Stres Bisa Memicu GERD dan Maag? Dokter Jelaskan Hubungan Otak dengan Sistem Pencernaan
Febri Prasetyo July 15, 2026 09:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Banyak orang mengaitkan penyakit maag maupun GERD (gastroesophageal reflux disease) dengan kondisi stres.

Tak jarang, seseorang yang mengeluhkan asam lambung naik langsung ditanya, "Lagi banyak pikiran?" atau, "Sedang stres, ya?"

Dalam tayangan YouTube Tribun Health, menurut dokter spesialis gastroenterologi, hepatologi, dan endoskopi, Juanda Leo Hartono, anggapan tersebut memang memiliki dasar medis, terutama untuk penyakit maag.

Meski begitu, stres bukanlah satu-satunya penyebab gangguan lambung.

Apa Itu Maag?

Maag sebenarnya bukan nama penyakit tertentu, melainkan istilah umum yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan kumpulan gejala gangguan pada lambung.

Dalam dunia medis, keluhan ini sering dikaitkan dengan dispepsia, yaitu kondisi yang ditandai dengan nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati.

Maag dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti infeksi bakteri Helicobacter pylori, konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), pola makan yang tidak teratur, makanan pedas atau berlemak, konsumsi alkohol, hingga stres.

Apa Itu GERD?

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah penyakit yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus) secara berulang akibat melemahnya katup pemisah antara lambung dan kerongkongan (lower esophageal sphincter atau LES).

Berbeda dengan maag yang berpusat pada gangguan lambung, GERD lebih berkaitan dengan refluks atau naiknya isi lambung ke kerongkongan.

Baca juga: Pemeriksaan GERD: Kapan Perlu Endoskopi? Ini Penjelasan Dokter Spesialis

Jika tidak ditangani, GERD yang berlangsung lama dapat menyebabkan peradangan pada kerongkongan hingga meningkatkan risiko komplikasi tertentu.

Dulu Maag Diyakini Murni Akibat Stres

Juanda menjelaskan bahwa beberapa dekade lalu dunia kedokteran meyakini tukak lambung atau maag terutama disebabkan oleh stres.

Saat itu, belum banyak yang percaya bahwa infeksi bakteri dapat menjadi penyebabnya.

Perubahan besar terjadi ketika ditemukan bakteri Helicobacter pylori, yang terbukti berperan dalam menyebabkan tukak lambung.

Penemuan tersebut awalnya menuai keraguan dari banyak kalangan medis.

Untuk membuktikan teorinya, peneliti bahkan melakukan eksperimen dengan menelan bakteri tersebut.

Setelah dilakukan pemeriksaan endoskopi, ditemukan adanya luka pada lambung disertai keberadaan bakteri.

Bukti tersebut akhirnya mengubah pemahaman dunia medis mengenai penyebab penyakit maag dan mengantarkan penemunya meraih Hadiah Nobel.

Stres Tetap Berperan dalam Gangguan Lambung

Meski infeksi Helicobacter pylori kini diketahui sebagai salah satu penyebab penting tukak lambung, Juanda menegaskan bahwa stres tetap memiliki pengaruh terhadap kesehatan saluran cerna.

Menurutnya, kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan sehingga gejala maag bisa muncul atau menjadi lebih berat.

Hubungan Stres dengan GERD

Juanda mengatakan bahwa hubungan antara stres dan GERD juga memang ada.

"Tentunya ada berkaitan. GERD itu kan dekat juga dengan perut. Pengaruh stresnya juga memang ada. Jadi memang memang ada hubungan," kata Juanda dalam podcast Tribun Health di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Hal tersebut berkaitan dengan konsep yang dikenal sebagai brain-gut axis, yaitu jalur komunikasi dua arah antara otak dan sistem pencernaan.

Melalui mekanisme ini, kondisi emosional seperti stres dapat memengaruhi fungsi lambung dan saluran cerna.

Sebaliknya, gangguan pada sistem pencernaan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Karena itu, ketika seseorang mengalami stres, keluhan seperti nyeri ulu hati, rasa terbakar di dada, atau gejala asam lambung naik dapat menjadi lebih mudah muncul atau terasa semakin berat.

Namun, stres umumnya tidak menjadi penyebab utama GERD, tetapi faktor yang dapat memicu atau memperburuk gejalanya.

"Kita ada yang namanya brain-gut axis. Jadi selalu ada kontrolnya itu, fungsi-fungsi perut, fungsi pencernaan itu memang ada hubungan ke otak, kita bilang mind-nya itu yang stresnya itu," pungkasnya.

Stres Bukan Satu-satunya Penyebab

Walaupun stres memiliki hubungan dengan GERD dan maag, bukan berarti setiap kasus disebabkan oleh faktor psikologis.

Gangguan lambung dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti infeksi bakteri Helicobacter pylori, pola makan yang kurang baik, konsumsi obat tertentu, kebiasaan merokok, obesitas, kehamilan, serta gangguan pada katup antara lambung dan kerongkongan.

Oleh karena itu, penanganan GERD maupun maag sebaiknya dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya.

Selain menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, menjaga pola makan, mengelola stres, mempertahankan berat badan ideal, serta menerapkan gaya hidup sehat juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kambuhnya gejala.

(Tribunnews.com/Latifah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.