Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri Kini Tampung 248 Siswa, Terbanyak Jenjang SMA
Rendy Nicko July 14, 2026 02:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Jumlah peserta didik di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri bertambah pada tahun ajaran 2026/2027. Kini sekolah berasrama yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin tersebut menampung total 248 siswa yang tersebar di jenjang SD, SMP, dan SMA.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri, Fadeli mengatakan jumlah tersebut terdiri dari 23 siswa SD, 107 siswa SMP, dan 118 siswa SMA. Siswa jenjang SMA masih menjadi yang terbanyak karena sekolah ini pertama kali dibuka pada tahun lalu dengan hanya melayani pendidikan tingkat SMA.

"Tahun pertama kami memiliki 99 siswa kelas X. Sekarang mereka sudah naik ke kelas XI dan seluruhnya dipindahkan ke kampus Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 di Plosoklaten," ucap Fadeli saat ditemui di SRT 1 Desa Plosokidul Kecamatan Plosoklaten, Selasa (14/7/2026) siang pukul 12.00 WIB. 

Memasuki tahun ajaran baru, SRT 1 mulai membuka layanan penjaringan untuk jenjang SD dan SMP sehingga total peserta didik meningkat menjadi 248 orang.

Baca juga: Harga Beras Selepan di Kota Blitar Merangkak Naik, Sekarang Rp 14.000 Per Kilogram

Meski mengalami penambahan siswa, jumlah peserta didik jenjang SD masih jauh dari kuota yang disiapkan Kementerian Sosial. Awalnya, masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA memperoleh alokasi 90 siswa.

Namun, kuota SD belum terpenuhi lantaran tidak banyak anak usia sekolah dasar yang bersedia tinggal di asrama. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengalihkan satu rombongan belajar ke jenjang SMP dan satu rombongan belajar ke SMA.

"Kuota SD memang belum terpenuhi karena mencari anak usia SD yang siap tinggal di asrama tidak mudah. Akhirnya satu kelas dialihkan ke SMP dan satu kelas ke SMA sehingga kuota SMA menjadi 120 siswa. Saat ini jumlah siswa SMA tercatat 118 orang," jelasnya.

Fadeli menegaskan seluruh peserta didik bukan berasal dari proses pendaftaran seperti sekolah pada umumnya. Sekolah Rakyat menerapkan sistem penjangkauan terhadap keluarga sasaran yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan data Kementerian Sosial.

Data tersebut kemudian diverifikasi oleh Dinas Sosial Kabupaten Kediri bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dengan mendatangi langsung rumah calon peserta didik untuk memastikan kondisi ekonomi sekaligus menanyakan kesediaan mereka bersekolah di Sekolah Rakyat.

"Di Sekolah Rakyat tidak ada penerimaan siswa baru. Yang ada adalah penjangkauan. Jadi tidak ada seleksi sama sekali," katanya.

Meski saat ini jumlah siswa telah mencapai 248 orang, Fadeli mengatakan angka tersebut masih berpotensi bertambah. Pasalnya, Sekolah Rakyat menerapkan kurikulum multi-entry dan multi-exit sehingga peserta didik dapat bergabung kapan saja apabila masih memenuhi persyaratan.

"Kalau nanti masih ditemukan calon siswa yang memenuhi kriteria melalui proses penjangkauan, tetap akan kami terima. Sistemnya memang memungkinkan siswa masuk kapan saja," bebernya.

Sementara itu, seluruh siswa baru kini tengah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hingga 31 Juli 2026. Setelah itu mereka akan menjalani program matrikulasi selama Agustus untuk menyamakan kemampuan dasar belajar mengingat seluruh peserta didik berasal dari latar belakang sosial dan pengalaman pendidikan yang beragam.

Di sisi lain, pihak sekolah masih berupaya memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, terutama untuk jenjang SD dan SMP. Saat ini proses belajar mengajar dibantu guru dari Pemerintah Kabupaten Kediri sembari menunggu guru hasil rekrutmen Kementerian Sosial mulai bertugas.

"Terima kasih dan mohon doa restu kepada wali murid agar selama pendidikan di SR lancar dan lulus dengan ilmu yang bermanfaat," tandasnya. 

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.