Jalan Martapura Lama Banjarmasin Rusak Berulang, Struktur Tanah Diduga Bermasalah
Irfani Rahman July 14, 2026 07:46 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Kerusakan yang kembali terjadi di Jalan Martapura Lama, Kelurahan Sungai Lulut, Kota Banjarmasin, dinilai tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan kualitas lapisan aspal. Sebab persoalan utamanya kemungkinan ada pada kondisi tanah dan struktur fondasi jalan yang menopang ruas tersebut.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Akbar Rahman menjelaskan, aspal hanyalah lapisan paling atas dari konstruksi jalan.

Menurutnya, apabila tanah mengalami penurunan atau pergeseran, kerusakan akan tetap berulang meski pengaspalan dilakukan berkali-kali.

“Kalau yang bermasalah adalah tanah dan struktur di bawahnya, maka sebaik apapun kualitas aspal yang digunakan, kerusakan akan tetap muncul kembali,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).

Menurut Akbar, karakter Jalan Martapura Lama yang berada di tepian sungai menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan infrastruktur.

Baca juga: Jalan Martapura Lama di Sungai Lulut Banjarmasin Sering Rusak, DPRD Kalsel Desak Solusi Permanen

Baca juga: Kalsel Kekurangan 1.140 Guru, Tenaga Pengajar BK dan Bahasa Inggris Paling Banyak Diperlukan    

Sebagian besar wilayah Banjarmasin tersusun atas tanah gambut yang lunak dan memiliki kandungan air tinggi, sehingga lebih rentan mengalami penurunan, pergeseran, hingga longsor apabila menerima beban terus-menerus.

Ia menjelaskan, jika tebing sungai belum diperkuat dengan turap atau siring permanen berbagan beton, tanah penyangga badan jalan berpotensi terus terkikis akibat gerusan air. Kerusakan tersebut umumnya tidak langsung terlihat dari permukaan.

“Yang pertama kali terlihat biasanya hanya retakan kecil pada badan jalan. Lama-kelamaan retakan membesar hingga jalan tampak terbelah. Jadi yang rusak bukan hanya lapisan aspal, tapi fondasi jalannya,” jelas Doktor Perancangan Kota jebolan Saga University, Jepang.

Selain kondisi tanah, Akbar menilai tingginya beban kendaraan yang melintas setiap hari turut mempercepat penurunan umur layanan jalan, terutama apabila terdapat kendaraan yang membawa muatan melebihi kapasitas jalan.

“Kalau jalan dirancang untuk menahan beban tertentu, tetapi dalam praktiknya sering dilakukan kendaraan dengan muatan yang melebihi kapasitas, umur layanan jalan akan jauh lebih pendek. Kondisi ini semakin berat ketika bertemu dengan tanah yang memang memiliki daya dukung rendah,” katanya.

Ia menilai perbaikan yang hanya berupa pengaspalan ulang tidak akan menjadi solusi permanen.

“Analogi sederhananya seperti memperbaiki retakan pada dinding rumah tanpa memperbaiki pondasinya. Dinding mungkin terlihat bagus setelah dicat, tapi beberapa waku kemudian retakan akan muncul kembali karena sumber masalahnya belum diselesaikan,” ujarnya.

Akbar menyarankan pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap ruas Jalan Martapura Lama, khususnya di kawasan Sungai Lulut. Mulai dari kondisi tanah dasar, potensi pengikisan tebing sungai, sistem drainase, hingga kekuatan struktur jalan.

Jika ditemukan penurunan tanah, menurutnya, penguatan fondasi jalan harus dilakukan bersamaan dengan pembangunan atau penguatan turap penahan tebing.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur di kawasan tepian sungai tidak bisa disamakan dengan daerah lain, karena karakter lahannya berbeda.

“Infrastruktur di kawasan tepian sungai harus dirancang dengan mempertimbangkan kondisi tanah, dinamika air, sistem drainase, hingga perlindungan tebing sungai sebagai satu kesatuan. Jika salah satu aspek diabaikan, kerusakan akan terus berulang,” tuturnya.

Selain pembenahan konstruksi, Akbar menilai pengaturan beban kendaraan juga harus menjadi perhatian. Jika Jalan Martapura Lama memang diproyeksikan sebagai jalur logistik, pemerintah perlu menyesuaikan kapasitas jalan melalui pelebaran dan penguatan konstruksi agar mampu menahan beban kendaraan yang melintas.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.