Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi atau Pemprov Lampung optimistis mampu menjadi salah satu pusat pengembangan bioetanol nasional guna mendukung program swasembada energi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Pemprov Lampung Siapkan Kajian Bioetanol Berbasis Singkong, Sekda: Potensinya Besar
Optimisme tersebut ditopang oleh posisi Lampung sebagai produsen ubi kayu terbesar di Indonesia, didukung produksi jagung yang terus meningkat serta kesiapan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Lampung Elvira Umihani mengatakan, arah kebijakan pemerintah saat ini bukan memperluas lahan pertanian secara masif, melainkan meningkatkan produktivitas agar kebutuhan industri bioetanol dapat dipenuhi tanpa mengganggu ketahanan pangan.
"Lampung memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi pusat pengembangan bioetanol nasional. Yang kami dorong bukan sekadar menambah luas tanam, tetapi meningkatkan produktivitas melalui inovasi teknologi, bibit unggul, dan pendampingan petani sehingga kebutuhan industri terpenuhi tanpa mengganggu ketahanan pangan," kata Elvira, Selasa (14/7/2026).
Data Dinas Pertanian Provinsi Lampung menunjukkan tren produksi ubi kayu dalam lima tahun terakhir masih tergolong tinggi.
Pada 2021, luas panen ubi kayu tercatat 225.645 hektare dengan produksi 6.194.609 ton dan produktivitas 274,76 kuintal per hektare.
Tahun 2022, luas panen meningkat menjadi 236.375 hektare dengan produksi 6.719.692 ton dan produktivitas 279,15 kuintal per hektare.
Pada 2023, produksi mencapai puncaknya dengan luas panen 254.830 hektare, produksi 8.149.304 ton, dan produktivitas 319,83 kuintal per hektare.
Selanjutnya pada 2024, luas panen kembali meningkat menjadi 268.246 hektare, namun produksi turun menjadi 7.984.179 ton dengan produktivitas 297,62 kuintal per hektare.
Sementara 2025 (angka sementara), luas panen tercatat 232.327 hektare, produksi 7.523.325 ton, dan produktivitas 323,70 kuintal per hektare.
Meski terjadi penurunan produksi dalam dua tahun terakhir, Elvira mengatakan produksi ubi kayu Lampung tetap sangat besar karena data tersebut belum sepenuhnya mencakup areal tanam masyarakat di kawasan register maupun perubahan komoditas di lapangan.
"Menurut hasil pengamatan di lapangan, luas areal pertanaman masyarakat yang belum seluruhnya tercatat dapat mencapai sekitar 400 ribu hektare," ujarnya.
Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur masih menjadi sentra utama produksi ubi kayu, disusul Lampung Utara, Tulang Bawang Barat, Tulang Bawang, dan Lampung Selatan.
Untuk komoditas jagung, Dinas Pertanian menyebut tidak terjadi penyusutan lahan secara permanen dalam lima tahun terakhir. Penurunan pada 2023 dipengaruhi fenomena El Nino, namun kembali meningkat pada 2025.
Data KSA Jagung BPS yang diolah Dinas Pertanian menunjukkan, pada 2024 luas panen jagung mencapai 170.017 hektare dengan produksi 1.498.460 ton dan produktivitas 85,32 kuintal per hektare.
Sedangkan pada 2025, luas panen meningkat menjadi 194.488 hektare, produksi naik menjadi 1.703.725 ton, dengan produktivitas 86,28 kuintal per hektare.
Tiga daerah penyumbang produksi jagung terbesar di Lampung pada 2025 yakni, Lampung Selatan dengan produksi 599.992 ton dari luas panen 71.731 hektare.
Lampung Timur dengan produksi 469.757 ton dari luas panen 51.622 hektare.
Lampung Tengah dengan produksi 338.451 ton dari luas panen 35.113 hektare.
Disusul Kabupaten Lampung Utara sebesar 90.360 ton, Way Kanan 69.512 ton, Pesawaran 36.138 ton, Pringsewu 30.648 ton, Tulang Bawang 10.894 ton, Pesisir Barat 11.334 ton, Tulang Bawang Barat 3.892 ton, Mesuji 358 ton, Lampung Barat 737 ton, Bandar Lampung 1.096 ton, dan Metro 2.796 ton.
