Kisah Inspiratif Alumnus Unesa Dirikan Sekolah Modelling Khusus Penyandang Disabilitas
Titis Jati Permata July 14, 2026 10:32 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Desy Ramadhani Maghfiroh Ayu Putri untuk terus berkarya dan menginspirasi. 

Alumnus Program Studi S-1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang akrab disapa Fira ini mendirikan Fira Modelling Disability (FMD), sekolah talenta khusus bagi penyandang disabilitas yang kini berkembang di Surabaya dan Malang.

Lembaga yang dirintis sejak Fira masih menjadi mahasiswa tersebut menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan bakat di bidang modelling, tari, dan seni gerak. 

Saat ini, sekitar 35 peserta didik mengikuti pelatihan di FMD yang beroperasi di Surabaya dan Malang.

Minim Wadah Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Perjalanan Fira membangun sekolah inklusif berawal dari kepeduliannya terhadap minimnya wadah bagi anak berkebutuhan khusus untuk mengaktualisasikan diri. 

Bersama sang ibu, ia menyusun program pelatihan yang tidak hanya mengajarkan teknik berjalan di atas panggung (catwalk), tetapi juga kelas tari dan seni gerak untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

Baca juga: Bikin Bangga Keluarga, Dwy Octaviany Berprestasi di Modeling dan Jago Basket di DBL Surabaya 2025

"Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Saya juga berharap sekolah ini menjadi wadah untuk membangun rasa percaya diri, mengembangkan keterampilan, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap para penyandang disabilitas," kata Fira dikonfirmasi SURYA.co.id, Selasa (14/7/2026).

Prestasi di Dunia Modelling

Perempuan kelahiran Surabaya yang juga penyandang disabilitas rungu itu memang memiliki rekam jejak prestasi di dunia modelling.

Sejak kecil menekuni bidang tersebut, Fira pernah mewakili Indonesia dalam ajang Discover Indonesia: Cultural Performance and Fashion Show di Turki. 

Berkat kiprahnya, ia juga masuk dalam jajaran penerima penghargaan Inspiring Women 2022 kategori pendidikan.

Dalam mengelola FMD, Fira mengaku tantangan terbesar adalah menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan setiap peserta. 

Menurutnya, setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan kondisi yang berbeda sehingga pendekatan pelatihan harus dilakukan secara personal.

Meski demikian, tantangan itu terbayar ketika melihat perubahan para peserta didik yang awalnya kurang percaya diri menjadi berani tampil di depan publik.

"Pencapaian terbesar bagi saya adalah saat melihat anak-anak yang sebelumnya menutup diri kini berani tampil penuh percaya diri di atas panggung. Itu menjadi kebahagiaan sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan FMD," ujarnya.

Kembangkan Bakat Penyandang Disabilitas

Usai menyelesaikan studi di Unesa pada akhir 2025, Fira kini bekerja di FIF Group. 

Di sela aktivitasnya sebagai karyawan, ia tetap meluangkan waktu mendampingi para peserta didik di FMD agar semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh ruang untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi.

Fira berharap kehadiran FMD dapat menjadi jembatan lahirnya ekosistem yang lebih inklusif di masyarakat.

"Harapan saya, masyarakat semakin melihat kemampuan penyandang disabilitas, bukan keterbatasannya. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya jika diberikan ruang dan dukungan," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.