- China mengaku sangat prihatin atas pecahnya kembali pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Beijing mendesak kedua pihak untuk menghormati gencatan senjata dan memulihkan jalur aman di Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa (14/7/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyampaikan sikap.
Ia menegaskan kembali posisi Beijing bahwa Selat Hormuz digunakan untuk navigasi internasional.
Menurut Jian, AS harus menghormati hak dan kepentingan sah negara-negara pesisir perairan tersebut.
"Menghormati hak dan kepentingan sah negara-negara pesisir Selat Hormuz dan memulihkan jalur pelayaran yang normal dan aman melalui Selat sesegera mungkin adalah aspirasi bersama komunitas internasional," kata Jian, dikutip dari Al Arabiya pada Selasa (14/7/2026).
China juga berpandangan bahwa gencatan senjata AS-Iran yang selama ini berlaku dicapai dengan susah payah.
Oleh karena itu, kedua negara harus mempertahankan kesepakatan demi mencegah api perang berkobar lagi.
"China sangat prihatin dengan kembali berkobarnya konflik militer di kawasan Teluk," sambungnya.
Diketahui AS menyerang Iran pada Senin (13/7/2026) yang menandai serangan tiga malam berturut-turut.
Targetnya adalah sistem pertahanan pantai Iran, lokasi rudal dan drone, serta kemampuan maritim.
Presiden AS Donald Trump juga memerintahkan dimulainya kembali blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dan masuk pelabuhan Iran.
Ia bahkan mengusulkan penerapan tarif 20 persen bagi kapal dagang yang melewati Selat Hormuz.