Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Faktor geografis dan terus menurunnya jumlah anak usia sekolah menjadi penyebab utama banyak SD negeri di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, kesulitan mendapatkan peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali menyebut kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Sawit yang menjadi salah satu daerah dengan jumlah lulusan paling sedikit.
"Jumlah sekolah masih cukup banyak, sementara lulusan TK yang masuk ke SD jumlahnya lebih sedikit," kata Kepala Disdikbud Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro.
Menurut Dwi, fenomena minimnya murid baru tidak hanya terjadi di SD Negeri 2 Cepokosawit yang hanya menerima satu siswa baru.
Sejumlah sekolah dasar negeri lain di Kabupaten Boyolali juga mengalami kondisi serupa.
"Kalau se-Kabupaten Boyolali, untuk Sekolah Dasar yang mendapatkan siswa 'unik' atau sangat sedikit memang ada beberapa, termasuk di Sawit. Di SD Negeri Cepokosawit itu tadi memang hanya dapat satu murid," ujar Kuncoro.
Dwi menjelaskan, selain jumlah lulusan TK yang menurun, kondisi geografis dan demografi turut memengaruhi pemerataan jumlah peserta didik baru.
Kecamatan Sawit, misalnya, tercatat memiliki jumlah lulusan TK yang melanjutkan ke SD maupun lulusan SD yang melanjutkan ke SMP paling sedikit dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Boyolali.
Akibatnya, sejumlah sekolah di wilayah tersebut kesulitan memenuhi kuota penerimaan peserta didik baru setiap tahun ajaran.
Baca juga: Krisis Murid SD Negeri Boyolali Kian Meluas, Disdik : Sekolah Favorit Juga Banyak Tak Penuhi Kuota
Disdikbud Boyolali mencatat masih banyak sekolah dasar yang belum mampu memenuhi daya tampung siswa baru.
Bahkan, sekolah-sekolah yang selama ini dikenal sebagai SD favorit juga mengalami kondisi serupa.
"Untuk tingkat SD, jumlah yang tidak terpenuhi kuotanya jauh lebih banyak lagi. Bahkan sekolah-sekolah yang dicap sebagai SD favorit dengan daya tampung 28 siswa per rombongan belajar pun, sangat sedikit yang jumlah muridnya benar-benar penuh," ungkapnya.
Kondisi kekurangan peserta didik baru juga mulai dirasakan sekolah menengah pertama.
Dari total 52 SMP di Kabupaten Boyolali, hanya 20 sekolah yang berhasil memenuhi kuota penerimaan siswa baru.
Sementara itu, 32 SMP lainnya masih memiliki kursi kosong.
Menurut Dwi, penurunan jumlah anak usia sekolah membuat banyak sekolah harus berupaya lebih keras mendapatkan peserta didik baru, mulai dari melakukan sosialisasi hingga mendatangi rumah calon siswa secara langsung.
(*)