TRIBUNNEWS.COM – Timnas Argentina memastikan tempat di semifinal Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Swiss dengan skor 3-1 melalui babak perpanjangan waktu. Di tengah keberhasilan tersebut, muncul fakta menarik bahwa Lionel Messi sebenarnya bisa saja tidak pernah membela La Albiceleste apabila memulai kariernya di era regulasi baru Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA).
Argentina kini bersiap menghadapi Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 yang digelar Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 WIB.
La Albiceleste mengusung misi mempertahankan gelar juara dunia sekaligus memburu trofi keempat sepanjang sejarah.
Perjalanan impresif Argentina tak lepas dari kontribusi Lionel Messi.
Kapten berusia 39 tahun itu kembali menjadi motor permainan tim dengan torehan delapan gol sepanjang Piala Dunia 2026.
Tambahan tersebut membuat koleksi gol Messi di putaran final Piala Dunia meningkat menjadi 21 gol dari enam edisi yang diikutinya, mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain tersubur dalam sejarah turnamen.
Pada edisi sebelumnya di Piala Dunia 2022, Messi berperan penting dalam keberhasilan Argentina meraih gelar juara. Pasalnya, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam kompetisi tersebut.
Selain Piala Dunia, Messi juga turut memberikan dua gelar Copa America pada edisi 2020/2021 dan 2023/2024.
Messi juga dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak Argentina yang saat ini sudah mengoleksi 125 gol.
Tak ayal jika adanya Lionel Messi kembali membuat Argentina difavoritkan kembali keluar sebagai juara sekaligus mempertahankan gelarnya.
"Argentina juga menjadi salah satu favorit juara karena proses transisi skuad yang berjalan mulus serta adanya faktor X dari Lionel Messi," kata Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Di balik performa gemilang sang kapten, regulasi baru yang diterapkan AFA memunculkan sebuah skenario menarik.
Pada Februari lalu, AFA mengesahkan aturan yang melarang pemain muda dipanggil ke tim nasional junior apabila mereka meninggalkan Argentina menuju klub luar negeri sebelum menandatangani kontrak profesional dengan klub lokal.
Kebijakan tersebut dibuat untuk melindungi klub-klub Argentina agar tidak kehilangan pemain muda berbakat tanpa memperoleh kompensasi transfer yang layak.
Baca juga: Klasiknya Inggris vs Argentina di Piala Dunia: Tangan Tuhan, Kartu Merah, hingga Dendam Abadi
Di Argentina, pemain baru diperbolehkan menandatangani kontrak profesional ketika telah berusia 16 tahun.
Sebelumnya, sejumlah talenta muda memanfaatkan aturan patria potestad atau hak asuh orang tua untuk pindah ke luar negeri sebelum memiliki kontrak profesional.
Dalam situasi tersebut, klub pembina hanya menerima biaya pengembangan pemain, bukan nilai transfer penuh.
Direktur Tim Nasional Junior AFA, Javier Mendez Cartier, menjelaskan bahwa kebijakan baru itu bertujuan menjaga keberlangsungan klub-klub pembina.
"Administrasi AFA selalu berupaya membela kepentingan klub-klub yang mengembangkan pemain. Siapa pun yang memilih menggunakan aturan hak orang tua untuk pindah ke luar negeri tanpa kontrak profesional tidak akan dipanggil ke tim nasional junior," kata Javier Mendez Cartier, dikutip dari Sportbible.
Apabila aturan tersebut sudah berlaku ketika Lionel Messi masih remaja, jalan karier internasionalnya kemungkinan besar akan sangat berbeda.
Messi meninggalkan akademi Newell's Old Boys pada usia 13 tahun untuk bergabung dengan akademi La Masia milik Barcelona. Saat itu, ia belum pernah menandatangani kontrak profesional dengan klub Argentina.
Artinya, berdasarkan regulasi baru AFA, Messi tidak akan memenuhi syarat untuk dipanggil ke tim nasional junior Argentina.
Bukan hanya Messi yang berpotensi terkena dampak aturan tersebut.
Kiper utama Argentina, Emiliano Martinez, juga hijrah ke Arsenal dari akademi Independiente pada 2010 sebelum menandatangani kontrak profesional di negaranya.
Situasi serupa dialami Giuliano Simeone. Putra pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, meninggalkan akademi River Plate untuk bergabung dengan Atletico Madrid tanpa terlebih dahulu mengikat kontrak profesional di Argentina.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa sejumlah pemain penting generasi sekarang kemungkinan tidak akan meniti jalur yang sama apabila regulasi baru sudah diterapkan sejak satu dekade lalu.
Menurut laporan TyC Sports, keputusan AFA memperketat aturan dipicu oleh kepindahan gelandang muda River Plate, Lucas Scarlato, ke klub Italia, Parma, pada usia 16 tahun.
Scarlato hengkang ke Eropa tanpa lebih dahulu menandatangani kontrak profesional bersama River Plate, sehingga klub hanya memperoleh kompensasi pengembangan pemain.
Melalui regulasi baru ini, AFA berharap klub-klub Argentina memiliki perlindungan lebih besar terhadap aset pemain muda mereka sekaligus menekan arus kepindahan talenta usia dini ke kompetisi Eropa.
Di sisi lain, kisah Lionel Messi menjadi contoh bagaimana sebuah perubahan regulasi dapat mengubah sejarah.
Andai aturan tersebut sudah berlaku lebih awal, Argentina mungkin tidak akan pernah diperkuat oleh pemain yang kini menjadi ikon terbesar sepak bola mereka sekaligus sosok penting dalam perjalanan menuju semifinal Piala Dunia 2026.
(Tribunnews.com/Ali)