Kasus Gigitan Ular di Pekalongan Meningkat, Tangan Khairudin Sempat Terlilit saat Evakuasi
M Syofri Kurniawan July 15, 2026 05:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Di balik keberhasilannya mengevakuasi ratusan ular yang meresahkan warga, Khairudin (46), petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pekalongan, ternyata belum pernah mengikuti pelatihan khusus penanganan ular.

Meski hanya mengandalkan pengalaman dan belajar secara otodidak, selama hampir 10 tahun bertugas, ia justru menjadi personel yang paling sering diandalkan setiap kali ada laporan ular masuk ke permukiman.

Khairudin mengaku, awalnya tidak memiliki kemampuan maupun keberanian menangani ular.

Bahkan sebelum bergabung dengan Damkar, ia mengaku sangat takut terhadap reptil tersebut.

Namun, tingginya permintaan masyarakat membuatnya memberanikan diri untuk belajar secara mandiri.

Berbekal pengalaman di lapangan, ia perlahan menguasai teknik menangkap, dan mengevakuasi ular dari berbagai lokasi.

evakuasi ular di pekalongan
Petugas Damkar Kabupaten Pekalongan usai evakuasi ular sanca, di wilayah Kajen beberapa bulan yang lalu.

"Saya dulu juga takut ular. Karena banyak permintaan warga, akhirnya belajar sendiri bagaimana untuk menangkap ular. Sampai sekarang belum pernah ikut pelatihan khusus," ujarnya saat dihubungi Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.

Menurut Khairudin, hingga kini belum semua personel Damkar memiliki kemampuan melakukan evakuasi ular.

Kondisi tersebut membuat, dirinya kerap dipanggil ketika ada laporan ular masuk ke rumah warga.

"Kalau ada laporan, biasanya teman-teman menghubungi saya. Tidak semua personel berani menangani ular karena memang belum ada pelatihan khusus," katanya.

Ia berharap, ke depan seluruh personel Damkar mendapatkan pelatihan penanganan satwa liar agar kemampuan evakuasi tidak hanya dimiliki oleh beberapa orang.

Dengan begitu, pelayanan kepada masyarakat bisa dilakukan lebih cepat dan merata.

Selama bertugas, Khairudin telah menangani berbagai jenis ular, termasuk ular sanca berukuran besar.

Salah satu yang paling berkesan adalah saat mengevakuasi ular sanca sepanjang sekitar tujuh meter di wilayah Kecamatan Kajen.

Baginya, ular sanca menjadi tantangan paling berat karena memiliki tenaga lilitan yang sangat kuat. Bahkan sekitar bulan November tahun lalu, ia sempat menjadi korban gigitan ular sanca saat melakukan evakuasi di wilayah Kajen.

"Saat itu ular melilit tangan saya, hingga akhirnya menggigit tangan kanan. Akibatnya, urat tangan saya robek dan harus menjalani perawatan selama tiga hari di RSUD Kajen. Saat itu, kondisi saya bahkan sempat mengalami kejang," ucapnya.

Meski pernah mengalami kejadian yang membahayakan, Khairudin mengaku tidak kapok.

Ia tetap berkomitmen membantu masyarakat, setiap kali menerima laporan keberadaan ular yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.

Menurutnya, lokasi evakuasi yang paling sulit adalah ketika ular bersembunyi di atap rumah.

Selain harus bekerja di ketinggian, petugas sering kali terpaksa membongkar plafon atau eternit agar ular dapat dikeluarkan secara aman.

"Harapan saya ke depan, ada pelatihan khusus untuk seluruh personel Damkar, sehingga kemampuan evakuasi ular dimiliki semua anggota. Selain itu, pelayanan kepada masyarakat bisa lebih maksimal," pungkasnya.

Sementara itu, Kasatpol PP Kabupaten Pekalongan Wahyu Kuncoro mengatakan, berdasarkan data dari bulan April-Juni 2026, petugas Damkar Kabupaten Pekalongan sudah menangani sedikitnya 70 laporan evakuasi ular.

