Alasan Medis Mengapa Jamu Menjanjikan Pulih Kilat Wajib Diwaspadai
Willem Jonata July 14, 2026 10:38 PM
profile tribunners
PROFIL PENULIS
Devana Ardiaty, S.Farm., Apt.
Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Balai Besar POM Serang

 

"Jamu ini benar-benar cespleng. Baru sekali diminum, pegalnya langsung hilang."

Ungkapan seperti itu mungkin pernah kita dengar. Di tengah aktivitas yang padat, siapa yang tidak tergoda jika pegal linu yang berhari-hari mengganggu kemudian hilang dalam hitungan menit, tubuh langsung kembali berstamina, atau berat badan turun lebih cepat dari yang dibayangkan?

Bagi sebagian orang, pengalaman seperti itu menjadi bukti bahwa produk tersebut “ampuh”. Padahal, jamu dan Obat Bahan Alam bekerja melalui proses biologis yang umumnya berlangsung secara bertahap.

Karena itu, ketika sebuah produk herbal memberikan efek yang terasa terlalu cepat, masyarakat perlu bertanya: mengapa sebuah produk jamu bisa bekerja sedemikian cepat? Benarkah efek itu berasal dari bahan alam, atau ada sesuatu yang lain yang bekerja di baliknya?

Pertanyaan itu bukan sekadar kekhawatiran. Di balik semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap jamu, masih ada persoalan yang terus menjadi perhatian, yaitu peredaran produk yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

Baca juga: BPOM Gerebek Pabrik Obat dan Jamu Ilegal Mengandung Bahan Kimia Berbahaya di Klaten dan Kudus

Sebagian besar konsumen sebenarnya tidak mencari BKO. Mereka hanya menginginkan hasil yang cepat terasa. Celah inilah yang dimanfaatkan pelaku usaha ilegal dengan menambahkan BKO agar produknya tampak lebih ampuh. 

Semakin cepat efek yang dirasakan, semakin besar pula kepercayaan konsumen.

Namun bukan berarti seluruh produk jamu patut dicurigai. Sebab, industri Obat Bahan Alam di Indonesia terus berkembang ke arah yang lebih baik. Hingga Juni 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat terdapat 20.877 produk jamu dan Obat Bahan Alam lainnya yang masih memiliki izin edar.

Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha telah berupaya memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat sebelum produknya dipasarkan kepada masyarakat.

Setiap tahun, BPOM rutin menerbitkan public warning terkait jamu mengandung BKO. Selama periode 2020–2026 terdapat 449 produk jamu mengandung BKO beredar di Indonesia. 

Sebagian besar merupakan produk ilegal karena mencantumkan nomor izin edar fiktif (51,22 persen), produk yang tidak terdaftar (33,63%) dan produk yang telah dibatalkan nomor izin edarnya (17,37%).

Jika diperhatikan lebih saksama, temuan tersebut memperlihatkan pola yang menarik. Lebih dari 90 persen produk tersebut merupakan jamu dengan klaim meningkatkan stamina pria (42,3%), mengatasi pegal linu (39,2%), dan pelangsing (10,2%).

Ketiga klaim ini memiliki satu kesamaan: semuanya menawarkan hasil yang ingin dirasakan dalam waktu singkat.

Lalu, apa yang membuat sebagian jamu terasa begitu "cespleng"?

Jawabannya ada pada jenis BKO yang paling sering ditemukan BPOM pada tiap kelompok klaim produk. Pada kelompok jamu dengan klaim meningkatkan stamina pria “Obat Kuat”, Sildenafil Sitrat menjadi BKO yang paling sering ditemukan.

Tak heran jika produk tersebut terasa lebih "ampuh". Padahal, sensasi itulah yang perlu diwaspadai. Sildenafil merupakan Obat yang penggunaannya harusberdasarkan indikasi medis dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan. 

Jika dikonsumsi tanpa pengawasan, zat ini dapat menimbulkan efek samping, mulai dari serangan jantung, stroke, hingga kematian mendadak. Hal serupa juga ditemukan pada jamu dengan klaim pegal linu.

