Program Sekolah Enuma Indonesia di Nunukan Kaltara Berakhir, Puluhan Tablet Dihibahkan ke TBM
Junisah July 13, 2026 10:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Berakhirnya Program Sekolah Enuma Indonesia (SEI) setelah empat tahun berjalan tidak menjadi akhir dari upaya peningkatan literasi dan numerasi anak di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Yayasan Litara memastikan pendampingan bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tetap berlanjut. Bahkan, puluhan perangkat tablet yang selama ini digunakan dalam pembelajaran resmi dihibahkan agar program dapat terus berjalan secara mandiri.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Showcase Program Sekolah Enuma Indonesia yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Senin (13/7/2026). 

Perwakilan Yayasan Litara, Edi Wahyu Sri Mulyono, mengatakan hibah perangkat diberikan karena pelaksanaan program di Kalimantan Utara dinilai berhasil meningkatkan akses belajar anak melalui pendekatan digital.

Tablet yang sebelumnya hanya dipinjamkan kini menjadi aset Yayasan Litara dan sebagian akan diserahkan kepada TBM yang telah menjadi mitra maupun TBM baru.

"Walaupun program utamanya selesai tahun ini, bukan berarti kerja sama kami berhenti. Kami tetap akan melakukan pendampingan dan menunjuk koordinator di daerah agar kegiatan belajar tetap berjalan," katanya

Baca juga: Lolos Jadi Relawan Literasi Masyarakat 2026, Ketua TBM Padu Nunukan Sebut Ini Gerakan Sosial

Menurutnya, Program Sekolah Enuma Indonesia memanfaatkan aplikasi pembelajaran berbasis permainan yang dirancang agar anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan.

Aplikasi tersebut pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada 2012 sebelum kemudian disesuaikan dengan kurikulum Indonesia melalui penambahan materi berbahasa Indonesia.

"Anak-anak sekarang sangat menyukai permainan di gawai. Kami menggabungkan permainan dengan materi pembelajaran sehingga mereka belajar tanpa merasa sedang belajar. Sasaran utamanya anak usia 4 sampai 10 tahun," ujar Edi Wahyu Sri Mulyono.

Selama empat tahun pelaksanaan, program tersebut telah menjangkau 26 TBM di Kalimantan Utara.

Sebanyak 1.447 anak tercatat sebagai peserta yang dipantau perkembangannya, sedangkan lebih dari 2.000 anak telah mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran.

Di Kalimantan Utara, implementasi program dimulai dari Kabupaten Malinau, kemudian berkembang ke Kabupaten Nunukan termasuk Pulau Sebatik, sebelum akhirnya diperluas ke Kabupaten Bulungan.

Khusus di Kabupaten Nunukan terdapat empat TBM yang menjadi mitra pelaksana dengan sekitar 100 anak peserta terdaftar.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Yayasan Litara bersama The HEAD Foundation, lembaga nirlaba asal Singapura, yang mengusung konsep "Segitiga Pendidikan", yakni kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan anak.

Baca juga: TBM PADU Sebatik Jadi Inspirasi Nasional, Jawab Tantangan Literasi, Iklim dan Anak Tidak Sekolah

Selain menghadirkan pembelajaran digital, para pengelola TBM juga memperoleh pelatihan agar memiliki kemampuan lebih baik dalam mendampingi anak selama proses belajar.

Edi Wahyu Sri Mulyono menilai kesiapan pendidikan anak menjadi faktor penting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia.

Ia mengingatkan, tanpa persiapan yang matang, Indonesia justru berisiko melahirkan "Generasi Cemas" yang kurang siap menghadapi tantangan masa depan.
"Karena itu kami terus berinovasi agar anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus berkualitas," katanya.

Sebagai bentuk pengembangan program, Yayasan Litara juga akan meluncurkan tabloid anak bertajuk Sobat Litara (SORA).

Tabloid tersebut akan memuat dua halaman khusus yang mengenalkan kekayaan Kalimantan Utara, mulai dari suku, satwa khas hingga nama-nama daerah di wilayah perbatasan.

"Kami ingin anak-anak mengenal daerah tempat tinggalnya sendiri dari A sampai Z. Harapannya mereka tumbuh dengan kemampuan literasi yang baik sekaligus mencintai lingkungan dan budayanya," ujar Edi Wahyu Sri Mulyono.

Pemkab Nunukan Beri Apresiasi

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Nunukan, H Muhammad Amin, yang mewakili Bupati Nunukan, menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Litara atas kontribusinya meningkatkan literasi dan numerasi anak-anak di wilayah perbatasan.

Menurutnya, kemampuan membaca dan berhitung merupakan fondasi utama pendidikan yang akan menentukan daya saing generasi mendatang.

"Pemerintah daerah sangat mendukung program seperti ini karena memiliki tujuan yang sama, yaitu mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, dan melek digital," ujarnya. 

Ia juga mengingatkan para peserta agar tidak bergantung sepenuhnya pada aplikasi.

"Aplikasi Enuma hanyalah alat bantu. Kunci keberhasilannya tetap pada semangat belajar anak-anak serta dukungan guru dan orang tua di rumah," katanya.

Progeam Sekolah Enuma Indonesia di Nunukan 02 13072026
SEKOLAH ENUMA INDONESIA - Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Nunukan H. Muhammad Amin mewakili Bupati Nunukan menghadiri kegiatan Showcase Sekolah Enuma Indonesia yang digelar Yayasan Litara di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Senin (13/7/2026)

TBM Rasakan Manfaat Program

Ketua TBM Padu, Amran, mengaku program Sekolah Enuma Indonesia membawa dampak positif terhadap aktivitas belajar anak-anak di Sebatik.

TBM Padu mulai bekerja sama dengan Yayasan Litara sejak 2023, sedangkan Program SEI berjalan sejak 2024 dan telah mendampingi sekitar 60 peserta hingga 2025.

Menurutnya, aplikasi pembelajaran sangat membantu anak-anak yang belum lancar membaca maupun anak berkebutuhan khusus.

"Program ini membuat kegiatan di TBM semakin hidup. Anak-anak lebih tertarik datang untuk belajar, termasuk mereka yang membutuhkan pendampingan khusus," ujarnya.

Saat ini TBM Padu membuka layanan setiap Sabtu dan Minggu dengan jumlah peserta aktif sekitar 30 hingga 40 anak pada Sabtu dan dapat mencapai 60 anak setiap Minggu.

Ke depan, TBM juga berencana mengembangkan pelatihan literasi digital seperti Microsoft Word dan Excel bagi remaja, meski pelaksanaannya masih terkendala keterbatasan sarana.

Amran berharap keberadaan TBM di wilayah perbatasan tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga memperkuat semangat nasionalisme anak-anak.

"Sebatik adalah beranda terdepan Indonesia. Anak-anak di perbatasan harus mengenal bangsanya dengan baik sehingga tumbuh rasa cinta terhadap Indonesia," pungkasnya.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.