Laporan Wartawan TribunJatim.com, Bobby Koloway
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Masyarakat yang kerap beraktivitas di sekitar bantaran sungai kawasan Wonokromo diminta untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra.
Pasalnya, seekor buaya muara berukuran besar dilaporkan menampakkan diri dan berenang ke permukaan di kawasan Pintu Air Jagir, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya pada awal pekan ini.
Merespons laporan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya langsung bergerak cepat memperketat pengawasan dan memasang rambu peringatan di sepanjang aliran sungai guna mencegah terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Surabaya, Linda Novanti, membenarkan bahwa aduan tersebut pertama kali divalidasi dari kesaksian warga yang melihat moncong predator tersebut menyembul di dekat Pintu Air Jagir, Jalan Jagir Wonokromo Nomor 88.
Baca juga: Sindikat Curanmor Sasar Siswa SMP Beraksi di 17 TKP Surabaya, Tiap Minggu Gondol 2 Motor
"Begitu menerima laporan awal pekan ini, tim rescue langsung meluncur dan berkoordinasi dengan pelapor di lokasi. Satwa eksotis ini memang terpantau kerap menampakkan diri di sekitar struktur Pintu Air Jagir, namun sejauh ini karakteristiknya tidak pernah naik atau merayap ke daratan," terang Linda di Surabaya, Selasa (14/7/2026).
Dari hasil identifikasi taktis di lapangan, satwa tersebut dipastikan merupakan jenis buaya muara dengan panjang tubuh ditaksir mencapai 3,5 meter.
Guna meminimalisir risiko keselamatan, BPBD menggandeng Posko Terpadu Jemursari, Projopati Ngagel, dan Perum Jasa Tirta untuk mematok papan larangan beraktivitas di sepanjang bibir Kali Jagir.
"Kami meminta dengan sangat agar warga menghentikan sementara seluruh aktivitas di tepian Kali Jagir, terutama kegiatan memancing yang sering mengundang kerumunan di malam hari," tegas Linda.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Surabaya, Arif Sunandar, menjelaskan bahwa fenomena kemunculan buaya di area ini bukan yang pertama kali terjadi.
Catatan kedaruratan menunjukkan satwa serupa sempat dilaporkan menampakkan diri di wilayah hilir pada Juni lalu.
Pihak BPBD sendiri telah melakukan langkah kooperatif dengan menghubungi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk menentukan langkah penanganan jangka panjang.
"Merujuk pada hasil kajian bersama BKSDA, aliran sungai di kawasan tersebut secara ekologis memang masih menjadi bagian dari ruang jelajah dan habitat asli buaya muara. Sebelum di pintu air Jagir baru-baru ini, satwa ini dulunya juga sempat terpantau muncul di bawah jembatan Nginden," urai Arif.
Arif menambahkan, berdasarkan pemindaian statis petugas, saat ini hanya ada satu ekor buaya yang terdeteksi aktif di lokasi.
Baca juga: Nasib Ipan Mendadak Hilang usai Ditarik Buaya saat Memperbaiki Perahu, Ayah Korban Datang Mengazani
Opsi penangkapan atau evakuasi dinilai tidak realistis dan justru berpotensi membahayakan karena kondisi geografis Kali Jagir yang sangat lebar, dalam, dan arusnya deras. Secara ilmiah, buaya muara di alam liar mampu tumbuh hingga sepanjang 4–5 meter dengan rentang usia mencapai 50 hingga 70 tahun.
Oleh karena itu, instansinya lebih memilih mengedepankan aspek edukasi dan mitigasi preventif. Hingga Selasa (14/7/2026), unit patroli air dan darat masih rutin menyisir kawasan menggunakan pengeras suara demi membuyarkan warga yang nekat mendekat.
BPBD juga meminta warga segera menghubungi Call Center kedaruratan apabila melihat pergerakan satwa tersebut mengarah ke pemukiman.
"Masyarakat tidak perlu diselimuti rasa takut yang berlebihan, namun wajib menjaga kewaspadaan. Jangan sekali-kali mencoba memancing, mengusik, apalagi berniat menangkapnya sendiri. Risiko fatalitas terbesar justru muncul apabila ada warga yang terpeleset atau jatuh ke dalam sungai, karena hal itu bisa memicu naluri berburu alami dari satwa tersebut," pungkas Arif.