TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Argowilis Cilongok, Kabupaten Banyumas, memiliki cara tersendiri dalam Masa Pengenalan Lingkungan Belajar (MPLB).
PKBM yang bermitra dengan Perhutani itu, akan mengajak peserta didiknya menanam pohon di hutan pada masa MPLB.
Kepala PKBM Argowilis, Isrodin mengatakan, jika di sekolah pada umumnya menggunakan istilah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, PKMB Argowilis bernama MPLB.
Tahun ini peserta didiknya berjumlah 95 siswa, terdiri dari 11 siswa kejar Paket B dan 84 siswa kejar Paket C.
"PKBM Argowilis ini sudah cukup lama dari tahun 1998-an, awalnya organisasi Kelompok Tani Hutan (KTH).
Siswanya rata-rata asal Kecamatan Cilongok, tapi ada juga dari Kecamatan Karanglewas," katanya kepada tribunbanyumas.com, Senin (13/7/2026).
Isrodin mengatakan, MPLB akan berlangsung empat hari, pada Kamis- Minggu (16-19/7/2026).
Peserta didiknya terbagi ada yang reguler dan non reguler.
Reguler adalah anak-anak yang baru lulus langsung melanjutkan, sedangkan non reguler adalah mereka yang sudah bekerja.
Nanti dalam MPLB, mereka diwajibkan membawa hasil bumi dan tanaman untuk ditanam di hutan.
"Untuk siswa yang reguler biaya pendidikannya gratis. Cukup membawa hasil bumi dan tanaman," ungkapnya.
Baca juga: 14 Kabupaten dan Kota di Jateng Terdampak Kekeringan, Banjarnegara termasuk Terparah
Isrodin mengatakan, keberadaan PKBM Argowilis tujuannya memang untuk membantu pemerintah memutus angka anak tidak sekolah.
Sehingga bagi mereka yang benar-benar tidak mampu, biaya pendidikannya gratis.
"Tidak ada anak yang karena persoalan ekonomi tidak bisa sekolah. PKBM ini untuk menjawab pertanyaan masyarakat, Argowilis melayani siapapun masyarakat desa yang terkendala ekonomi," jelasnya.
Ketua Panitia MPLB, Nahdah Maulida Salsabila mengatakan, MPLB tahun ini bertema 'Ramah, Bermakna dan Menyenangkan.'
Materi kegiatan, yaitu kepemimpinan, keorganisasian, life skill berupa merajut dan pengolahan kopi, publik speaking, konten kreator, pendidikan karakter, pendidikan agama, dan pendidikan lingkungan yaitu agroforestry dan konservasi.
"Keterampilan merajut kami adakan karena kedepan ada peluang yang bagus di keterampilan tersebut, seperti membuat tas, dompet dan sebagainya," ungkapnya.
Nahdah mengatakan, kegiatan selanjutnya ada juga sarasehan pendidikan dengan stakeholder, olahraga voli, penanaman pohon, kemah ceria, pentas seni budaya, dan wide game.
Peserta didik diarahkan untuk membawa bibit pohon yang bermanfaat, seperti pohon pete, jengkol, alpukat, dan kopi.
"Jadi anak-anak nanti menanam pohon. Mereka saat daftar ulang akan membawa pohon sekaligus hasil bumi," katanya. (fba)