Kuota Sekolah Negeri di Jabar Bertambah 12 Ribu Kursi, 68 Ribu Siswa Diarahkan ke Swasta
Muhamad Syarif Abdussalam July 14, 2026 02:46 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Barat, Purwanto, menyebut pendaftaran ke sekolah swasta masih dibuka secara offline, sebagai alternatif bagi siswa yang belum diterima di sekolah negeri. 

Purwanto mengatakan, siswa yang tidak lolos di sekolah pilihannya pada SPMB tahap 1 maupun tahap 2, masih memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan melalui sekolah swasta.

"Mereka yang belum bisa masuk ke sekolah negeri atau sekolah yang tidak dipilih pada tahap 1 dan tahap 2 masih bisa mendaftar ke sekolah swasta. Memang hari ini belum semua melakukan daftar ulang. Nanti kita lihat perkembangannya, karena sekolah swasta masih bisa menerima pendaftaran secara offline," ujar Purwanto, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, keterbatasan daya tampung sekolah negeri membuat tidak seluruh calon peserta didik dapat diterima di sekolah Negeri. 

Pemerintah, kata dia, telah bekerja sama dengan Sekolah Swasta untuk menampung calon murid yang tidak lolos ke sekolah Negeri sebagai solusi agar siswa tetap bisa melanjutkan pendidikan.

"Kan sekolah negeri itu terbatas daya tampungnya, sehingga pasti tidak semua keterima. Sekolah swasta menjadi salah satu jalan agar anak-anak kita tetap bisa melanjutkan sekolah," katanya.

Masyarakat dapat memanfaatkan sekolah swasta kerja sama di daerah masing-masing. Namun, ia menegaskan pilihan tersebut bersifat sukarela.

"Pemerintah sudah menawarkan sekolah swasta kerja sama, silakan dimanfaatkan. Kalau tidak ingin, tidak ada paksaan, masyarakat juga bisa memilih sekolah swasta lainnya," katanya.

Menurutnya, pada tahun ajaran 2026/2027 Sekolah Negeri sudah mendapatkan tambahan kuota dalam pelaksanaan SPMB tahap II dengan jumlah sekitar 12.000 kursi.

Sehingga, jumlah calon murid baru (CMB) yang tidak tertampung ke Sekolah Negeri berkurang dari sekitar 80 ribu menjadi 68 ribu.

"Kemarin ada penambahan kuota dari Kementerian (Kemendikdasmen) tuh, dikurasi oleh kementerian terus di perbolehkan untuk dikasih rekomendasi nambah, ada yang 46 (satu rombel) ada yang 42 ada yang 40, ada yang 38," katanya.

Sisanya, kata dia, diarahkan untuk masuk ke sekolah swasta, baik yang sudah bekerjasama dengan Pemerintah maupun yang tidak. 

"Kan ada juga lulusan yang tidak daftar ke negeri kan, yang langsung ke swasta, yang daftar swasta kan banyak. Ini yang daftar ke negeri saja yang tidak diterima itu sekitar 68.000," katanya.

"Swasta banyak yang lebih bagus kok dari negeri, dan untuk yang berminat di Sekolah Swasta Kerjasama (SSK) silakan manfaatkan gitu," tambahnya.

Namun Purwanto tetap menyerahkan keputusan untuk menentukan pilihan sekolah kepada calon siswa sesuai dengan minat dan keinginan mereka, terutama bagi calon murid yang memiliki kemampuan untuk bersekolah di luar sekolah SSK.

"Jika merasa bahwa 'Ah, saya ingin memilih sesuai dengan selera saya sekolahnya tidak masuk di swasta kerja sama', ya itu tentu kami persilakan juga karena banyak juga sekolah-sekolah swasta yang bagus," katanya.

"Kita harus realistis, bahwa pilihan ke negeri mungkin sebagai hak, tapi kalau tidak bisa tertampung di negeri, sekolah swasta juga banyak yang bisa mengembangkan atau melayani," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.