"Dari total 70 penanganan, ular sanca menjadi jenis yang paling banyak dievakuasi dengan 15 kasus, disusul ular kobra sebanyak 8 kasus, welang 5 kasus, king koros 2 kasus, serta masing-masing satu kasus ular kobra jawa dan weling. Selain itu, petugas juga menangani evakuasi king kobra, ular cincin, ular cincin kuning, ular sapi, ular hijau hingga sejumlah laporan yang tidak dapat diidentifikasi jenis ularnya," katanya.

Wahyu juga mengungkapkan, meningkatnya kemunculan ular berkaitan dengan perubahan musim menuju kemarau.

"Saat ini menjelang musim kemarau, cuaca malam cukup dingin. Ular sebagai binatang berdarah dingin akan mencari tempat yang hangat, sekaligus mencari mangsa, seperti tikus maupun hewan ternak. Karena itu masyarakat harus lebih waspada," kata Wahyu.

Ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi habitat maupun tempat persembunyian ular.

"Bersihkan tumpukan sampah, semak maupun serasah atau daun-daun kering yang sering dijadikan tempat persembunyian ular. Lingkungan yang bersih akan mengurangi potensi ular masuk ke rumah," imbuhnya.

Di sisi lain, sepanjang tahun 2026, RSUD Kajen menangani 45 kasus gigitan ular, dengan sebagian besar korban harus menjalani perawatan inap.

Bahkan, satu warga dilaporkan meninggal dunia setelah diduga digigit ular weling saat tidur.

Data RSUD Kajen mencatat, dari 45 kasus gigitan ular yang ditangani sepanjang tahun ini, sebanyak 36 pasien harus menjalani perawatan inap, sedangkan sembilan pasien lainnya cukup mendapatkan penanganan rawat jalan.

Sebanyak 44 pasien berhasil sembuh, sementara satu pasien meninggal dunia.

Korban meninggal merupakan warga Desa Mesoyi, Kecamatan Talun. Korban diduga digigit ular weling ketika sedang tidur pada Minggu (5/7) dini hari.

Meski sempat mendapatkan penanganan medis di RSUD Kajen, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

Direktur RSUD Kajen, dokter Imam Prasetyo, mengatakan, meningkatnya jumlah kasus selama musim kemarau menunjukkan masyarakat perlu lebih waspada terhadap keberadaan ular, terutama di lingkungan permukiman maupun area pertanian.

Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan pada musim kemarau membuat habitat alami ular menjadi lebih kering sehingga satwa tersebut lebih sering keluar mencari tempat yang lembap, sumber air, dan mangsa.

Akibatnya, ular kerap ditemukan di persawahan, kebun, pekarangan rumah hingga saluran irigasi.

"Rata-rata pasien yang digigit ular yaitu yang dewasa, dan anak-anak sekitar 2 orang. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera datang ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gigitan ular agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin," ujar dokter Imam.

Ia menjelaskan, gigitan ular berbisa tidak boleh dianggap sepele karena dapat menyebabkan pembengkakan berat, gangguan pembekuan darah, kerusakan jaringan, hingga gangguan pernapasan apabila terlambat mendapatkan penanganan medis.

RSUD Kajen mengimbau masyarakat menggunakan sepatu bot atau alas kaki tertutup saat bekerja di sawah maupun kebun.

Warga juga diminta rutin membersihkan semak belukar, tumpukan kayu, maupun barang-barang di sekitar rumah yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular.

Aktivitas pada malam hari juga sebaiknya dilakukan dengan penerangan yang memadai.

"Apabila tergigit ular, masyarakat diminta tidak melakukan tindakan yang justru dapat memperparah kondisi, seperti menyayat luka, mengisap racun, maupun memasang torniket terlalu kencang. Korban disarankan tetap tenang, membatasi pergerakan bagian tubuh yang tergigit, lalu segera menuju puskesmas atau instalasi gawat darurat rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis, termasuk pemberian serum antibisa apabila diperlukan," jelasnya. (Indra Dwi Purnomo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.