TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Persaingan perebutan trofi paling bergengsi di jagat sepak bola kini semakin mengerucut. Setelah babak perempat final yang mendebarkan usai, empat tim raksasa yakni Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina resmi melangkah ke babak semifinal Piala Dunia.
Dengan komposisi tim yang tersisa, edisi ke-23 Piala Dunia kali ini dipastikan tidak akan melahirkan juara baru.
Trofi emas tersebut akan jatuh ke tangan Inggris atau Spanyol yang sedang memburu bintang kedua di lambang tim mereka; Prancis yang berupaya merengkuh gelar juara untuk ketiga kalinya; atau sang juara bertahan Argentina yang berpeluang menyamai rekor tahun 1962 untuk mempertahankan gelar sekaligus meraih bintang keempat.
Keempat raksasa ini masih harus melewati tantangan hidup dan mati di semifinal sebelum bisa tampil di partai puncak yang akan digelar di New York New Jersey Stadium pada 19 Juli mendatang.
Namun, gambaran mengenai empat skenario partai final ideal yang sarat gengsi kini mulai terlihat jelas di depan mata.
Euforia babak semifinal Piala Dunia ini nyatanya juga merambah kuat hingga ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Atmosfer ketegangan dan gengsi dari empat tim besar ini turut memicu perhatian dari para pencinta sepak bola lokal di Kota Khatulistiwa.
• Gugur di Perempat Final Piala Dunia, Erling Haaland: Turnamen Ini Telah Mengubah Hidup Saya!
Ferdi, seorang warga Pontianak yang juga berprofesi sebagai Dosen di salah satu kampus terkemuka di Pontianak, memberikan pandangan menariknya terkait dinamika turnamen edisi kali ini.
Menurutnya, perjalanan Piala Dunia tahun ini menyajikan drama yang tidak biasa.
"Jujur saja, piala dunia kali ini agak tak biasa dari edisi sebelumnya. Di awal-awal turnamen kemarin, sepertinya sempat tidak ada euforia yang begitu mencolok di tengah masyarakat. Namun perlahan, saat peluit pertandingan pertama dibunyikan di babak grup, tensinya langsung naik dan laga berjalan semakin seru," ungkap Ferdi kepada Tribunpontianak.co.id, Senin 13 Juli 2026.
Lebih lanjut, Ferdi menilai komposisi tim yang berhasil menembus babak empat besar ini merupakan representasi dari kualitas sepak bola modern yang sesungguhnya.
"Sampai pada babak semifinal kali ini, menurut saya ini adalah semifinal yang sangat ideal. Mengapa? Karena empat negara yang lolos tersebut merupakan pemuncak rangking FIFA saat ini. Tidak ada tim kejutan, benar-benar adu taktik para penguasa sepak bola. Saya pribadi sudah tidak sabar untuk menunggu babak semifinal ini dimulai," pungkas sang Dosen antusias.
Berdasarkan analisis resmi dari FIFA.com, berikut adalah empat alur cerita menarik dari potensi partai final yang bisa saja terwujud:
Jika Kylian Mbappe dan kawan-kawan mampu menjinakkan Spanyol, sementara Three Lions asuhan Thomas Tuchel menyingkirkan Argentina, maka New York New Jersey Stadium akan menjadi saksi sejarah final Piala Dunia pertama yang mempertemukan dua seteru abadi di seberang Selat Inggris ini.
Laga ini juga akan menjadi panggung duel rekan setim di level klub, seperti Mbappe dan Jude Bellingham (Real Madrid) serta Harry Kane dan Michael Olise (Bayern Munich).
Skenario ini akan menjadi ulangan dari partai final paling dramatis sepanjang sejarah sepak bola di Qatar lalu.
Les Bleus tentu mengusung misi balas dendam atas kekalahan pahit melalui adu penalti, sedangkan Argentina berambisi menjadi tim pertama sejak Brasil (1958 dan 1962) yang mampu mempertahankan gelar juara dunia.
Duel ini juga kembali mempertemukan dua ikon dunia, Lionel Messi dan Kylian Mbappe.
Apabila La Roja berhasil menekuk Prancis dan Inggris mampu meredam dominasi Argentina, maka partai puncak akan menjadi ulangan final UEFA EURO 2024.
Harry Kane dan kolega akan memiliki kesempatan emas untuk membalas kekalahan 2-1 mereka dari Spanyol dua tahun lalu di panggung yang jauh lebih besar.
Jika kedua negara berbahasa Spanyol ini berhasil melaju ke final, sejarah baru akan tercipta. Ini berpotensi menjadi final Piala Dunia pertama yang mempertemukan juara bertahan Eropa dengan juara bertahan dunia.
Dimensi lain yang membuat laga ini sangat dinantikan adalah bentrokan antargenerasi dan masa depan sepak bola, yakni sang maestro Lionel Messi yang akan ditantang oleh bintang muda Lamine Yamal. (*)