Terlambat 6 Jam Lamanya, Denny Indrayana Keluhkan Penerbangan Batik Air Melbourne–Bali
Endra Kurniawan July 14, 2026 06:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Guru Besar Hukum Tata Negara sekaligus mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM (2011–2014), Denny Indrayana, mengeluhkan keterlambatan penerbangan Batik Air, Senin (13/7/2026).

Denny menceritakan, semua bermula saat dirinya hendak terbang dari Melbourne menuju Denpasar, Bali.

Jadwal yang tertera di tiket pesawat Batik Air menunjukkan waktu lepas landas pukul 07.00 pagi waktu Australia.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2008-2011) itu telah mempersiapkan diri sejak pukul 04.00.

Namun, sesampainya di konter check-in, Denny kecewa karena tidak ada satu pun petugas yang terlihat.

Ia kemudian melihat layar monitor yang menampilkan perubahan jadwal penerbangan menjadi pukul 11.30.

"Tidak ada ground staff yang menjelaskan. Semua penumpang yang datang kebingungan," kata Denny saat dihubungi dari kantor redaksi Tribunnews.com, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (14/7/2026).

Denny melanjutkan, pada pukul 11.24 terdengar pengumuman lewat pengeras suara mengenai perubahan gate keberangkatan.

Penerbangan kembali ditunda dengan jadwal baru menjadi pukul 13.30.

"Lalu (ada pengumuman lagi) kembali ke pukul 11.30. Terakhir, saya hanya disuruh menunggu tanpa kejelasan kapan berangkat," ujarnya.

"Tetap tidak ada ground staff yang muncul untuk menjelaskan," kata pendiri INTEGRITY Law Firm, firma hukum Indonesia pertama dan satu-satunya yang memiliki izin praktik serta kantor di Australia itu.

Ketidakjelasan jadwal ini membuat para penumpang meluapkan kekecewaannya. Ada pula yang penasaran dari negara mana asal maskapai Batik Air.

Baca juga: Kronologi Pramugari Gadungan Batik Air Ketahuan, Motif Rok Berbeda dan Duduk di Kursi Penumpang

BATIK AIR - Kuasa hukum Partai Demokrat, Denny Indrayana, di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (29/5/2024).
BATIK AIR -  Guru Besar Hukum Tata Negara sekaligus mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM (2011–2014), Denny Indrayana di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (29/5/2024). (Tribunnews.com/Ibriza Fasti Ifhami)

"Lebih menyedihkan, beberapa penumpang menanyakan airline negara mana Batik? Ada yang menjawab Indonesia. Malu!" tegasnya.

Pada akhirnya, Denny dan penumpang lainnya baru bisa masuk ke pesawat pada siang hari atau 6 jam dari jadwal awal yang tertera di tiket.

"Saya boarding sekitar pukul 13.00 siang waktu Melbourne," tandasnya.

Keluh kesah Denny soal keterlambatan penerbangan Batik Air juga ia bagikan ke media sosialnya hingga viral. 

Warganet pun ikut meramaikan dengan berbagai komentar, termasuk ada yang mengaku pernah mengalami hal serupa.

"Mereka yang tidak malu," kata Dandhy Laksono, jurnalis investigasi sekaligus sutradara film Pesta Babi.

"Saya flight Tashkent-Jakarta via KL direschedule sampai 4x, cuma dapat voucher makan. Pada saat yang sama, di transit counter KLIA banyak yang ngamuk karena banyak juga penumpang yang kena reschedule sampai ketinggalan connecting flight-nya. Gak lagi deh pakai Batik Air, Malay or Indonesia... trauma," timpal akun @mizyet.

Fakta Rute Batik Air Melbourne-Bali

Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, rute penerbangan Melbourne (MEL) ke Bali (DPS) dilayani oleh Batik Air Malaysia penerbangan langsung dengan nomor OD-178.

Pesawat biasanya berangkat dari Bandara Tullamarine Melbourne pukul 07.00 waktu setempat dan dijadwalkan akan mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali pukul 11.25 WITA.

Adapun durasi penerbangan sekitar 6 jam 25 menit.

Rute ini umumnya beroperasi 4 kali dalam seminggu, yaitu pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Harga mulai dari Rp3.400.000 hingga Rp4.000.000 sekali jalan.

Kemudian apa bedanya Batik Air Indonesia dan Batik Air Malaysia?

Dua maskapai penerbangan pada dasarnya berbeda, namun memiliki hubungan kepemilikan yang saling terkait di bawah naungan Lion Air Group.

