TRIBUNNEWS.COM - Spanyol membuktikan bahwa perjalanan menuju final Piala Dunia 2026 bukanlah hasil yang diraih secara instan.
Setelah sempat diragukan karena tampil kurang meyakinkan di fase grup, La Roja menjelma menjadi tim paling solid sepanjang fase gugur hingga akhirnya menyingkirkan Prancis 2-0 di semifinal, Rabu (15/7/2026).
Kemenangan atas Prancis bukan hanya mengantarkan Spanyol ke final, tetapi juga menjadi puncak dari perkembangan performa mereka sepanjang turnamen.
La Roja yang sempat tampil kurang meyakinkan di fase grup justru menjelma menjadi salah satu tim paling konsisten di babak gugur.
Kemenangan yang diraih Spanyol atas Prancis tidak hanya dari hasil akhir, tetapi juga dari segi permainan di mana tim asuhan Luis De La Fuente membuat Mbappe dan rekannya mati kutu untuk mencetak gol.
Ini adalah pertama kalinya Prancis gagal mencetak gol di Piala Dunia 2026. Padahal sejak awal babak penyisihan grup minimal menghasilkan dua gol per pertandingan, dan menghasilkan jumlah tepat sasaran terbanyak mereka sejak tahun 1998, menurut Opta.
Spanyol mampu menetralisir lini serang Prancis yang begitu produktif dengan lini pertahanan yang solid. Peluang gol yang diharapkan Prancis dalam laga ini hanya 0,30. "Spanyol mendominasi permainan dalam setiap aspek," ucap mantan gelandang Prancis, Patrick Vieira kepada ITV.
Selain kokoh saat bertahan, Spanyol juga tampil efektif dalam memanfaatkan peluang. Salah satunya melalui gol kedua Pedro Porro yang lahir dari skema serangan cepat dan pemanfaatan ruang kosong di belakang lini pertahanan Prancis.
"Secara taktik, mereka benar-benar menguasai Prancis," lanjut Vieira.
"Jika Anda melihat para pemain depan Spanyol, mereka bekerja sangat keras untuk mencegah para pemain Prancis menguasai bola," tambahnya.
Keberhasilan Spanyol juga membuktikan mereka tidak hanya bergantung pada Lamine Yamal. Luis de la Fuente mampu membangun tim dengan kekuatan kolektif, di mana ancaman bisa datang dari berbagai lini.
"Spanyol, apakah mereka masih mengandalkan tiki-taka? Jawabannya iya, tetapi mereka saat ini juga tidak segan untuk bermain lebih vertikal, lebih direct ke depan ketika ada ruang," kata Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Hal itu yang berubah dari mereka setelah hancur total di Piala Dunia 2014," sambungnya.
Performa impresif Spanyol di semifinal bukanlah kebetulan. Tanda-tanda kebangkitan mereka sudah terlihat sejak memasuki fase gugur. Football Enthusiast Raka Kisdiyatma bahkan menilai peningkatan permainan La Roja mulai tampak setelah fase grup.
"Setelah di fase grup tampil kurang meyakinkan, tetapi memasuki babak knockout Spanyol mulai bermain lebih meyakinkan," ujar Raka Kisdiyatma dalam podcast Super Taktik Tribunnews di episode "Plot Twist 16 Besar Piala Dunia 2026, Adakah Kejutan?"
Sebelum fase gugur, Spanyol mengawali langkah melawan tim debutan Cape Verde dengan skor imbang tanpa gol. Sebuah hasil yang cukup mengejutkan bagi tim Matador.
Spanyol melepaskan 27 tembakan, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil menembus jala yang dijaga Vozinha.
Saat melawan Arab Saudi, Lamine Yamal menandai debutnya sebagai starter di Piala Dunia 2026, setelah main dari bangku cadangan saat melawan Cape Verde.
Hanya butuh 10 menit bagi Yamal untuk membuka mencetak gol.
Dia tercatat sebagai pencetak gol termuda kedua Spanyol di putaran final Piala Dunia dengan usia 18 tahun 343 hari. Gol yang menjadi satu-satunya sampai babak final.
Pada laga terakhir fase grup melawan Uruguay, Spanyol harus bekerja keras sebelum akhirnya menang lewat gol Alex Baena yang memanfaatkan kesalahan Fernando Muslera.
Gol Baena mengantarkan Spanyol sebagai juara grup dan menghadapi Austria di babak berikutnya 32 besar.
Pada tahap ini, konsistensi itu mulai terlihat. Penampilan yang meyakinkan dan lini pertahanan yang solid membuat Spanyol menang 3-0 atas tim asuhan Ralf Rangnick.
Intensitas permainan La Roja meningkat dari tiga pertandingan fase grup, dan mereka sukses mencatatkan lima cleansheet berturut-turut di Piala Dunia.
Kiper Spanyol, Unai Simon melewati rekor Walter Zenga (Italia) yang bertahan tanpa kebobolan selama 517 menit sejak tahun 1990.
Saat di babak 16 besar, Spanyol menghadapi lawan berat Portugal. Tidak ada gol yang terjadi selama waktu normal sebelum Merino masuk menggantikan Dani Olmo (85').
Masuk pada menit ke-85, Merino hanya membutuhkan enam menit untuk menjadi pahlawan kemenangan melalui kombinasi apik dengan Ferran Torres.
Gol yang dicetak Merino serupa dengan gol Pedro Porro saat mengalahkan Prancis dengan memanfaatkan bola pantulan dari rekannya dan mengeksploitasi ruang kosong di belakang lini pertahanan.
Pemain Arsenal itu juga tampil sebagai penyelamat Spanyol saat mengatasi perlawanan Belgia.
Dimainkan Luis De La Fuente pada menit ke-86, Merino hanya butuh dua menit untuk mencatatkan namanya di papan skor pertandingan.
Kali ini Spanyol menang dengan skor 2-1. Balas kekalahan La Roja dibayar tunai dari pertemuan empat dekade silam pada Piala Dunia 1986 di Meksiko saat kalah melalui adu penalti.
Puncak perkembangan Spanyol akhirnya terlihat saat menghadapi Prancis. La Roja tampil matang, disiplin, dan mampu membungkam tim paling produktif sepanjang turnamen.
Total dalam tujuh pertandingan, Spanyol baru kebobolan satu gol.
Mereka bisa mencatatkan hasil yang lebih baik dari juara dunia tahun 2010 silam saat merengkuh trofi emas dengan kebobolan dua gol sepanjang turnamen.
Spanyol akan menantikan pemenang antara Inggris vs Argentina yang akan berlangsung di Stadion Atlanta pada Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB untuk berlaga di babak final Piala Dunia.
(Tribunnews.com/Sina)