Meski demikian, Elvira mengatakan sebagian besar produksi jagung Lampung saat ini telah diserap industri pakan ternak.
"Sebagian besar produksi jagung Lampung sudah terserap industri pakan ternak. Karena itu strategi kami adalah meningkatkan produktivitas melalui bantuan benih hibrida unggul, mekanisasi pertanian, serta pemanfaatan lahan suboptimal agar kebutuhan industri baru tetap dapat dipenuhi," ujarnya.
Berbeda dengan ubi kayu dan jagung, komoditas sorgum masih berada pada tahap uji coba dan pengembangan sejak 2020.
Menurut Elvira, minat petani terhadap sorgum masih rendah karena belum tersedia kepastian pasar, harga yang stabil, benih yang memadai maupun industri pengolahan dalam skala besar.
Namun apabila industri bioetanol mulai berkembang di Lampung, sorgum dinilai memiliki peluang besar menjadi komoditas alternatif.
Dinas Pertanian memperkirakan produksi ubi kayu Lampung yang mencapai sekitar 7,5 juta ton per tahun mampu menjadi tulang punggung industri bioetanol.
Apabila 30 persen produksi dialokasikan untuk kebutuhan bioetanol, maka tersedia sekitar 2,25 juta ton ubi kayu yang berpotensi menghasilkan 405 juta liter bioetanol per tahun, dengan asumsi konversi 180 liter bioetanol per ton ubi kayu.
Dengan harga bioetanol industri sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000 per liter, nilai ekonomi yang dapat dihasilkan diperkirakan mencapai Rp3,8 hingga Rp4,8 triliun per tahun.
Nilai tersebut belum termasuk produk turunan seperti DDGS atau ampas fermentasi untuk pakan ternak, karbon dioksida industri, pupuk organik, maupun energi biomassa.
"Selama ini Lampung banyak menjual bahan baku. Ke depan, yang ingin kita bangun adalah nilai tambah. Jika bioetanol berkembang, maka akan tercipta lapangan kerja baru, investasi tumbuh, dan perputaran ekonomi bisa mencapai triliunan rupiah setiap tahun. Ini menjadi peluang besar bagi kesejahteraan petani dan perekonomian Lampung," ujar Elvira.
Untuk melindungi petani, Pemerintah Provinsi Lampung telah menerbitkan Pergub Nomor 36 Tahun 2025 tentang Tata Kelola dan Hilirisasi Ubi Kayu di Provinsi Lampung.
"Hilirisasi ubi kayu harus memberikan manfaat langsung kepada petani. Dengan bertambahnya industri pengguna ubi kayu, termasuk bioetanol, kami berharap permintaan semakin kuat sehingga harga di tingkat petani menjadi lebih stabil dan menguntungkan. Karena itu, Pergub Nomor 36 Tahun 2025 menjadi instrumen penting untuk membangun tata niaga yang lebih adil," tegas Elvira.
Selain regulasi, Pemprov Lampung juga memperkuat peran National Cassava Center, mengembangkan bibit unggul berkadar pati tinggi, menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), serta menyiapkan program pupuk hayati cair melalui APBD 2026 untuk meningkatkan produktivitas petani sekaligus menjamin pasokan bahan baku bioetanol secara berkelanjutan.
Terkait sorgum sebelumnya Provinsi Lampung menjajaki potensi pengembangan sorgum sebagai bahan baku utama industri bioetanol guna mendukung ketahanan energi nasional.
Pemprov Lampung telah menyiapkan aset lahan seluas sekitar 24 hektare di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, serta lahan di Desa Rejosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.
Saat ini, lahan tersebut masih berstatus sebagai lahan produktif yang dikelola oleh masyarakat setempat untuk ditanami komoditas ubi kayu (singkong) dan jagung.
Menurutnya dalam waktu dekat Pemerintah bakal mulai mendatangkan bibit sorgum guna memulai proyek stratehis nasional ini.
"Dalam beberapa waktu ke depan, bibit sorgum juga akan didatangkan ke Lampung, semoga semua berjalan dengan lancar," kata elvira.
Pihaknya menyebut, pemanfaatan Sorgum dilakukan agar tidak mengganggu tanaman lain seperti singkong dan jagung yang telah memiliki ekosistem sendiri di Lampung.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)