Sosok Gus Miftah, Utusan Khusus Presiden yang Namanya Disebut Terseret Kasus Korupsi Jalur Ganda KA
Kharisma Tri Saputra July 14, 2026 07:32 PM

 

Dalam persidangan tersebut, jaksa mengonfirmasi adanya dugaan aliran dana proyek senilai Rp100 juta yang mengalir kepada sang pendakwah.

Uniknya, untuk memperjelas identitas penerima aliran dana tersebut kepada saksi, jaksa secara spesifik mengaitkannya dengan insiden viral Gus Miftah bersama penjual es teh yang sempat memicu kecaman publik beberapa waktu lalu.

"Gus Miftah itu yang kemarin ramai gara-gara penjual es?," tanya jaksa sebagaimana dilansir dari Kompas.com, dalam Grid.ID, Selasa (14/7/2026).

"Iya," jawab Dheki Martin membenarkan isi BAP miliknya.

Baca juga: Duduk Perkara Nama Gus Miftah Disebut Terima Aliran Dana Rp100 Juta di Kasus Korupsi Jalur Ganda KA

Tidak berhenti di situ, jaksa penuntut umum kembali mempertegas ciri fisik pendakwah tersebut agar informasi mengenai aliran dana proyek ini menjadi terang benderang bagi masyarakat luas, khususnya di wilayah Pati.

"Dia juga dapat duit itu Rp100 juta rupiah. Supaya orang tahu, supaya orang di Pati juga tahu. Gus Miftah yang rambutnya gondrong dapat duit dari bapak (Dheki) dari duit proyek supaya orang tahu,"

Di sisi lain, Bupati Pati nonaktif, Sudewo, memilih bersikap pasif dan enggan memberikan tanggapan mendalam mengenai dugaan aliran uang Rp100 juta yang menyeret nama sang pendakwah.

"Saya enggak paham. Kalau itu enggak paham. Enggak tahu," ujar Sudewo singkat usai persidangan. Ia kemudian menyambung, "Saya enggak bisa komentar apa-apa, terima kasih." tegas jaksa di ruang sidang.

Sosok dan Kiprah Dakwah Unik Gus Miftah

Terungkap segini gaji Miftah Maulana alias Gus Miftah sebagai utusan khusus Presiden disorot usai viral mengolok penjual es teh.
Terungkap segini gaji Miftah Maulana alias Gus Miftah sebagai utusan khusus Presiden disorot usai viral mengolok penjual es teh. (Tribunnews.com)

Terlepas dari persoalan hukum yang kini tengah bergulir di pengadilan, sosok Gus Miftah dikenal luas sebagai salah satu mubaligh terkemuka di tanah air. 

Lahir di Lampung pada 5 Agustus 1981, pria berambut gondrong ini memiliki garis keturunan yang dihormati, yakni sebagai keturunan Kiai Muhammad Ageng Besari, tokoh ulama besar yang mendirikan Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur.

Di Yogyakarta, Gus Miftah mendirikan sekaligus memimpin Pondok Pesantren Ora Aji yang berlokasi di Sleman. 

Pesantren ini memiliki keunikan tersendiri karena terbuka bagi berbagai kalangan masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial mereka.

Gaya dakwah Gus Miftah kerap dikategorikan tidak biasa dan berani.

Namanya sempat menjadi perbincangan hangat secara nasional pada tahun 2018 ketika ia memilih menggelar pengajian dan pembacaan shalawat di sebuah kelab malam di Bali. 

Langkah tersebut diambilnya sebagai bagian dari metode dakwah merangkul kaum marjinal yang jarang tersentuh oleh dakwah konvensional. 

Di luar aktivitas keagamaan, ia juga merambah dunia wirausaha dengan merilis bisnis produk parfum bermerek D'Goes.

Kiprah di Pemerintahan dan Kontroversi dengan Penjual Es Teh

Reputasi dan pengaruhnya di masyarakat membawa Gus Miftah masuk ke dalam lingkaran pemerintahan. 

Sejak 22 Oktober 2024, ia resmi mengemban amanat penting setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.

Namun, posisi penting di pemerintahan tersebut tidak membuatnya luput dari kekhilafan. 

Pada November 2024, saat menghadiri sebuah acara pengajian di Magelang, Jawa Tengah, Gus Miftah menuai kritik tajam akibat gurauannya yang dinilai kasar dan merendahkan seorang pedagang es teh yang sedang menjajakan dagangan di tengah jemaah.

"Es tehmu isih akeh (masih banyak)? Ya, sana jual goblok. Jual dulu, nanti kalau belum laku, ya sudah, takdir," ujar Gus Miftah dalam rekaman video yang kemudian viral dan memicu gelombang kecaman netizen.

Akibat kejadian tersebut, Gus Miftah tidak hanya menerima kritik dari masyarakat, melainkan juga mendapat teguran langsung dari Sekretaris Kabinet, Mayor Teddy Indra Wijaya, yang memintanya untuk menjaga etika komunikasi di ruang publik. 

Menanggapi situasi tersebut, Gus Miftah akhirnya menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang ditimbulkannya.

"Dengan kerendahan hati, saya meminta maaf atas keklifan saya, saya memang sering bercanda dengan siapa pun. Maka untuk itu, atas candaan kepada yang bersangkutan," tutur Gus Miftah kala itu.

Ia pun menambahkan rasa penyesalannya kepada publik luas yang merasa tidak nyaman dengan penyampaiannya. 

"Saya juga meminta maaf pada masyarakat atas kegaduhan ini, yang merasa terganggu dengan candaan saya, yang dinilai oleh masyarakat mungkin berlebihan, untuk itu saya minta maaf," pungkasnya.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.