TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak mentah dunia terus meroket hari ini, Selasa 14 Juli 2026 setelah melonjak lebih dari 9 persen sehari sebelumnya pada Senin 13 Juli 2026.
Lonjakan harga minyak ini dipicu keputusanPresiden AS Donald Trump yang memberlakukan kembali blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz.
Selain blokade tehadap kapal-kapal Iran, Trump juga menuntut pembayaran atas semua kargo lain yang melewati jalur perairan vital tersebut.
Harga minyak mentah Brent naik lagi sebesar 2,5 persen menjadi US$85,40 per barel pada pukul 08.30 waktu Singapura, setelah harganya meroket 9,6 persen pada 13 Juli 2026.
Minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6 persen menjadi US$80,14 setelah mencatat kenaikan 9,4 persen pada sesi sebelumnya.
Trump menuntut pembayaran penggantian biaya sebesar 20 persen atas kargo—atau sekitar US$30 juta (S$38,8 juta) untuk kapal supertanker bermuatan penuh—di saat pasukan AS melancarkan serangan malam ketiga terhadap Iran yang diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Harga minyak telah pulih ke level tertinggi dalam hampir sebulan terakhir, memangkas penurunan sekitar 30 persen yang terjadi pada kuartal kedua, seiring dengan meningkatnya konflik yang kembali memicu kekhawatiran mengenai pasokan dari Teluk Persia.
Iran sempat berhasil mengekspor setidaknya 57 juta barel minyak mentah selama jeda singkat di antara dua blokade angkatan laut AS; hal ini menyoroti besarnya risiko yang dihadapi pasar minyak global kini setelah pembatasan diberlakukan kembali.
Baca juga: AS Kembali Gempur Iran, Teheran Ancam Negara yang Bantu Washington: Harga Minyak Melonjak
"Mereka mengirimkan minyak keluar dalam jumlah yang luar biasa besar," ujar Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Management dikutip Bloomberg.
"Menurut kami, harga akan bertahan di kisaran US$80 ini, kecuali ada perkembangan tertentu terkait situasi di selat tersebut. Namun, saya rasa harga tidak akan melonjak hingga US$90 atau US$100. Sebaliknya, jika selat itu dibuka kembali, harga akan anjlok ke US$60 dengan sangat cepat," ujarnya.
Joint Maritime Information Center menyatakan bahwa Komando Pusat AS (US Central Command) akan mulai memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran pada pukul 16.00 waktu New York, tanggal 14 Juli.
Trump mengatakan bahwa AS akan mendapatkan penggantian biaya dari negara-negara yang dilindunginya di selat tersebut, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Sementara itu, Uni Eemirat Arab menyatakan, dua kapal tanker miliknya diserang di perairan Oman saat melintasi jalur selatan selat tersebut.
Sebelumnya pada 13 Juli, Teheran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Washington "tak diragukan lagi telah memasuki fase krisis" dan bahwa mereka tidak akan mematuhi ketentuan kesepakatan tersebut selama pihak lain melanggar komitmennya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi usulan Trump mengenai biaya lintas (toll) dengan nada menyindir.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 4 Persen usai AS-Iran Saling Serang di Selat Hormuz, Indonesia Kena Imbas?
"Iran senantiasa menjadi PENJAGA Selat ini dan akan tetap demikian SELAMANYA," tulisnya di platform X. "Angka 20 persen tentu saja terlalu tinggi. Kami akan bersikap adil."
Selama sebulan terakhir, negara-negara produsen di Teluk Persia mulai memasarkan tambahan minyak mentah setelah kesepakatan sementara meredakan kekhawatiran terkait ekspor.
UEA, khususnya, terbukti sangat berhasil dalam menyalurkan minyak dengan menggunakan kapal tanker *shuttle* yang berlayar secara diam-diam (*sailing dark*), atau dengan mematikan transponder mereka.
UEA melaporkan kepada OPEC bahwa mereka telah meningkatkan produksi minyak mentah menjadi 3,8 juta barel per hari pada bulan Juni—naik 1,71 juta barel dibandingkan bulan Mei—menurut laporan bulanan yang dilihat oleh Bloomberg pada 13 Juli.
Peningkatan ini terjadi setelah mereka menemukan cara untuk mengatasi dampak konflik Iran dan menggenjot produksi pasca-keluarnya negara tersebut dari kelompok produsen minyak itu.
Di sisi lain, Trump akan mendukung rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia yang sebelumnya diperjuangkan oleh mendiang Senator Lindsey Graham, menurut seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara dengan syarat anonimitas.
Langkah ini akan menghidupkan kembali upaya untuk menjatuhkan sanksi terhadap pembeli minyak dan gas alam Rusia serta meningkatkan tekanan terhadap Kremlin agar mengakhiri perang dengan Ukraina.
BLOOMBERG/TST