Tak Ada Prestasi Tanpa Pengorbanan, Spanyol Pakai Slogan Jenderal Romawi Hadapi Prancis
Suci BangunDS July 14, 2026 09:30 PM

TRIBUNNEWS.COM - "Tak ada kemenangan tanpa sebuah pertaruhan, dan tak akan ada prestasi besar yang diraih tanpa pengorbanan."

Itu menjadi ungkapan dari jenderal sekaligus politikus Romawi Kuno, Julius Caesar, yang oleh pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente dijadikan fondasi utama untuk menatap laga berat semifinal Piala Dunia 2026.

Yap, timnas Spanyol besutan Luis de la Fuente akan diuji favorit juara Piala Dunia 2026, Prancis, pada perebutan tiket final yang bakal berlangsung di Stadion Dallas, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Rabu (15/7) pukul 02.00 WIB.

Secara komposisi skuad, Spanyol memiliki peluang yang sama besarnya dengan Prancis untuk menggapai laga puncak. Tetapi jika di head to head individunya, rasanya Les Bleus lebih dominan.

Bagaimana tidak, lini serang Prancis menggaransi Michael Olise, Kylian Mbappe, dan Ousmane Dembele, yang sama baiknya dalam mencetak gol. 

Itupun belum diutak-atik dengan kombinasi penyerang di bangku cadangan seperti Marcus Thuram, Desire Doue, maupun Bradley Barcola.

BOLA RAKSASA PIALA DUNIA - Giant ball atau bola raksasa dipajang di lobi Hotel Aryaduta Makassar, Jalan Somba Opu, Makassar, Sulsel, Selasa (7/7/2026). Bola raksasa ini dihadirkan Aryaduta Makassar menyemarakkan Piala Dunia 2026.
BOLA RAKSASA PIALA DUNIA - Giant ball atau bola raksasa dipajang di lobi Hotel Aryaduta Makassar, Jalan Somba Opu, Makassar, Sulsel, Selasa (7/7/2026). Bola raksasa ini dihadirkan Aryaduta Makassar menyemarakkan Piala Dunia 2026. (Tribunnews.com/Tribun Timur/ Muh Abdiwan)

Sementara La Furia Roja, julukan timnas Spanyol, praktis mengandalkan Lamine Yamal, bocah 18 tahun yang harus menanggung beban ekspektasi tinggi publik negaranya. 

Selain itu, Spanyol mengandalkan soliditas permainan lewat Fabian Ruiz, Dani Olmo, hingga Pedri. Bagaimana dengan lini serang?

Akan sangat jomplang jika Mbappe, Olise, maupun Dembela disandingkan dengan Mikel Oyarzabal maupun super sub La Roja, Mikel Merino.

Benar adanya jika kedua tim memiliki ace alias pemain andalan sebagai pemecah kebuntuan. Tetapi Les Bleus, julukan Prancis, terlalu banyak ace di lini depan.

"Semifinal Piala Dunia kali ini, pasti probabilitas dramanya akan sangat besar, karena melibatkan empat negara terbaik," kata Gigih dalam podcas Super Taktik berjudul "Semifinal Berdarah Piala Dunia 2026: Argentina Dikepung Trio Raksasa Eropa" di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

"Selain itu, tiap negara juga punya key player-nya masing-masing yang nantinya bakal jadi game changer,"

"Mbappe dengan tim Prancisnya, Lamine Yamal dengan Spanyol, Messi dengan Argentina dan Bellingham dengan Inggris," tukas pria yang juga mengidolakan Wigan Athletic.

Baca juga: Piala Dunia Bisa Bermanfaat untuk Kesehatan Mental

Pakai Slogan Julis Caesar

Luis de la Fuente menyadari situasi timnya. 

Bahkan reaksinya cukup keras ketika Didier Deschamps, pelatih Prancis, memberikan beban status favorit juara kepada timnas Spanyol.

Apa yang disampaikan Deschamps bak "lempar batu sembunyi tangan", di mana status favorit dengan keunggulan skuad mewah justru dimiliki Les Bleus.

"Itu tidak berarti apa-apa, baik Anda favorit atau tidak. Bagi saya, status sebagai favorit tidak berarti apa-apa, dan bukan faktor penentu," timpal de la Fuente dalam merespons sematan favorit juara dari Deschamps, dikutip dari laman Marca.

Alih-alih menampik beban berat label favorit juara, Luis de la Fuente yang juga sukses membawa La Roja menjuarai Euro 2024, dengan eksentrik tak menolak anggapan sang pelatih rival.

"Memenangkan Piala Dunia akan menjadi sentuhan akhir yang sempurna. Hal itu sulit, tapi, mengapa tidak?” sambung pelatih berusia 65 tahun.

Untuk menguatkan tekadnya dan pemain timnas Spanyol, Luis de la Fuente menggaungkan slogan Julius Caesar, sang jenderal Romawi Kuno.

"Julius Caesar pernah berkata bahwa tidak ada prestasi besar tanpa penderitaan, dan saya percaya pada ungkapan itu. Jika Anda ingin mencapai sesuatu yang penting, Anda harus mengorbankan sesuatu di sepanjang jalan dan mengalami banyak penderitaan.”

Ini menjadi ungkapan yang cukup menohok. Bagaimanapun "tidak ada sesuatu yang dimenangkan jika tidak dipertaruhkan", merupakan pengganti dari "nothing to lose" yang coba diterapkan Spanyol ketika melawan Prancis, sang juara Piala Dunia 2018.

Terakhir, de la Fuente menyebut, empat tim semifinalis Piala Dunia 2026, baik itu Spanyol, Prancis, Inggris, dan Argentina, dalam hal kekuatan "duduk sama rendah berdiri sama tinggi".

"Kita semua adalah tim-tim besar. Ada kesetaraan yang besar dalam level permainan, dan tidak ada tim yang lebih baik dari yang lain," pungkas pelatih yang berperan sebagai 'shield' bagi pemainnya mengurangi tekanan dari media.

(Tribunnews.com/Giri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.