Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Musim kemarau justru membawa peluang bagi sebagian petani di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Di tengah terbatasnya pasokan air, mereka memilih menanam tembakau di lahan sawah tadah hujan karena dinilai lebih menguntungkan.
Salah satu petani yang membudidayakan tembakau adalah Joko Rusdiyanto, warga Desa Jendi, Kecamatan Selogiri.
Selama dua tahun terakhir, ia rutin menanam tembakau setiap musim kemarau sebagai pengganti tanaman hortikultura yang membutuhkan lebih banyak air.
"Kalau musim hujan biasanya saya tanam melon, semangka, dan cabai. Tapi saat kemarau air terbatas, sehingga tembakau menjadi pilihan agar lahan tetap produktif dan tetap menghasilkan," katanya, Selasa (14/7/2026).
Di lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, Joko menanam sekitar 4.000 batang tembakau.
Ia memperkirakan hasil panen tembakau kering pada musim ini mencapai sedikitnya empat kuintal.
Harga jual tembakau berkisar antara Rp30.000 hingga Rp60.000 per kilogram, bergantung pada kualitas atau grade. Dengan harga tersebut, Joko optimistis mampu meraih omzet minimal Rp12 juta.
Menurutnya, budidaya tembakau tetap memberikan keuntungan karena biaya produksi selama masa tanam sekitar tiga bulan hanya membutuhkan modal sekitar Rp5 juta.
"Kalau dibandingkan lahan dibiarkan kosong saat kemarau, tembakau jauh lebih menguntungkan," ujarnya.
Joko juga memperkirakan hasil panen tahun ini berpotensi lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Menurutnya, kondisi kemarau yang lebih kering akibat fenomena El Nino justru mendukung pertumbuhan tembakau karena tanaman tersebut tidak membutuhkan banyak air.
Untuk pemasaran, ia mengaku tidak mengalami kesulitan. Seluruh hasil panennya telah memiliki pembeli tetap dan langsung diserap perusahaan mitra di Kabupaten Klaten.
"Ada yang mengambil, mitra. Dari Klaten," ujarnya.
Baca juga: BMKG Prediksi Hujan Masih Turun di Klaten Saat Musim Kemarau, Ini Penjelasannya
Kepala Bidang Produksi dan Penyuluhan Dinas Pertanian (Dispertan) Wonogiri, Shidiq Purwanto, mengatakan budidaya tembakau di Kecamatan Selogiri terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini, luas lahan tembakau di wilayah tersebut diperkirakan telah mencapai sedikitnya lima hektare.
"Selogiri sangat memungkinkan untuk ditanami tembakau karena banyak lahan sawah tadah hujan. Namun, perawatannya memang harus lebih intensif dibanding tanaman padi," jelas Shidiq.
Meski demikian, sebagian besar produksi tembakau di Kabupaten Wonogiri masih berasal dari wilayah selatan, seperti Kecamatan Eromoko, Wuryantoro, dan Giriwoyo.
Selain menjadi sumber pendapatan bagi petani, komoditas tembakau juga berkontribusi terhadap penerimaan daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Pada tahun anggaran 2026, Kabupaten Wonogiri tercatat menerima alokasi DBHCHT sebesar Rp19,9 miliar.
(*)