Batik Air Indonesia merupakan maskapai swasta murni di bawah Lion Air Group, perusahaan induk maskapai penerbangan swasta asal Indonesia,

Sementara itu, Batik Air Malaysia atau dulu dikenal Malindo Air adalah perusahaan patungan (joint venture) antara perusahaan Malaysia National Aerospace and Defence Industries (NADI) yang memegang saham mayoritas (51 persen) dan Lion Air Group dari Indonesia (49 persen).

Mahfud MD Pernah Alami Hal Sama

BATIK AIR - Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD.
BATIK AIR - Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD. (Tribunnews.com/YouTube/Mahfud MD Official)

Tokoh publik yang mengeluhkan keterlabatan penerbangan Batik Air bukan pertama kali ini terjadi.

Pada Januari 2026 lalu, Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Indonesia Mahfud MD mengeluhkan keterlambatan penerbangan Batik Air rute Jakarta-Surabaya, Senin (12/1/2026) malam diduga akibat cuaca buruk.

Melalui unggahan di media sosial X, Mahfud MD menyatakan bahwa penerbangan Batik Air dengan nomor ID 6594 yang dijadwalkan lepas landas pukul 19.00 WIB hingga pukul 20.20 WIB belum diberangkatkan.

Baca juga: Lengkap, Permintaan Maaf Wanita yang Menyamar Jadi Pramugari Batik Air dan Ketahuan

"Batik Air flight ID 6594 Jkt-Srbaya Surabaya malam ini seharusnya take off jam 19.00 WIB. Tapi sampai 20.20 WIB saat ini tidak ada pengumuman apa pun dan tidak ada yang bisa ditanya di bandara," tulis Mahfud dikutip Selasa (13/1/2026).

Ia juga menyayangkan tidak adanya informasi resmi dari pihak maskapai terkait kepastian penerbangan tersebut. 

Menurut Mahfud, jika penerbangan memang dibatalkan, seharusnya pihak maskapai segera mengumumkannya kepada penumpang.

"Kalau memang tak jadi terbang harusnya diumumkan saja, biar orang mencari alternatif menginap," tegas Mahfud.

Kata Batik Air

Pesawat Airbus A320 Batik Air parkir di apron Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, setelah baru saja mendarat dalam penerbangan dari Bandara Sipinsur di Sumatera Utara, Minggu 15 Oktober 2023.
PENERBANGAN TERLAMBAT - Pesawat Airbus A320 Batik Air parkir di apron Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. (Tribunnews/Choirul Arifin)

Pihak Batik Air pun telah memberikan penjelasan terkait penyebab adanya pembatalan penerbangan.

Corporate Communications Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, mengungkapkan bahwa penyebab pembatalan penerbangan yaitu cuaca buruk yang terjadi di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Danang mengungkapkan akibatnya penerbangan dialihkan.

Bahkan, dia menyebut total ada 20 penerbangan dari Lion Air termasuk maskapai dari anak perusahaannya, Batik Air, yang dialihkan.

"Cuaca kurang baik di Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta menyebabkan 20 penerbangan dialihkan ke bandar udara alternatif demi keselamatan penerbangan," kata Danang ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Selasa.

Secara lebih rinci, Danang menjelaskan bahwa pada Senin pagi, kondisi cuaca di sekitar Bandara Soekarno-Hatta buruk sehingga memengaruhi jarak pandang dari pilot.

Baca juga: Batik Air Buka Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Empat Kota di Indonesia

Akibatnya, ada sejumlah pesawat yang dialihkan penerbangannya ke bandara yang cuacanya lebih mendukung untuk pendaratan.

Danang menegaskan keputusan pilot sudah tetap dan sesuai dengan prosedur standar operasional.

"Pengalihan pendaratan dilakukan untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan. Secara sederhana, jarak pandang yang terbatas membuat pilot tidak dapat melihat landasan secara jelas, sehingga pendaratan tidak bisa dilakukan dengan aman."

"Oleh karena itu, pilot memilih mendarat di bandar udara alternatif yang kondisi cuacanya lebih mendukung (aman untuk operasional)," ujarnya.

Danang menjelaskan, dampak dari pengalihan pendaratan ini yaitu keterlambatan pada penerbangan-penerbangan berikutnya.

Namun, dia menegaskan pihaknya sudah berupaya untuk meminimalisir keterlambatan agar tidak terlalu lama dengan jadwal awal dengan cara terus berkoordinasi dengan kru pesawat.

Lalu, penyesuaian rotasi pesawat dan kru secara cepat dan terukur, serta optimalisasi layanan darat.

"Seluruh langkah tersebut dilakukan tanpa mengesampingkan aspek keselamatan dan keamanan, sekaligus tetap menjaga ketepatan waktu penerbangan semaksimal mungkin," katanya

(Tribunnews.com/Endra/Yohanes Liestyo Poerwoto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.