Jakarta (ANTARA) - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyebutkan, 25 kepala desa peserta studi ke China perlu mengimplementasikan praktik baik yang dipelajari selama di sana, sehingga dapat menginspirasi desa-desa lain di Indonesia.
"Saya berharap Bapak Ibu jadi kiblat bagi desa-desa yang gak berangkat. Dan selama di sana sudah punya rencana, nanti kalau pulang saya mau bikin ini misalnya. Kita ada program SEHATI, swasembada ekonomi hijau. Nah tadi banyak tuh cakupannya ekonomi hijau itu. Bisa untuk kawasan industri, bisa trading carbon," katanya di Jakarta, Selasa.
Yandri pun meminta agar seluruh Kades yang menjadi delegasi masing-masing desanya itu untuk belajar secara serius, demi memperluas wawasan dan mengadopsi praktik terbaik desa di China agar jadi role model bagi kemajuan pembangunan desa di Indonesia.
Menurutnya, langkah ini merupakan pengalaman penting yang dapat membangkitkan visi kepemimpinan, memungkinkan program desa yang lebih efektif, dan menginspirasi transformasi nyata bagi kesejahteraan masyarakat desa di tanah air.
Di China nanti, katanya, para kepala desa dapat melihat langsung bagaimana negara Tirai Bambu itu berhasil membangun desanya melalui sinergi antara pemerintah pusat, desa, dan teknologi.
"Saya berharap teman-teman ini sudah punya program, nanti kalau proposalnya bagus ke Kemendes, kita bantu desanya Bapak Ibu. Biar nanti ada hasilnya," katanya.
Dia menilai, studi tiru itu juga sangat membantu kepala desa mempelajari cara mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) yang modern, dari sektor pertanian hingga pariwisata terpadu secara mutakhir.
Tak hanya itu, para kepala desa nantinya juga bisa belajar soal cara desa-desa di China dalam melestarikan kebudayaan mereka, hingga menyulapnya menjadi peluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
"Ilmu yang Bapak Ibu tempa di Tiongkok itu, kita afirmasi dengan program di Kemendes, Bapak Ibu harusnya lebih sukses. Lebih berhasil, lebih adaptif, dari pada yang gak berangkat," katanya.





