Pengrajin Batik Kater Belitung Timur Belajar ke Yogyakarta
Ajie Gusti Prabowo July 13, 2026 09:50 PM

MANGGAR, BABEL NEWS - Seorang perajin batik asal Desa Baru, Kecamatan Manggar, Belitung Timur, Triana atau Tri (52) bermimpi agar kain hasil karyanya bisa bersanding di kancah nasional. Namun, beberapa keterbatasan akhirnya menjadi tantangan yang membatasi ruang geraknya.

Beruntung, harapan akhirnya terbuka lebar bagi pemilik UMKM ini pada awal Juli 2026. Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Belitung Timur, Tri terpilih menjadi representasi pengrajin lokal untuk diberangkatkan dalam Studi Tiru ke Yogyakarta.

Kunjungan Tri dilakukan selama dua hari penuh, yakni 4-5 Juli 2026. Bagi Tri, kesempatan ini adalah peluangnya untuk menyerap langsung ilmu dari para ahli batik di sana. Tri tak datang sendiri. Ia turut didampingi Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten, Ketua Dekranasda Belitung Timur, Vivi Yuliana, dan Sekretaris Daerah (Sekda) Belitung Timur, Erna Kunondo. 

Selama berada di sana, rombongan pengurus Dekranasda Beltim mengajak Tri menyambangi dua gerai batik ternama, yaitu Batik Tulis Giriloyo dan Tom Indigo Batik Pewarna Alam. Di sanalah, mata Tri terbuka lebar melihat bagaimana tradisi dilestarikan dan dikemas memiliki nilai ekonomi tinggi.

Tri mendapatkan pelajaran yang luar biasa melimpah. Ia tidak hanya belajar urusan produksi, tapi juga manajemen bisnis. "Selain menambah ilmu tentang teknik membatik dan mempelajari penggunaan pewarna alam, saya juga belajar tentang pemasaran serta penataan produk batik agar menarik. Semoga hal ini bisa diterapkan dalam pengembangan batik di Beltim," ujar Tri dalam keterangannya, Jumat (10/7). 

Satu di antara pengalaman paling berkesan yang didapat Tri adalah saat dirinya mengitari bengkel produksi Tom Indigo Batik. Di sana, ia dibuat takjub oleh konsep produksi yang ramah lingkungan melalui proses daur ulang lilin malam bekas.

Selama ini, sisa malam pasca-produksi sering kali terbuang begitu saja sebagai limbah di tempat Tri. Namun di Yogyakarta, Tri diajarkan teknik membersihkan dan mengolah kembali sisa-sisa malam tersebut agar bisa mencair sempurna dan siap dipakai membatik lagi.

Tak hanya itu, Tri juga memanfaatkan waktu kunjungannya untuk mendalami rahasia penggunaan tanaman Indigofera sebagai bahan dasar pewarna alami kain. Proses rumit inilah yang selama ini membuat kain batik natural memiliki nilai jual yang sangat mahal dan dicari kolektor.

Tri belajar mulai dari cara mengekstrak daun menjadi larutan pewarna yang pas, teknik pencelupan kain, hingga memahami proses oksidasi udara demi menghasilkan warna biru yang pekat dan tidak mudah luntur.

"Saya juga mempelajari teknik penanganan tetesan lilin pada kain yang sudah bermotif. Caranya dengan membasahi bagian kain terlebih dahulu, kemudian mengangkat lilin menggunakan solder secara hati-hati agar tidak merusak motif di sekitarnya," ungkapnya. 

Tri berjanji akan segera menerapkan pelajaran tersebut dan menyebarkannya pula kepada para pelaku seperti dirinya. "Harapannya, ilmu yang saya dapatkan kemarin bisa langsung diterapkan untuk meningkatkan kualitas Batik Kater dan UMKM serupa di Belitung Timur. Baik dari segi teknik produksi, penggunaan pewarna alam, pengolahan limbah yang ramah lingkungan, maupun strategi pemasaran," harapnya. (z1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.