BPOM palingsering menemukan Parasetamol, Deksametason, serta kombinasi NatriumDiklofenak dan Parasetamol sebagai BKO yang ditambahkan.

Tak heran jika nyeri cepat mereda karena zat-zat tersebut memang bekerja langsung mengurangi rasa sakit dan peradangan. Deksametason merupakan golongankortikosteroid yang penggunaannya harus sesuai indikasi medis.

Jika dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa pengawasan, dapat meningkatkan risiko wajah membulat (moon face), pengeroposan tulang, dan gangguan kesehatan lainnya.

Sementara itu, pada jamu dengan klaim pelangsing, BPOMpaling sering menemukan Sibutramin sebagai BKO yang ditambahkan.

Tidak sedikit konsumen tergiur karena nafsu makan berkurang sehingga berat badantampak lebih cepat turun. Padahal, efek tersebut bukan berasal dari khasiat bahan alam.

Sibutramin merupakan zat yang penggunaannya sudah dilarangsejak tahun 2010 karena meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular,
termasuk serangan jantung dan stroke.

Temuan BPOM selama enam tahun terakhir menunjukkan bahwa praktik penambahan BKO bukanlah kejadian yang kebetulan. Polanya berulang, yakni memilih bahan kimia tertentu agar konsumen segera merasakan manfaat, lalu membangun kepercayaan melalui pengalaman "sekali minum langsung terasa”.

Lalu, mengapa produk jamu dengan efek instan seperti ini masih diminati?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa literasi masyarakat mengenai jamu mengandung BKO masih perlu diperkuat.

Penelitian di berbagai daerah seperti di Sumedang, Kota Martapura, dan Kabupaten Asahan menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa jamu tidak boleh mengandung BKO.

Penelitian lain di Kabupaten Mamuju, Demak dan Kota Padang jugamenunjukkan bahwa kebiasaan memeriksa legalitas produk melalui penerapan Cek KLIK maupun pemanfaatan aplikasi BPOM Mobile masih belum optimal. 

Akibatnya, keputusan membeli jamu lebih sering dipengaruhi testimoni, rekomendasi orang terdekat, atau promosi di media sosial dari pada pengecekan izin edar.

Lalu, bagaimana agar kita tidak mudah tergiur oleh janji efek instan?

Ada tiga kebiasaan sederhana yang bisa menjadi "filter" sebelum membeli jamu.

Pertama, biasakan Cek KLIK - Cek Kemasan, Label, Izin Edar, danKedaluwarsa terlebih dahulu. Pastikan produk benar-benar terdaftar melalui
aplikasi BPOM Mobile.

Kedua, Waspadai klaim yang berlebihan. Jika satu produk diklaimmampumengatasi berbagai keluhan penyakit, mulai dari pegal linu, meningkatkan stamina, menurunkan berat badan, hingga mampu mengobati berbagai penyakit lain, justru saat itulah kita perlu lebih kritis dan waspada.

Dalam dunia kesehatan, tidak ada satu produk yang mampu menjadi solusi untuksemua masalah dan solusi yang terdengar terlalu sempurna justru layak dipertanyakan. Terakhir, jangan buru-buru terpukau oleh efek instan.

Perlu diingat, bahwa jamu dan Obat Bahan Alam lainnya bekerja melalui mekanisme yang berbeda dengan Obat kimia. Karena itu, ketika sebuah produk jamu memberikan hasil yang terasa "terlalu instan", jangan langsung menganggapnya sebagai bukti keampuhan.

Bisa jadi, justru itulah alasan untuk memastikan kembali keamanan dan legalitasnya.

Pada akhirnya, yang patut menjadi pertimbangan bukanlah seberapa cepat efeknya terasa, melainkan apakah produk jamu tersebut aman, bermutu, dan memiliki khasiat yang telah dibuktikan sesuai ketentuan.

Sebab, kesehatan bukan tentang hasil yang instan, tetapi tentang perlindungan bagi tubuh dalam jangka panjang.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.