BMKG Sebut Gorontalo Sudah 30 Hari Tanpa Hujan, Musim Kemarau Diprediksi Makin Kering
Wawan Akuba July 15, 2026 06:40 AM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap sebagian besar wilayah Provinsi Gorontalo kini telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 30 hari, menandai musim kemarau yang mulai menguat sejak Juli 2026.

BMKG memperkirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino yang masih aktif.

Kondisi tersebut juga meningkatkan potensi kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Baca juga: Rektor Univ Muhammadiyah Gorontalo Tegaskan Tak Ada Data Praktik LGBT di Lingkungan Kampus

Prakirawan Cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Gorontalo, Delas Ka'u, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan HTH Dasarian I Juli 2026 atau periode 1–10 Juli, sebagian besar wilayah Gorontalo didominasi kategori HTH panjang.

Lama hari tanpa hujan di sejumlah wilayah tercatat berkisar antara 21 hingga 30 hari.

"Kondisi ini menunjukkan frekuensi hujan terus menurun seiring berlangsungnya musim kemarau," ujar Delas saat dihubungi TribunGorontalo.com, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, musim kemarau di Gorontalo diprakirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

BMKG menilai musim kemarau tahun ini berpotensi terasa lebih kering dibandingkan biasanya karena diperkuat oleh fenomena El Nino.

Delas menjelaskan, berdasarkan pemantauan BMKG, nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) Nino 3.4 tercatat sebesar +1,88 pada skala dasarian dan +1,56 pada skala bulanan.

Nilai tersebut menunjukkan fenomena El Nino masih aktif dan memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia, termasuk Gorontalo.

"Fenomena El Nino menyebabkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo, menjadi berkurang," katanya.

Akibatnya, curah hujan diperkirakan berada di bawah kondisi normal sehingga musim kemarau berpotensi berlangsung lebih kering.

BMKG juga memperkirakan fenomena El Nino masih akan bertahan hingga awal 2027.

Meski demikian, Delas menegaskan hal tersebut tidak berarti musim kemarau berlangsung hingga tahun depan, melainkan pengaruh El Nino yang masih dapat memengaruhi pola cuaca.

BMKG mengingatkan masyarakat agar mulai mengantisipasi berbagai dampak musim kemarau, terutama berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan pada sektor pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.

Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijaksana serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara dibakar maupun membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang mudah terbakar.

Selain itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan meningkatkan langkah mitigasi menghadapi puncak musim kemarau agar dampak kekeringan dan potensi karhutla dapat diminimalkan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.