Harga Cabai di Ciamis Melonjak Dua Kali Lipat Akibat Musim Kemarau
ferri amiril July 14, 2026 06:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Musim kemarau mulai berdampak terhadap harga sejumlah komoditas hortikultura di Kabupaten Ciamis. 

Dalam sepekan terakhir, harga berbagai jenis cabai dan tomat mengalami kenaikan, bahkan cabai merah lokal melonjak hingga dua kali lipat.

Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kabupaten Ciamis, kenaikan harga dipicu berkurangnya pasokan akibat kondisi cuaca yang mulai memengaruhi hasil panen di sejumlah daerah pemasok.

Di Pasar Kawali Ciamis misalnya, lonjakan paling tajam terjadi pada cabai merah lokal. 

Jika sebelumnya dijual sekitar Rp40.000,00 per kilogram, kini harganya mencapai Rp80.000,00 per kilogram.

Baca juga: Paduan Suara PGRI Ciamis Tampil di Brownis dan HUT RI Jabar

Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting yang naik dari Rp50.000,00 menjadi Rp70.000,00 per kilogram. 

Sementara cabai hijau mengalami kenaikan dari Rp30.000,00 menjadi Rp40.000,00 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah naik dari Rp50.000,00 menjadi Rp60.000,00 per kilogram.

Tak hanya cabai, harga tomat merah dan tomat hijau pun ikut merangkak naik. 

Kedua komoditas tersebut kini dijual Rp14.000,00 per kilogram, dari sebelumnya Rp10.000,00 per kilogram.

Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Kabupaten Ciamis, Wahyu Ghifary Setiawan mengatakan komoditas hortikultura menjadi kelompok yang paling terdampak musim kemarau karena pasokannya sangat bergantung pada hasil panen.

"Hasil pemantauan kami menunjukkan bawang merah dan cabai mengalami kenaikan harga. Beberapa jenis sayuran juga mulai naik, sedangkan komoditas lainnya masih relatif stabil," ujar Wahyu, Selasa (14/7/2026).

Meski demikian, tidak semua kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Harga daging ayam ras justru turun dari kisaran Rp38.000,00 menjadi sekitar Rp36.000,00 per kilogram, sementara harga telur ayam ras masih relatif stabil.

Menurut Wahyu, pihaknya terus melakukan pemantauan harga di pasar tradisional agar tidak melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional.

"Tugas kami melakukan pengawasan harga di pasar. Setiap perkembangan terus kami pantau dengan mengacu pada harga acuan pemerintah untuk berbagai komoditas strategis," katanya.

Ia menjelaskan, pengawasan DKUKMPP berfokus pada stabilitas harga, sedangkan pengelolaan stok dan ketersediaan pasokan menjadi kewenangan perangkat daerah yang membidangi sektor pertanian dan ketahanan pangan.

DKUKMPP juga menyoroti maraknya penjualan ayam pejantan dengan harga lebih murah melalui kendaraan keliling. 

Setelah berkoordinasi dengan para pelaku usaha, diketahui ayam tersebut berasal langsung dari peternakan di luar daerah sehingga memiliki struktur harga yang berbeda dibandingkan ayam yang dijual di pasar tradisional.

"Kami sudah berkomunikasi dengan para pelaku usaha dan mereka cukup kooperatif. Koordinasi akan terus dilakukan agar kondisi pasar tetap kondusif dan persaingan usaha berjalan sehat," jelasnya.

Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung, DKUKMPP memastikan akan terus memantau perkembangan harga bersama instansi terkait. 

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga serta memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia.

"Selama ini kondisi pasar masih terkendali. Kami akan terus memantau perkembangan harga sehingga apabila terjadi gejolak dapat segera dikoordinasikan dengan pihak terkait," pungkas Wahyu.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.