Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Feronike Rumere
TRIBUN-PAPUA.COM, TIMIKA – Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispar) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah menggelar pelatihan musik tradisional bagi generasi muda suku Amungme dan Kamoro.
Kegiatan pembinaan kesenian bagi masyarakat dan pelaku seni tersebut berlangsung selama empat hari di Hotel Cartenz, Jalan Budi Utomo, Kabupaten Mimika, Selasa-Jumat (14-17/7/2026).
Pelatihan dibuka oleh Asisten I Bidang Administrasi Pemerintahan Setda Mimika, Ananias Faot, dan dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Mimika, Elisabet Cenawatme, Nara sumber, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta para peserta pelatihan.
Baca juga: Tolak Malu Soal Angka HIV, Bupati Jayawijaya Perintahkan Bongkar Data Riil
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Mimika, Daniel Orun, S.Pd., M.Pd., mengatakan musik tradisional Papua merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, identitas, serta kearifan lokal yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
Menurutnya, pelatihan bertujuan mencetak generasi muda yang mampu memainkan alat musik tradisional Papua sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.
“Pelatihan ini bertujuan melahirkan pemusik lokal yang kompeten, mencintai budayanya sendiri, serta mampu melestarikan musik tradisional Papua,” ujarnya.
Baca juga: Andalkan Anak Muda, Partai Garuda Papua Pegunungan Amankan 14 Kursi Legislatif Hasil Pemilu
Peserta akan menerima materi teori dan praktik, baik secara individu maupun kelompok, serta menampilkan pertunjukan sederhana pada akhir kegiatan.
Asisten I Bidang Administrasi Pemerintahan Setda Mimika, Ananias Faot, mengatakan musik tradisional Papua selama ini lebih banyak ditampilkan dalam festival tahunan, padahal musik tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Papua.
“Bunyi tifa di pegunungan dan pesisir pantai merupakan suara Tanah Papua, suara leluhur yang bercerita tentang keberanian, kedamaian, dan kebersamaan,” katanya.
Ananias mempertanyakan siapa yang akan melanjutkan tradisi memainkan alat musik khas Papua dalam 10 hingga 20 tahun mendatang apabila generasi muda saat ini tidak mulai belajar dan melestarikannya.
Baca juga: Pemkab Jayapura Matangkan Persiapan Festival Danau Sentani, Bidik Peningkatan Ekonomi dan Wisata
Karena itu, ia menegaskan pelatihan tersebut bukan sekadar mengajarkan cara memainkan alat musik tradisional, tetapi juga menanamkan pemahaman tentang filosofi, teknik, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Dalam kesempatan itu, Ananias menyampaikan tiga pesan kepada para peserta. Pertama, menjadi pemusik lokal yang berakar kuat dan tidak malu memainkan musik tradisional Papua.
“Jangan pernah malu memainkan musik tradisional, karena keunikan musik Papua justru menjadi kekayaan yang dihargai dunia,” ujarnya.
Kedua, peserta didorong untuk menjadi pemusik yang kreatif dengan memadukan musik tradisional dan modern tanpa menghilangkan ciri khas budaya Papua.
Baca juga: Papan Larangan Satpol PP Belum Mempan Atasi Sampah Skyland
Ketiga, para peserta diminta menjadi agen pelestari budaya dengan membagikan ilmu yang diperoleh kepada teman, keluarga, dan masyarakat sekitar.(*)