ESDM Jateng Panggil Pakuwon Mall Semarang : Minta Detailkan Tapak Lokasi Proyek
rival al manaf July 14, 2026 08:11 PM

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah memanggil Pakuwon Mall Semarang untuk melakukan klarifikasi studi geologi.

Klarifikasi ini dilakukan sebagai langkah pencegahan karena kawasan pembangunan Pakuwon Mall di Gombel Lama, Kota Semarang, merupakan wilayah yang dilalui lempengan sesar dan patahan.

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Siti Ismaillyaningsih menyebut, telah melakukan klarifikasi terhadap sejumlah ahli dari proyek Pakuwon Mall Semarang untuk memastikan tapak proyek tidak berdiri di atas lintasan lempengan sesar.

Menurutnya, kawasan proyek tersebut dilalui oleh satu patahan dan satu lempengan sesar.

Baca juga: Pantas Pakuwon Mall Semarang Berani Bangun di Tanah Bergerak, Ternyata Pakai Dinding Penahan 7 Lapis

Baca juga: "Kami Tak Diajak Konsultasi" Dinas ESDM Sebut Mall Terbesar Dibangun di Lokasi Tanah Gerak Semarang

Untuk itu, lokasi tapak proyek harus dipastikan agar tidak benar-benar di atas lempengan sesar tersebut.

"Dari klarifikasi tadi (Selasa, 14 Juli) dalam forum terungkap, kami belum sepakat soal titik sesar.  

Jadi kami meminta mereka mendetailkan kembali, posisi tapak proyek antara di selatan atau utara, karena di situ ada indikasi (dilalui) sesar," terangnya kepada Tribun, Selasa (14/7/2026).

Menurut Lya, sapaannya, hasil studi lembaganya dan laporan dari dinas lain, kawasan Gombel Lama yang menjadi lokasi pembangunan mal  merupakan wilayah rawan tanah gerak.

Lokasi itu rawan bencana tanah gerak karena dilalui dua lempengan dan sesar.

Di lokasi tersebut, bahkan pernah ada laporan rumah terbelah.

Selain itu, ada kelurusan mata air atau sumber mata air dari rekahan batuan.

"Kami menilai titik sesarnya di selatan, tapi mereka menilai di utara-nya, nah ini perlu didetailkan kembali," ungkapnya.

Lya melanjutkan,  hanya titik struktur geologi saja yang masih menjadi tugas bagi Pakuwon Mall Semarang untuk mendetailkannya.

Menyoal susuan batuan hingga titik clay di bawah kontur tanah Gombel, secara umum hasil kajian antar dua lembaga telah sepakat.

"Kami sepakat, susunan clay itu menjadi bidang gelincir, sehingga sebagai pengeboran tanah sekitar 20 titik di lokasi menggunakan sistem bor polimer," bebernya.

ESDM Jateng, tidak ingin mal tersebut dibangun di atas lempengan sesar.  

Sebab, tempat tersebut nantinya akan dikunjungi banyak orang sehingga segi keamanan harus menjadi prioritas. Terlebih, mal tersebut juga digadang sebagai pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia.

"Untuk menjamin keamanan itu, mereka telah melakukan studi selama tiga tahun dari 2022-2025, itu studi terlama untuk sebuah proyek, jadi (laporan) lengkap sekali," sambung Lya.

Meskipun studi sudah dilakukan cukup lengkap, ESDM tetap melakukan pemantauan.

Lya meminta Pakuwon Mall untuk memperhatikan warga sekitar yang terdampak pembangunan.

Dari hasil temuan di lapangan, ada sekitar 19 rumah rusak akibat aktivitas pembangunan proyek tersebut.

"Namun, kami belum tahu, apakah itu dampak pembangunan jalan turunan gombel atau pembangunan mal, karena ada dua aktivitas proyek di situ," ucapnya. (Iwn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.