TRIBUNNEWS.COM - Di tengah meningkatnya eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut memerkeruh suasana dengan melontarkan pernyataan kontroversial.
Sosok sekutu dekat Presiden AS Donald Trump di Timur Tengah ini menegaskan bahwa Israel akan memberikan tanggapan yang sangat telak jika terjadi serangan di wilayah kedaulatannya.
Hal ini disampaikan Netanyahu saat berbicara dalam sebuah konferensi di kota Dimona, Negev, Israel pada Selasa (14/7/2026)
Di dalam pidatonya tersebut, Netanyahu menyampaikan posisi negaranya dalam dinamika terbaru terkait eskalasi di kawasan Timur Tengah yang terus berkembang.
Dilansir Times of Israel, Netanyahu memastikan bahwa militer Israel telah bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang nantinya bisa terjadi.
"Kami siap untuk setiap skenario," tegas Netanyahu di hadapan para undangan dan hadirin konferensi tersebut.
Lebih lanjut, ia menekankan agar para pemimpin Iran tidak meremehkan tekad Israel untuk menjaga keamanan wilayahnya.
Netanyahu bahkan mewanti-wanti para pemimpin di Teheran tidak akan hidup tengan bila mereka berani menyerang Israel.
Baca juga: Tekanan ke Israel Menguat, UE Bahas Sanksi Dagang Permukiman Ilegal, Jerman Menolak
"Saya punya satu pesan untuk para pemimpin Iran: Jangan harapkan ketenangan jika Anda menyerang kami," tegasnya
Netanyahu bahkan memperingatkan bahwa serangan lanjutan hanya akan memicu pembalasan yang jauh lebih keras dibandingkan peristiwa sebelumnya.
"Jangan berharap apa yang terjadi sebelumnya akan terulang, karena tidak akan ada pengulangan. Tanggapan sebelumnya cukup kuat, tetapi setiap upaya lebih lanjut untuk menyakiti kami akan dibalas dengan tanggapan yang berbeda, tanggapan yang jauh lebih kuat." sambung Netanyahu.
Perlu diketahui, sebagai bentuk respons terhadap serangan rudal Iran sebelumnya, Israel sempat melancarkan serangan ke fasilitas petrokimia di barat daya Iran pada 8 Juni lalu.
Netanyahu juga menegaskan bahwa era di mana musuh dapat menyerang Israel tanpa konsekuensi serius telah usai.
"Hari-hari di mana seseorang bisa menyerang kami tanpa membayar harga yang mahal telah berakhir," ujar Netanyahu.
Netanyahu juga berjanji akan terus mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang mencoba mengganggu keamanan negaranya.
"Kami membuktikan itu saat menghadapi poros kejahatan Iran, dan kami akan terus bertindak tegas terhadap siapa pun yang menyakiti kami. Begitulah cara kami bertindak, dan begitulah cara kami akan terus bertindak." pungkasnya.
Peringatan Netanyahu ini sendiri muncul tak lama setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada awal pekan ini.
Serangan ini dilakukan hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali "blokade" terhadap Iran di Selat Hormuz.
Trump bahkan mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan biaya bagi kapal-kapal lain demi keamanan pelintasan.
Kebijakan ini dinilai sebagai perubahan drastis dari kebijakan Amerika Serikat selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.
Iran membalas langkah tersebut dengan serangan menyasar Bahrain, Yordania, serta dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang sedang melintasi selat tersebut.
Insiden itu pun menewaskan satu pelaut dan melukai delapan orang lainnya.
Baca juga: Menteri Pertahanan Israel Sebut Kehancuran Gaza Membuatnya Merasa Senang
Pihak Uni Emirat Arab kini mengancam akan membalas serangan Iran, yang berpotensi menarik negara tersebut kembali ke dalam konflik terbuka dengan Teheran.
Ketegangan di Selat Hormuz juga memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi dunia, mengingat kawasan tersebut merupakan jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam global.
Harga acuan minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan, diperdagangkan hingga 87 dollar AS atau sekitar Rp1.566.000 per barel.
Angka tersebut merupakan harga tertinggi yang tercatat sejak Juni lalu.
Minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami kenaikan sebesar 4 persen menjadi lebih dari 81 dollar AS atau sekitar Rp1.458.000 per barel.
Jika dihitung sejak dimulainya perdagangan pada Minggu malam waktu setempat (12/7/2026), harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 15 persen, sementara minyak mentah AS naik lebih dari 12 persen.
Meskipun angka tersebut masih berada di bawah harga puncak perang yang sempat mencapai hampir 120 dolar AS atau setara Rp 2,16 juta.
Kenaikan ini pun mengancam akan memicu lonjakan biaya di berbagai sektor ekonomi.
Kondisi ini juga semakin memperburuk situasi pasca-gencatan senjata yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian sementara antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Saat ini, kesepakatan tersebut telah memasuki separuh jalan dari periode 60 hari yang direncanakan untuk negosiasi akhir, yang seharusnya juga membahas program nuklir Iran yang disengketakan dan isu-isu penting lainnya.
(Tribunnews.com/Bobby)