Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington "memperbarui" blokade terhadap Iran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Serangan Arab Saudi ke wilayah Yaman ternyata mendapat dukungan langsung dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Dukungan itu disampaikan saat Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) melakukan panggilan telepon dengan Trump.
Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (14/7/2026) pagi.
Serangan terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington "memperbarui" blokade terhadap Iran di Selat Hormuz.
Donald Trump secara terpisah mengisyaratkan Amerika Serikat akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal lain untuk jalur aman, yang membalikkan kebijakan AS selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.
Iran membalas dengan serangan yang menargetkan Bahrain dan dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab yang melintas di Selat Hormuz, menewaskan satu pelaut dan melukai delapan lainnya.
Serangan-serangan ini terjadi ketika Iran dan AS sama-sama bersaing untuk menguasai Selat Hormuz yang dulunya dilalui seperlima dari seluruh minyak mentah dan gas alam pada masa damai.
Harga minyak mentah Brent acuan naik ke level tertinggi satu bulan di atas $84 pada perdagangan Selasa pagi, masih jauh di bawah hampir $120 yang dicapai pada puncak perang tetapi mengancam akan membuat biaya di mana-mana menjadi lebih tinggi.
Pada Senin (13/7/2026), Trump mengatakan kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt kesepakatan yang dicapai bulan lalu "dirancang untuk menguji" Iran.
Baca selengkapnya >>>
Korban tewas akibat kebakaran pub di Bangkok, Thailand, kini meningkat menjadi 30 orang.
Mengutip The Guardian, pihak berwenang telah mengonfirmasi identitas 27 korban, sementara 3 lainnya masih belum teridentifikasi.
Sebagian besar korban diyakini merupakan warga negara Thailand.
Dari para korban luka, 24 orang berada dalam kondisi kritis, 15 mengalami luka sedang, dan 36 lainnya mengalami luka ringan serta telah diperbolehkan pulang.
Penilaian awal petugas penanggulangan bencana menunjukkan kebakaran diduga dipicu korsleting listrik pada pendingin udara yang terpasang di langit-langit pub.
Kepala Kepolisian Nasional Thailand, Kittiratt Phanphet, mengatakan kepada wartawan pada Senin:
"Saat ini, polisi telah menetapkan kelalaian sebagai teori utama yang memandu penyelidikan."
Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial pada Senin malam, pub Rong Beer Na Ladprao menyampaikan permintaan maaf yang mendalam atas insiden tersebut serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban.
Baca selengkapnya >>>
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz (70), mengatakan kehancuran yang meluas di Gaza yang terkepung memberinya perasaan yang baik.
Dalam pernyataannya saat mengunjungi Gaza utara, yang disiarkan Channel 14 Israel pada Senin (13/7/2026), Katz juga mengumumkan rencana mendirikan tiga pos pemukiman yang terkait dengan militer di wilayah tersebut.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya saat melihat kehancuran di Gaza, Katz menjawab, "Perasaan yang baik, bukan?"
Ia mengklaim kehancuran tersebut, merupakan hasil dari kebijakan yang disengaja untuk menghilangkan ancaman.
Katz mengatakan, Israel telah meninggalkan strategi sebelumnya dan menerapkan pendekatan yang lebih agresif.
Channel 14 menyebut, salah satu momen paling signifikan dari kunjungan tersebut adalah usulan Katz untuk mendirikan permukiman Yahudi permanen di Gaza utara.
Katz mengatakan, ia bermaksud mendirikan tiga pos terdepan Nahal di lokasi yang sebelumnya ada di Gaza utara sebelum penarikan Israel dari wilayah itu pada 2005.
Pos terdepan Nahal merupakan kelompok pemukiman yang terkait dengan militer dan secara historis digunakan untuk mendirikan permukiman baru sebelum berkembang menjadi komunitas sipil.
Katz mengklaim langkah tersebut diperlukan demi alasan keamanan.
Baca selengkapnya >>>
Ketegangan di Timur Tengah semakin meluas setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara ke wilayah Yaman, Senin (13/7/2026).
Serangan Arab Saudi ke Yaman ternyata mendapatkan dukungan langsung dari Amerika Serikat (AS).
Hal itu diungkapkan langsung oleh dua pejabat senior AS yang menyebut Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) sempat melakukan panggilan telepon dengan Presiden Donald Trump.
Menurut laporan eksklusif Axios, MBS secara khusus menghubungi Trump via telepon untuk berkoordinasi dan meminta legitimasi politik dari Washington sebelum jet tempur Riyadh membombardir wilayah Yaman.
Langkah berani Arab Saudi ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam atas manuver udara Iran yang dicurigai menyuplai persenjataan canggih ke Houthi.
Serangan udara langsung ini langsung menghancurkan gencatan senjata rapuh yang sempat terjaga sejak tahun 2022, dan berpotensi menyeret kawasan tersebut ke dalam konflik bersenjata yang lebih masif.
Pemicu utama eskalasi berdarah ini adalah mendaratnya pesawat maskapai komersial Iran, Mahan Air, di Bandara Sanaa yang dikontrol ketat oleh Houthi.
Pesawat tersebut diketahui mengangkut delegasi Houthi yang kembali dari Teheran usai menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Baca selengkapnya >>>
Ketegangan politik di Amerika Serikat (AS) semakin memanas setelah Presiden Donald Trump kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut.
Langkah tersebut memicu gelombang kritik dari Partai Demokrat yang menilai operasi militer itu dilakukan tanpa persetujuan Kongres sehingga berpotensi menyeret Amerika Serikat ke dalam perang yang lebih luas di Timur Tengah.
Pemimpin Fraksi Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, menjadi salah satu tokoh yang paling keras mengkritik kebijakan tersebut.
Menurutnya, Presiden Amerika Serikat tidak memiliki kewenangan untuk memperluas konflik militer tanpa persetujuan Kongres yang secara konstitusional memiliki hak untuk menyatakan perang.
Schumer menegaskan bahwa Trump harus mematuhi keputusan DPR dan Senat yang sebelumnya telah mengesahkan Resolusi Kekuatan Perang atau War Powers Resolution pada Juni lalu.
Resolusi tersebut secara khusus mengarahkan pemerintah untuk menarik pasukan Amerika Serikat dari segala bentuk permusuhan langsung dengan Iran.
"Presiden harus mematuhi suara Kongres untuk menarik pasukan kita dari zona bahaya dan mengakhiri perang ini sekarang," kata Schumer, dikutip dari Al Jazeera.
Baca selengkapnya >>>
(Tribunnews.com)