Murid Baru SDN 2 Lok Batu Tabalong Hanya 1 Orang, Hari Pertama Masuk Sekolah Diisi MPLS
Irfani Rahman July 13, 2026 06:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Berada di ujung Desa Lok Batu, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, SDN 2 Lok Batu pada tahun ajaran baru kali ini ternyata hanya mendapatkan satu orang murid baru untuk kelas 1.

Satu-satunya murid kelas 1 ini adalah Nor Aqila, bocah perempuan berusia 6 tahun 8 bulan, yang rumahnya juga berada di Desa Lok Batu, tepatnya di wilayah RT 05.

Kepala SDN 2 Lok Batu, Yunita Noramini, saat dihubungi Senin (13/7/2026) siang, membenarkan murid baru kelas 1 di sekolahnya hanya ada 1 orang.

Meski begitu, pihaknya memastikan kegiatan di sekolah tetap berjalan normal dan tidak mengganggu terhadap pelayanan yang diberikan.

Terbukti di hari pertama masuk, sekolahnya juga tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Bahkan Aqila yang menjadi satu-satunya murid kelas 1 di sekolah mereka juga berhadir dan disambut dengan baik.

Baca juga: Ada Pelat Merah dalam Avanza Ringsek di Gunungraja, BPKAD Tanahlaut: Kendaraan Operasional Provinsi

Baca juga: Saat Ditemukan Tali Pusat Belum Terpotong, Begini Kondisi Terkini Bayi Temuan di Pabahanan Tanahlaut

Aqila yang datang diantar ibunya, saat itu juga langsung diberikan bantuan tas, alat tulis, baju olahraga, dan baju batik gratis dari sekolah.

"Setiap anak yang mendaftar ke SDN 2 Lok Batu juga mendapatkan botol air minum gratis dari sekolah," katanya.

Sementara itu, terkait penyebab hanya ada 1 orang murid baru yang masuk ke sekolahnya, Yunita menyebut lebih dikarenakan adanya pemberlakuan zonasi dalam penerimaan murid baru.

Di Desa Lok Batu sendiri saat ini terdapat dua sekolah dasar, SDN 1 Lok Batu dan SDN 2 Lok Batu, serta satu madrasah ibtidaiyah.

Untuk SDN 2 Lok Batu yang menjadi tempatnya bertugas, lanjut Yunita, berada di wilayah ujung desa, tepatnya di RT 05 dan jauh dari kota.

"Sekolah kami itu sistem zonasinya memang khusus untuk RT 05 saja," katanya.

Aqila, satu-satunya murid baru yang masuk ke sekolahnya itu, merupakan anak yang rumahnya di RT 05, satu wilayah RT dengan sekolah.

Kondisi ini juga disebabkan di RT 05 jumlah anak yang sudah masuk usia sekolah ke kelas 1 SD pada tahun ini tidak ada lagi.

"Memang tidak ada muridnya. Insyaallah tahun depan mungkin ada lima orang yang bisa masuk," ucapnya.

Yunita yang baru tahun pertama menjadi Kepala SDN 2 Lok Batu ini juga menyampaikan, kondisi minimnya jumlah murid baru di sekolahnya juga sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Seperti di tahun lalu, nurid baru yang masuk ke SDN 2 Lok Batu ada 3 orang dan tahun pada tahun sebelumnya lagi ada 5 orang.

Dengan kondisi murid baru yang seperti itu dj tiap tahunnya, maka total jumlah peserta didik di SDN 2 Lok Batu saat ini hanya ada 26 orang untuk 6 rombel.

"Untuk gurunya, kelas 6 ada gurunya. Kelas 5 tidak ada gurunya, jadi operator yang merangkap guru kelas 5. Lalu guru kelas 4, 3, dan 2 masing-masing ada gurunya," katanya.

Sedangkan untuk kelas 1 saat ini tidak ada gurunya dan sementara ini dirinya sebagai kepala sekolah yang merangkap menjadi guru kelas 1.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tabalong, Gt Judid Ihsan Permana, saat dikonfirmasi mengaku juga telah mengetahui terkait kondisi murid baru di SDN 2 Lok Batu.

Menurutnya, apa yang terjadi di SDN 2 Lok Batu ini justeru menjadi salah satu bukti adanya pemerataan akses pendidikan yang telah dilakukan Pemkab Tabalong, khususnya terhadap masyarakat di wilayah terpencil.

Lokasi SDN 2 Lok Batu itu sendiri saat ini memang berada di kawasan yang tergolong terpencil dan jauh dari pusat keramaian maupun desa terdekat lainnya.

Sehingga dengan keberadaan sekolah di lokasi itu justeru akan dapat memberikan kemudahan akses bagi anak-anak di sekitarnya dalam menempuh pendidikan.

Berdasarkan pertimbangan itu juga, pihaknya saat ini masih tidak ada rencana untuk melakukan regrouping terhadap SDN 2 Lok Batu ke sekolah terdekat.

"Kalau regrouping ke sekolah terdekat malah ada kemungkinan terjadi anak tidak sekolah (ATS) baru," katanya.

Hal ini dikarenakan apabila SDN 2 Lok Batu digabung ke sekolah lain, maka secara akses justeru menyulitkan bagi warga sekitar.

Judid juga memastikan, meski peserta didiknya minim, tidak akan menghambat sekolah itu untuk menjadi penerima program bantuan dari pemerintah seperti BOS dan lainnya.

"Meski cuma 1 orang, program bantuan ke sekolah tersebut dipastikan tetap berjalan seperti biasa, tetap dapat," katanya.

 


 

--

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.