Krisis Infrastruktur dan BBM Mahal Bebani Petani OKU Timur Saat Musim Kemarau
tarso romli July 13, 2026 06:27 PM

 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA — Musim kemarau kembali menghadirkan persoalan berlapis bagi para petani di Desa Karang Negara, Kecamatan Madang Suku II, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatra Selatan. Selain harus menghadapi lahan persawahan yang mulai mengering, mereka terbebani oleh melonjaknya biaya produksi akibat krisis infrastruktur irigasi dan akses transportasi di wilayah tersebut, Senin (13/7/2026).

Guna menyelamatkan tanaman padi dari ancaman fuso (gagal panen), para petani terpaksa menyedot air dari Sungai Komering menggunakan mesin pompa berbahan bakar bensin.

 Jarak dari sungai ke area persawahan yang mencapai 150 meter menuntut mesin bekerja ekstra keras hampir tanpa henti.

"Setiap musim kemarau tiba, situasi ini selalu menjadi dilema. Air di petak sawah cepat mengering, sementara satu-satunya sumber air jaraknya cukup jauh," ujar Saluddin, salah seorang petani setempat saat ditemui Jurnalis Sripoku.com, Senin siang.

Saluddin yang menggarap sawah seluas sekitar setengah hektare (19 sekat) menjelaskan, dirinya harus menghabiskan 10 hingga 12 liter bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite setiap hari agar mesin pompa tetap beroperasi.

Baca juga: Modal Jutaan Lenyap Ditelan Banjir, Nestapa Petani Padi di Lubuk Seberuk OKI 

Beban pengeluaran kian membengkak karena desa mereka belum memiliki stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). 

Para petani terpaksa membeli Pertalite eceran seharga Rp15.000 per liter, jauh di atas harga resmi subsidi pemerintah sebesar Rp10.000 per liter.

Dalam satu musim tanam, proses pengairan buatan ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Setiap tahapnya, mesin pompa wajib dihidupkan secara terus-menerus selama tiga hari berturut-turut.

Jika tidak, pasokan air tidak akan mencukupi, yang berakibat pada percepatan pertumbuhan gulma dan rumput liar yang merusak tanaman padi.

Persoalan petani Desa Karang Negara tidak berhenti pada masalah air.

Minimnya infrastruktur transportasi penghubung karena letak desa yang terisolasi di seberang sungai memaksa petani merogoh kocek lebih dalam saat masa panen tiba.

Karena belum tersedianya fasilitas jembatan penyeberangan yang memadai untuk kendaraan roda empat, gabah hasil panen harus diangkut menggunakan jasa ojek sepeda motor dari area sawah menuju bibir sungai.

Ongkos ojek motor dipatok berkisar Rp17.000 hingga Rp20.000 per karung berbobot 100 kilogram.

Setelah sampai di pinggir sungai, karung-karung padi tersebut harus dipindahkan lagi ke perahu ketek (perahu motor tradisional) dengan biaya penyeberangan tambahan sebesar Rp6.000 per karung.

"Kondisi ini sudah berlangsung menahun. Hasil bumi tidak bisa langsung diangkut oleh truk pembeli karena terkendala akses sungai. Rantai angkut yang panjang ini sangat memangkas margin keuntungan kami," keluh Saluddin.

Menyikapi kesulitan yang berulang setiap tahun, Saluddin mewakili para petani setempat sangat berharap Pemerintah Kabupaten OKU Timur dapat memberikan stimulus bantuan berupa pembuatan sumur bor pertanian dan percepatan pembangunan jembatan permanen.

Keberadaan sumur bor di area persawahan dinilai menjadi solusi konkret untuk memangkas ketergantungan pada BBM eceran dan mengoptimalkan hasil panen masyarakat di masa mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.