TRIBUNPEKANBARU.COM - 3 Satresnarkoba Polres Katingan, Kalimantan Tengah gugur saat menggerbek bandar narkoba.
Peristiwa itu terjadi di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah pada Kamis (2/7/2026) dini hari.
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) sudah mendatangi lokasi penggerebekan tersebut.
Lokasi penggerebekan berada di wilayah terpencil yang berbatasan langsung dengan jalur perairan sungai dan area hutan.
Ketiga anggota yang meningal yakni Aipda Yudhie Perdana Putra, Bripda Nopandri Ramadhana, dan Aiptu Sumariyanto.
Aipda Yudhie Perdana Putra meninggal di lokasi kejadian, sedangkan dua korban lainnya ditemukan tewas tiga hari kemudian.
Kini, sembilan pelaku penganiayaan telah ditangkap termasuk tiga bandar sabu, yakni Bio, Ramblan dan Perie.
Salah satu pelaku diduga merupakan anak Kepala Desa dan Anggota Dewan.
Kakak Bripda Nopandri, Santri Sutrisna, menyerahkan dan mempercayakan seluruh proses penegakan hukum kepada SOP kepolisian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Baca juga: Kronologi Hilangnya Dokter Residen Alex Sebelum Ditemukan Tewas di Semak Samping RSUD Siak
Baca juga: Jadi Saksi Membela Gubernur, KSBSI Kampar Meminta PTUN Menolak Gugatan Terhadap UMSK Sawit
"Harapan saya, pelaku-pelaku yang ada ini dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Narkoba itu sangat merusak generasi kita ke depan."
"Kami meminta aparat segera menjerat jaringannya agar dibasmi habis, jangan sampai merusak yang lain seperti ini," ucapnya, dikutip dari YouTube Tribunnews.com dalam program Saksi Kata pada Selasa (14/7/2026).
Ia memberikan kesaksian mengharukan mengenai komunikasi terakhir almarhum serta dampak psikologis berat yang kini dihadapi oleh kedua orang tuanya.
Semasa hidup, Bripda Nopandri adalah sosok pemuda yang sangat mandiri dan bertanggung jawab.
Menjadi seorang prajurit Korps Bhayangkara merupakan cita-cita besar yang diimpikannya sejak lulus dari SMA.
Kegigihannya terbukti setelah ia rela menempuh dua kali proses seleksi hingga akhirnya dinyatakan lulus dan resmi berdinas pada tahun 2022, tepat setelah situasi pandemi Covid-19 mereda.
Sebelum berangkat menuju lokasi penggerebekan yang menjadi tugas terakhirnya, Bripda Nopandri diketahui sempat menghubungi ayah dan ibunya.
Bagi keluarga, memberikan kabar sebelum bertugas ke lapangan sudah menjadi kebiasaan rutin almarhum.
Rumah almarhum yang terletak di Kasongan pun kebetulan dibangun berdampingan dengan kediaman orang tuanya, sehingga hubungan mereka sangat dekat.
"Iya, dia ada ngabarin ke bapak dan ibu, pasti ada. Ada memang kemarin bilang memang adik ini ke hulu tugas."
"Saya kira kan tugas biasa-biasa aja, kami tidak menyangka akan ada musibah seperti ini," katanya.
Pihak keluarga mengaku tidak mendapatkan firasat buruk apa pun saat melepas kepergian Bripda Nopandri.
Mereka menganggap tugas tersebut sebagai kewajiban dinas kepolisian pada umumnya, hingga akhirnya kabar duka mengenai gugurnya almarhum di area hulu Katingan datang mengejutkan seluruh keluarga.
Sang ibunda dilaporkan sempat mengalami syok berat saat pertama kali mendengar informasi tersebut.
Mengenai kondisi fisik jenazah maupun dugaan adanya luka akibat senjata tajam saat penggerebekan, pihak keluarga memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh.
Mereka menyatakan menghormati prosedur hukum dan menyerahkan sepenuhnya rincian medis kepada hasil autopsi resmi yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Bhayangkara.
Jenazah Bripda Nopandri telah dievakuasi dari lokasi penemuan dan langsung dibawa menuju rumah duka di Kasongan, Katingan.