Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Sejumlah petani di Kampung Pojokerto PC, Kecamatan Trimurjo, mulai menanam padi untuk Musim Tanam Kedua (MT 2) usai panen.
Baca juga: Cuma Dapat 2 Siswa Baru, SD Negeri 1 Gedung Meneng Batal Ditutup karena Nilai Historis
Namun, mereka dibayangi ancaman kekeringan akibat terbatasnya pasokan air irigasi serta serangan hama tikus yang dikhawatirkan kembali merusak tanaman.
Buari, salah seorang petani yang menggarap lahan seluas seperempat hektar, mengatakan tantangan pada musim tanam kali ini diperkirakan lebih berat dibandingkan musim sebelumnya.
Kendala utama yang dihadapi petani adalah kepastian pasokan air irigasi. Menurut Buari, pihak Pekerjaan Umum (PU) telah mengingatkan petani bahwa debit air diperkirakan akan terus menurun hingga habis pada akhir September.
"Pihak PU sudah memberi tahu kami kalau habis bulan September nanti air akan habis total. Padahal pada waktu itu tanaman padi kami masih membutuhkan pasokan air," ujar Buari, Selasa (14/7/2026).
Menghadapi prediksi kemarau panjang, Buari mengaku tetap nekat menanam padi demi mempertahankan mata pencaharian. Jika aliran irigasi utama benar-benar berhenti, ia bersama petani lain hanya bisa berharap turun hujan.
Sebagai langkah darurat, para petani juga berencana menyedot air dari bendung atau saluran irigasi primer menggunakan mesin pompa untuk dialirkan ke sawah, meski jaraknya cukup jauh.
Sebagian petani lainnya mulai mempertimbangkan menanam jagung sebagai alternatif. Tanaman tersebut dinilai lebih tahan terhadap keterbatasan air karena hanya memerlukan pengairan sekitar satu kali dalam sepekan.
Selain persoalan air, serangan hama tikus juga masih menjadi ancaman bagi petani. Buari mengatakan, pada musim tanam sebelumnya, hama tikus merusak sekitar dua hektar lahan pertanian hingga menyebabkan gagal panen. Akibatnya, sekitar setengah hektar lahan terpaksa digarap ulang oleh pemiliknya.
Untuk mengantisipasi serangan hama, para petani rutin melakukan pengendalian secara mandiri dan bergotong royong.
"Salah satu cara mengendalikan tikus ya dikompor (metode pengasapan lubang tikus). Kami lakukan itu ramai-ramai, bersama-sama dengan petani lain," katanya.
Melalui upaya tersebut, para petani berharap populasi tikus dapat ditekan sehingga kerusakan seperti musim tanam sebelumnya tidak kembali terjadi.
Buari juga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan solusi konkret, terutama terkait pengelolaan serta pembagian air irigasi, agar petani tetap dapat memperoleh hasil panen yang maksimal pada musim tanam kedua. (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)