyak diminati," katanya.


Irwan menambahkan, tren budidaya kopi juga mulai diminati kalangan petani muda. Salah satunya di wilayah Banjarangsana yang kini tengah mengembangkan kebun kopi seluas sekitar enam hektare.

"Petani milenial juga mulai banyak yang terjun mengembangkan kopi. Ini menjadi potensi yang baik untuk pertanian Panumbangan ke depan," ujarnya.


Selain kopi, menurut Irwan, wilayah Panumbangan juga memiliki potensi besar untuk pengembangan berbagai tanaman hortikultura karena kondisi lahan dan iklimnya yang mendukung.

Ia berharap berbagai inovasi yang dilakukan petani, termasuk keberhasilan membudidayakan singkong Atum berukuran raksasa, dapat memotivasi petani lain untuk terus mengembangkan komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.