TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Keberlanjutan organisasi seni tidak cukup hanya mengandalkan pertunjukan, festival, maupun bantuan pendanaan.
Komunitas seni juga perlu memiliki tata kelola yang baik, visi yang jelas, serta kemampuan membangun kemandirian agar tetap bertahan dalam jangka panjang.
Hal tersebut menjadi salah satu materi utama dalam Pelatihan Manajemen Seni Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau dengan Pegiat dan Pengurus Yayasan Padepokan Seni Bagong Kusudiardjo Yogyakarta, di Kantor Bupati Malinau Kalimantan Utara.
Padepokan Seni Bagong Kusudiardjo Yogyakarta merupakan lembaga seni dan budaya yang berbasis di Yogyakarta, didirikan oleh maestro seni Bagong Kussudiardja.
Selama puluhan tahun, lembaga ini dikenal mengembangkan pendidikan, penciptaan karya, hingga pengelolaan organisasi seni berbasis kolaborasi, sehingga kerap menjadi rujukan dalam penguatan manajemen komunitas seni di berbagai daerah.
Baca juga: Tak Sekadar Tampil di Panggung, Pemkab Malinau Siapkan Pelaku Seni Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif
Septi mengatakan, fondasi utama organisasi seni terletak pada visi dan misi dalam merawat seni budaya. Sementara kegiatan seperti latihan rutin, pertunjukan maupun festival merupakan bentuk implementasi dari tujuan organisasi.
Menurut dia, banyak komunitas seni masih bergantung pada undangan pemerintah, hibah, dan sponsor sebagai sumber pembiayaan kegiatan.
Karena itu, pelatihan tersebut mendorong peserta untuk mengenali potensi lain yang dimiliki organisasi agar mampu membangun keberlanjutan secara mandiri.
"Hal yang paling prinsip dan fundamental adalah visi dan misi organisasi seni terhadap sumber daya seni dan budaya yang kemudian dikelola oleh komunitas," kata Septi, Selasa (14/7/2026).
Dia menjelaskan, sumber daya yang dapat dikembangkan tidak hanya berasal dari nilai seni, tetapi juga lingkungan, sumber daya manusia, hingga jejaring yang dimiliki setiap komunitas.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diajak menyusun master plan organisasi mulai dari target satu tahun, tiga tahun, lima tahun hingga sepuluh tahun sebagai arah pengembangan komunitas seni.
Baca juga: Lestarikan Warisan Budaya, Pemkab Tana Tidung Resmikan Sanggar Seni Upun Taka
Menurut Septi, pelestarian seni dan budaya merupakan investasi jangka panjang sehingga membutuhkan komitmen, regenerasi, dan pengelolaan organisasi yang konsisten.
"Yang pertama adalah komitmen terhadap tujuan mengapa komunitas berkegiatan dan melestarikan seni budayanya. Kemudian kami mengajak peserta membayangkan rencana jangka panjang agar organisasi tetap berjalan sesuai tujuan yang ingin dicapai," ujarnya.
Selain membagikan konsep manajemen organisasi, Padepokan Seni Bagong Kusudiardjo juga memperkenalkan pengalaman mereka dalam merawat warisan seni melalui penguatan kelembagaan dan kolaborasi lintas sektor.
Septi menegaskan pendanaan atau funding sebaiknya dipandang sebagai stimulus, bukan tujuan utama organisasi seni.
"Funding hanyalah salah satu sumber daya. Yang paling penting adalah bagaimana dana tersebut menjadi investasi jangka panjang untuk menggerakkan komunitas sehingga mampu menciptakan peluang ekonomi baru. Kerja sama dengan berbagai mitra juga harus dibangun berdasarkan tujuan yang sama untuk melestarikan budaya," katanya.
(*)
Penulis: Mohammad Supri